Jumat, 9 Desember 22

Tabah Sampai Akhir

Oleh: Ary Ginanjar AgustianMotivator dan Pendiri ESQ Leadership Center

Pertempuran dari para master itu berlangsung. Namun dalam peristiwa yang hanya sekejap itu, bisa menohok jantung siapapun yang menyaksikannya. Hal itu terjadi dalam final judo kelas berat, dalam momentum sebesar olimpiade musim panas 1984 di Los Angeles USA. Atlet mana yang tidak ingin jadi juara olimpiade. Medali tertinggi dalam cabang olahraga, yang dipersembahkan untuk negara tercinta.

Drama itu dimainkan oleh dua judoka terbaik dunia, Yamashita Yasuhiro dari Jepang dan Muhamed Ali Rashwan dari Mesir, yang berhadapan sebagai musuh di atas matras.

Yamashita harus berjuang ekstra keras sebelum masuk ke final. Dalam perempat final, saat berhadapan dengan Arthur Schnabel sang juara Jerman, Yamashita harus mengalami cedera berat. Sekalipun dia memenangi ronde itu, namun otot betis kanannya robek terkoyak.

Dengan cedera separah itu, siapapun bahkan rakyat Jepang pasti mampu memahaminya dan memaafkan, jika dia terpaksa mundur dari pertandingan. Namun itulah yang menjadi pembeda. Yamashita memutuskan untuk menahan rasa sakitnya, dan terus maju ke pertandingan berikutnya.

Babak semifinal melawan pejudo dunia tangguh lainnya, Laurent Del Combo. Berjalan memasuki arena dibantu sang pelatih, dengan kaki kanan yang terpaksa diseret. Lalu kedua jagoan tadi saling membungkuk menghormat, dan wasit  berteriak … hajime ! Mulai bertanding …!!!

Yang dikhawatirkan banyak orang memang terjadi. Yamashita yang cenderung kidal, mengandalkan kaki kanannya sebagai tumpuan saat melakukan bantingan atau lemparan. Terutama saat dia melakukan jurus andalannya, yaitu bantingan osotogari yang mematikan itu. Laurent hanya butuh waktu 30 detik untuk menghempaskan Yamashita ke kanvas, dengan jurus osotogari yang sama.

Yamashita hanya meringis kesakitan saat kembali bangkit. Siksaan rasa sakit karena otot yang terkoyak di betis kanannya, plus siksaan karena dia kini tertinggal satu poin wazaari dari lawannya. Pilihannya dia mundur karena cedera semakin parah, atau dia menahan rasa sakit dan meneruskan pertandingan sampai akhir. Yamashita memilih opsi kedua.

Akhirnya dengan susah payah, Yamashita berhasil memasukkan jurus andalannya. Osotogari pada Laurent, sehingga skor menjadi satu satu. Pada momen teramat kritis itu, dengan sisa tenaga, Yamashita berhasil mengambil lawannya dengan jurus Yoko-Shiho-Gatame, sehingga skor 2 – 1 untuk Yamashita.

Konskuensi dari kemenangan di babak semifinal, membuat robekan ototnya semakin membesar. Memaksa kaki kanan yang cedera parah sebagai pusat tumpuan bantingan, hanya membuat Yamashita nyaris sulit untuk berdiri, apalagi berjalan normal. Harga yang sangat mahal, demi mencapai tujuan memasuki babak final di arena olimpiade.

Di babak final menunggu raksasa dari Mesir, Mohamed Ali Rashwan, yang dengan mulus mengalahkan pejudo-pejudo kelas dunia tangguh lainnya. Lawan yang sungguh tak mudah untuk dikalahkan.

Hanya dengan cara berjalan menyeret kaki kanannya, Yamashita mampu kembali berdiri tegak di atas arena. Dalam keadaan terluka parah, dia dihadapkan para peristiwa to be or not to be. Its now or never . Lalu drama itu terjadi …

Pertarungan keduanya diwarnai bukan dalam posisi berdiri, namun dengan cara newaza, alias bergumul di atas matras. Pada detik ke-50 itulah Yamashita mampu melakukan kuncian yang membuat Rashwan tak berkutik. Wasit menghentikan pertandingan, seraya memberikan kemenangan ippon, alias mutlak pada Yamashita.

Pertandingan dan kisah perjalanan karier seorang legenda judo terbesar dunia. Sebuah cerita dari militansi dan tak kenal mundur dan menyerah. Sebuah contoh bagaimana jargon tabah sampai akhir diimplementasikan dengan sempurna. Menjadi pembeda saat arus mainstream menyatakan harus mundur karena cedera menganga. Namun Yamashita menolak, karena di balik kesakitan itu terdapat tanggung jawab, yaitu wakil kebanggaan bangsanya, masyarakat Jepang.

Yasuhiro Yamashita yang melegenda. Sudah mencapai sabuk hitam sejak SMP, juara Jepang di usia 19 tahun, saat dia mulai kuliah di Universitas Tokai. Mundur sebagai atlet 9 tahun kemudian, di usianya yang ke 28. Selama itu dia menjadi juara jepang 9 tahun berturut-turut. Juara dunia 3 kali, dan yang terakhir menjadi juara olimpiade. Dalam kurun waktu itu dia melakukan 203 kali pertandingan, tanpa pernah kalah sekalipun. Sebuah rekor statistik yang belum ada duanya. Sehingga sungguh menjadi sosok yang patut ditiru, dan menjadi sangat wajar ketika kini dia diangkat menjadi direktur bidang pendidikan di Federasi Judo Dunia.

Nun jauh di Alexandria, Mesir ….

Muhamed Ali Rashwan, setiap kali melihat rekaman pertandingan final itu, matanya berkaca-kaca. Sebuah rasa haru yang sudah pada tempatnya, seperti ungkapannya … “Pada tahun 1984, saya terpilih untuk mewakili negara saya di Olimpiade di Los Angeles. Saya tahu bahwa dalam kategori saya, orang yang harus dikalahkan adalah Yasuhiro Yamashita dan saya sedang bermimpi bertemu dengannya di final Olimpiade. Setiap usaha untuk menurunkan dia. Dia adalah ikon sejati untuk semua judoka pada saat itu.“

Saat wartawan memburunya seusai drama difinal itu, dan bertanya apakah Rashwan tak tahu bahwa Yamashita sudah cedera parah pada kaki kanannya. Sehingga secara taktis Rashwan bisa memusatkan serangan pada kaki terlemah itu, dan memenangi perlombaan, seraya merenggut medali kebanggaan setiap atlet dan negara …. medali emas olimpiade.

Rashwan menjawa …. “Sebenarnya, saya tidak menginginkan kemenangan seperti ini. Saya tidak ingin orang bisa mengatakan suatu hari bahwa saya menang karena Yamashita terluka. Aku tidak bisa menerimanya untuk diriku sendiri.”

Hal itu bukan sekadar ucapan, namun dalam perbuatan nyata.

Rashwan sebagai judoka kelas dunia tahu persis. Bila ingin menang, harus mengambil keuntungan dari kelemahan lawan. Teknik bertanding dengan cara tetap berdiri, lalu menghajar kaki yang yang cedera, adalah metoda yang paling masuk akal. Namun Rashwan tak sudi melakukan itu.

Rashwan bertanding dengan Yamashita, bukan sekadar dengan akalnya. Dia menggunakan hati, perasaan dan nuraninya ! Jiwa sportivitasnya menolak untuk menyerang kaki Yamashita, yang pasti akan memperburuk koyakan luka yang akan semakin parah. Rashwan lalu memilih bertanding dengan cara newaza, yaitu bergumul di bawah. Sebab dengan cara itu, maka kaki Yamashita akan berkurang bebannya. Sebaliknya cengkraman, pitingan dan kuncian tangan akan lebih dimaksimalkan. Pilihan yang “salah” dari Rashwan, karena Yamashita juga memang master dalam hal newaza.

Mata Rashwan yang berkaca-kaca itu, bukan karena penyesalan akibat pilihan “salah”-nya di final. Sekalipun dia pulang dengan merelakan medali emas pada Yamashita. Namun Rashwan membawa pulang sebuah medali lainnya, yang dikeluarkan oleh Komite Fair Play Internasional. …. Medali emas Fair-Play atas jiwa sportivitasnya dalam babak final olimpiade… !!!. Medali puncak kebanggaan setiap atlet, yang tahu persis arti dari kejujuran dan keadilan dalam setiap pertandingan. (***)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.