Minggu, 2 Oktober 22

Syirik Dosa Tak Terampunkan

Syirik Dosa Tak Terampunkan
* KH Luthfi Bashori. (Foto: dutaislam)

 

Taushiah: KH. Luthfi Bashori
Transkrip: Rizal Affandi

Allah SWT melarang umat manusia untuk berbuat kemusyrikan atau penyekutuan terhadap Allah, sebagaimana di dalam Alquran disebutkan:

فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Janganlah kalian mengada-ngadakan sekutu bagi Allah sedangkan kalian mengetahuinya”

Ini tertera dalam surat Al Baqarah, jadi orang yang menyekutukan Allah itu dilarang dalam syariat Islam dan ini sangat membahayakan aqidahnya.

Karena orang yang menyekutukan Allah itu, tidak akan diampuni dosa-dosanya sampai kapanpun, karena itu pula Allah SWT mengingatkan manusia dalam firmannya-Nya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ

“Sesungguhnya Allah itu tidak akan mengampuni perbuatan Syirik kepada-Nya, dan Allah akan mengampuni segala macam dosa-dosa bila Dia menghendakinya”

Ayat ini menandakan bahwasanya dosa syirik itu adalah dosa yang paling besar, yang tidak akan diampuni oleh Allah selama-lamanya, selagi orang yang berbuat Syirik itu tidak bertaubat.

Demikian juga dengan orang yang membantu perbuatan syirik, misalnya kalau ada orang akan menyembah Tuhan selain Allah, entah itu berupa patung atau keyakinan terhadap roh-roh, atau jin-jin penunggu, semacam Nyi Roro Kidul yang dianggap sebagai penunggu Pantai Selatan, atau juga dewa-dewa yang disembah selain Allah, yang semuanya itu adalah perbuatan syirik.

Demikian juga jika ada orang yang membantu atau men-support, atau menyediakan alat-alat untuk berbuat kesyirikan, maka Allah akan murka kepadanya, dan si pembantu perbuatan syirik itu, digolongkan termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah.

Jadi kita harus hati-hati, jangan sampai dalam kehidupan kita, melakukan penyekutuan terhadap Allah, atau berbuat Syirik kepada-Nya.

Karena perbuatan itu sangat nista dan termasuk kedhaliman yang sangat nyata.
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya kesyirikan terhadap Allah itu termasuk dosa yang sangat besar.

Lantas bagaimana bila ada orang yang telah menyekutukan Allah, atau membantu persekutuan terhadap Allah ternyata ingin bertaubat?

Maka orang tersebut harus meninggalkan perbuatannya untuk selama-lamanya, dan berjanji tidak akan mengulangi, kemudian dia benar-benar menghambakan diri hanya kepada Allah, serta kembali mengucapkan dua kalimat syahadat.

Jika sudah melakukan yang demikian, niscaya orang tersebut dianggap telah bertaubat kepada Allah.

Untuk langkah berikutnya, hendaklah tetap memperbanyak membaca istighfar, banyak beribadah kepada Allah.

Insyaallah Allah akan menjanjikan ampunan bagi dirinya sebagaimana di dalam firman-Nya:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, jangan putus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah itu akan mengampuni segala macam dosa, sesungguhnya Dia itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Ayat ini menandakan masih ada harapan bagi orang yang pernah menyekutukan Allah itu, selagi masih hidup, lantas ia bertaubat kepada Allah SWT dengan sunggah-sungguh.

Tapi andaikata ia mati dalam keadaan musyrik, atau saat membantu dalam kesyirikan, pasti dia akan menyesal selamanya dan tempatnya pun di neraka Jahanam.

Mudah-mudahan kita bisa menjaga aqidah kita, jangan sampai dalam kehidupan kita ini, melakukan perbuatan syirik, atau menyekutukan Allah atau ridha terhadap kesyirikan.

Karena dikatakan: “Ridha terhadap kekufuran itu hukumnya kufur dan ridha terhadap kesyirikan itu hukumnya syirik.”

Mari kita jaga aqidah kita, agar benar-benar saat kelak kita pulang kepada Allah, dalam keadaan beriman kepada-Nya. (*)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.