Sabtu, 31 Oktober 20

Syariat dan Budaya

Syariat dan Budaya

Oleh: Ustadz Felix Siauw, Pengemban Dakwah

 

Syariat itu apapun yang Allah perintahkan pada manusia, maka tiap syariat pasti ada syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, juga ada tujuan untuk apa diperintahkan.

Dan apapun perintah Allah itu tidak bisa ditawar dari segi niat dan juga tata cara pelaksanaanya. Bila niatnya ikhlas karena Allah dan sesuai sunah Nabi, itu amal saleh.

Adapun ekspresi, perantaraan, jalan yang ditempuh dalam melakukan satu amal saleh, itu disebut dengan budaya. Dan ini lumrah, biasa dan sangat manusiawi.

Misalnya menutup aurat, ini syariat dari Allah, detail dijelaskan dalam Al-Qur’an tentang batasan aurat, dan tata cara untuk menutup aurat pun diarahkan Nabi.

Bagi Muslimah rinci sekali, pakaian menutup aurat dibedakan antara pakaian atas dan pakaian bawah, pakaian rumah dan pakaian luar rumah, dan seterusnya.

Tapi ekspresi dalam menutup aurat ini bisa bermacam-macam, inilah budaya. Dan budaya ini sangat bervariasi tergantung waktu, tempat, kondisi dan lain hal.

Di Arab mungkin mereka mengenakan jubah, sebab itu budaya mereka, juga sorban. Lain lagi di Indonesia yang berekspresi dengan baju batik dan peci hitam.

Muslimah Jazirah berekspresi dengan warna-warna gelap untuk menutupi auratnya, sementara di Asia budayanya lebih terang dan kaya dengan warna dan rasa.

Tapi kesemuanya, asal sesuai dengan syariat yang diatur Allah, serta ikhlas hanya karena Allah, tak melanggar kitabullah dan sunah, maka itu satu hal yang lumrah.

Maka bagi saya tidak ada keutamaan jubah dibanding batik, itu hanya bagian ekspresi saja dalam menjalankan syariat. Saleh tak harus berjubah, berjubah tak pasti saleh.

Yang salah bila kita nyinyir pada yang berjubah, memandang rendah pada yang berbatik. Padahal semua ketentuan syariat sudah dipenuhi dengan pakaiannya.

Bagaimana membedakan mana syariat dan mana budaya? Yuk Ngaji, tahan lisan sebelum belajar, memahami dan mengerti. Bisa jadi ada banyak yang kita belum tahu.

Syariat itu pasti benarnya karena dari Allah, tapi tak semua budaya itu harus ditolak atau harus diterima. Nilailah dengan ilmu, jangan nilai dengan sangkaan.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.