Sabtu, 25 September 21

Syarat Kelaikan Kapal Kurang

Syarat Kelaikan Kapal Kurang
* Tim uji petik menemukan life jacket pada satu tempat, tidak berada dekat dengan posisi penumpang KM Kirana XI. Bahkan, lampu pada alat keselamatan penumpang tersebut tidak berfungsi. (Foto: Ari Armadianto/Obsessionnews.com)

Surabaya, Obsessionnews – Selama pemeriksaan uji petik dilaksanakan di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, diketahui masih banyak operator kapal sebagai penyedia jasa maupun masyarakat sebagai pengguna jasa masih belum menyadari pentingnya keselamatan selama dalam pelayaran.

Kepala Bagian Tata Usaha/Humas Syahbandar Utama Tanjung Perak Marzuki mengatakan, uji petik yang dilakukan secara acak terhadap 36 kapal penumpang, kapal penyeberangan serta ro-ro ferry, sampai dengan saat ini telah melakukan pemeriksaan terhadap pemenuhan persyaratan kelaiklautan.

“Hasilnya, tim uji petik (Biro Klasifikasi Indonesia/BKI dan Kantor Kesyahbandaran Utama Tanjung Perak) menemukan kekurangan pemenuhan persyaratan kelaiklautan kapal,” ungkapnya, Kamis (25/6/2015).

Pantuan di lapangan, beberapa pelanggaran atau kekurangan pemenuhan terhadap standar keselamatan kapal KM Kirana IX, ditemukan penempatan dan pemasangan rakit penolong kembung (inflatable liferaft), tidak dilakukan sesuai prosedur penempatannya. Misalnya pada pemasangan tali painter dan Hydrostatic Release Unit (HRU) dilakukan kurang benar, penahan dudukan rakit (cradle stopper) yang sudah tidak dapat digerakkan dan dibuka akibat karat, dan juga ditemukan beberapa tali painter yang hilang.

Terhadap pelanggaran yang ditemukan, tim uji petik memerintahkan untuk dilakukan perbaikan pada saat itu juga. Selain kekurangan tersebut, ditemukan juga kekurangan pada beberapa kapal, di mana tombol alarm pemadam kebakaran yang dihidupkan secara manual (fire alarm manual activation), tidak dapat dihidupkan. Serta tidak berfungsinya alat pendeteksi kebakaran (fire detector) yang disebabkan oleh setting yang tidak tepat (tidak direset kembali setelah pendeteksian terakhir).

Marzuki menjelaskan, di beberapa kapal lainnya ditemukan juga ditemukan jaket penolong (life jacket) yang dikumpulkan pada satu tempat (lemari) yang dikunci dan tidak berada dekat dengan posisi penumpangnya, dikarenakan kekhawatiran operator kapal terhadap pencurian yang dilakukan oleh penumpang.

“Kami akan amat ketat. Kalau satu saja item keselamatan tidak dipenuhi, maka kapal tidak akan diberangkatkan. Kita tidak boleh bermain-main dalam urusan keselamatan, karena menyangkut nyawa orang. Apalagi di angkutan Lebaran, mengangkut begitu banyak penumpang,” tegasnya.

Untuk pelanggaran-pelanggaran tersebut, Marzuki menghimbau kepada seluruh pengguna jasa untuk ikut berpartisipasi dalam menjaga peralatan keselamatan di atas kapal. Ini sekaligus menyadarkan para pengguna jasa, bahwa terwujudnya keselamatan kapal dan pelayaran sebagai suatu keadaan terpenuhinya persyaratan minimal keselamatan.

“ Jadi bukan hanya merupakan tanggung jawab operator atau pemilik kapal ataupun pemerintah (regulator), tetapi juga merupakan pengguna jasa (user) sebagai bagian dari tanggung jawab bersama,” pungkasnya. (arm)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.