Jumat, 10 Juli 20

Survei Indikator Tunjukkan Ada Gejolak Anomali Parpol di Pilpres 2019

Survei Indikator Tunjukkan Ada Gejolak Anomali Parpol di Pilpres 2019
* Salah satu skema survei Indikator tentang keterampilihan capres dari segi wilayah.

Jakarta, Obsessionnews.com – lembaga survei Indikator merilis kecenderungan masyarakat saat ini dalam memilih tidak satu paket yang sama. Misalnya pemilih partai politik belum tentu menyesuaikan pilihan capres-cawapres sesuai yang diusung parpol pilihannya. Seperti halnya kader parpol yang tidak semua mendukung capres yang secara resmi diusung oleh partainya.

“Secara umum, partai-partai yang berada di koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf masih banyak yang mendukung pasangan ini, di atas 50 persen. Akan tetapi memang ada variasinya itu masing-masing partai,” kata peneliti senior Indikator Rizka Halida di kantornya, Jalan Cikini V, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (23/1/2019).

“PDIP 90,1 persen mendukung Jokowi-Ma’ruf sementara 6 persen mendukung Prabowo-Sandi. Sementar PPP mengalami split ticket voter paling besar, 53,7 persen mendukung Jokowi-Ma’ruf sementara 43,2 persen mendukung Prabowo-Sandi,” tambahnya.

Anomali perbedaan pemilih di masyarakat membuat parpol semakin pusing karena tidak mampu menyatukan kadernya. Kecenderungan perbedaan pemilih juga dialami oleh koalisi Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Tak semua kader partai pendukung Prabowo solid mendukung capres yang dicalonkan partainya.

Gerindra menjadi partai paling solid mendukung dan Berkarya menjadi partai yang paling banyak terbelah suaranya, disusul oleh Demokrat yang tidak sepenuhnya mendukung Prabowo.

“Kalau di koalisi Prabowo-Sandi ini yang paling solid dukungannya adalah pemilih Gerindra di mana 81,5 persen pemilih Gerindra mendukung Prabowo-Sandi. Yang paling tidak solid Partai Berkarya, terbelah dukungannya ke Jokowi-Ma’ruf. Yang cukup banyak juga adalah dari Partai Demokrat, 40,5 persen lebih banyak yang memilih Jokowi-Ma’ruf,” paparnya.

Penyebab Perbedaan Pemilih

Berdasarkan survei Indikator terkait pemilih dari parpol yang memberikan suara kepada pasangan calon lain yang tidak diusung partainya (split ticket voting), salah satunya karena adanya isu personal. Isu miring yang menyerang personal masing-masing capres rupanya masih mempengaruhi pemilih.

Isu personal yang menerpa capres Joko Widodo (Jokowi) yaitu terlahir dari orang tua non-Islam, isu Jokowi beretnis China/Tionghoa, isu Jokowi lebih memihak kelompok China/Tionghoa, hingga isu keterkaitan Jokowi dengan PKI. Sementara, isu personal yang menerpa capres Prabowo Subianto yaitu soal keterlibatan dalam kasus penculikan aktivis 1998.

“Isu personal Jokowi yang dikaitkan dengan isu keturunan PKI dan sebagainya. Sementara isu Prabowo mengenai keterlibatan dalam kasus ’98. Untuk basis koalisi Prabowo-Sandi lebih besar terbelah pada kelompok yang tidak tahu isu personal Jokowi,” kata peneliti senior Indikator Rizka Halida.

Survei dilakukan pada 16-26 Desember 2018 terhadap 1.220 responden. Populasinya seluruh warga yang memiliki hak pilih. Survei dilakukan menggunakan metode multistage random sampling. Margin of error survei +/- 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Berikut ini persentase konstituen partai Koalisi Indonesia Kerja yang memilih Prabowo-Sandi:

PDIP: 6,0 persen
Partai Golkar: 31,2 persen
PKB: 27,0 persen
Partai NasDem: 27,8 persen
PPP: 43,2 persen
Partai Hanura: 39,6 persen
Partai Perindo: 27,9 persen
PSI: 8,1 persen
PKPI: 0,0 persen

Berikut ini persentase konstituen partai Koalisi Indonesia Adil Makmur yang memilih Jokowi-Ma’ruf:

Partai Gerindra: 14,1 persen
PKS: 21,1 persen
PAN: 26,0 persen
Partai Demokrat: 40,5 persen
Partai Berkarya: 42,1 persen
(Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.