Rabu, 1 Desember 21

Surat Penangkapan Novel, Buwas: Tak Ada Surat Perintah dari Saya

Surat Penangkapan Novel, Buwas: Tak Ada Surat Perintah dari Saya

Jakarta, Obsessionnews – Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polri, Komjen Pol Budi Waseso mengaku tidak mengeluarkan surat perintah untuk menangkap penyidik KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Novel Baswedan pada Jumat (1/5/2015).

“Tidak ada surat perintah dari saya,” ujar Buwas, sapaan akrab Budi Waseso, di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (4/5).

Bahkan, Buwas sendiri mengetahui Novel akan ditangkap dari para penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum. “Yang ada tim menyampaikan ke saya bahwa akan ada itu (penangkapan),” kisah Kepala Bareskrim.

Menurutnya, penangkapan hingga penahanan terhadap penyidik KPK merupakan keputusan dari penyidik.

Sekedar diketahui, Novel ditangkap penyidik Bareskrim di rumahnya, Jumat (1/5/2015) dini hari. Surat perintah penangkapan Novel dengan Nomor SP.Kap/19/IV/2015/Dittipidum memerintahkan untuk membawa Novel Baswedan ke kantor polisi.

Surat tersebut memerintahkan untuk segera dilakukan pemeriksaan karena diduga keras melakukan tindak pidana penganiayaan yang mengakibatkan luka berat dan atau seseorang pejabat yang dalam suatu perkara pidana menggunakan sarana paksaan, baik untuk memeras pengakuan maupun untuk mendapat keterangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 351 ayat (2) KUHP dan atau pasal 422 KUHP Jo Pasal 52 KUHP yang terjadi di Pantai Panjang Ujung Kota Bengkulu tanggal 18 Februari 2004 atas nama pelapor Yogi Hariyanto.

Surat tertanggal 24 April 2015 itu ditandatangani Direktur Tindak Pidana Umum selaku penyidik Brigadir Jenderal Herry Prastowo. Sedangkan yang menyerahkan surat adalah AKBP Agus Prasetoyono dengan diketahui oleh ketua RT 003 Wisnu B dan ditandatangai pada Jumat, 1 Mei 2015.

Kasus tersebut pernah mencuat saat terjadi konflik KPK vs Polri pada 2012 saat Novel menjadi penyidik korupsi pengadaan alat simulasi roda dua dan roda empat di Korps Lalu Lintas (Korlantas) tahun anggaran 2011 dengan tersangka Inspektur Jenderal Pol Djoko Susilo.

Pada 2004, ada anak buah Novel yang melakukan tindakan di luar hukum yang menyebabkan korban jiwa. Novel yang mengambil alih tanggung jawab anak buahnya dan ia pun sudah mendapat teguran keras. (Purnomo)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.