Kamis, 9 Desember 21

Sultan Yogya Persiapkan ‘Putri Mahkota’

Sultan Yogya Persiapkan ‘Putri Mahkota’
* Putri sulung Sri Sultan diubah namanya dari GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng Ing Mataram. (BBC Indonesia)

Yogyakarta – Raja Keraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Bawono X, sedang menurunkan kekuasaannya sebagai raja kepada putri sulungnya, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi, kata seorang akademisi Universitas Gadjah Mada.

Bayu Dardias, dosen Politik dan Pemerintahan UGM yang sedang menyusun berjudul Politik Keistimewaan di Yogyakarta Harta, Takhta dan Perebutan Kuasa, mendasari penilaiannya dengan langkah Sri Sultan dalam mengeluarkan sabda raja dan dhawuh raja.

“Dengan mengeluarkan sabda raja, Sri Sultan sedang menyingkirkan hambatan-hambatan kultural yang menghalangi putrinya untuk menjadi sultan. Kemudian jelas sekali pada 5 Mei, Sri Sultan memberi gelar baru yang biasa diperuntukkan bagi putra mahkota,” kata Bayu kepada wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan.

Hambatan yang dimaksud, antara lain, menyempurnakan keris Kiai Ageng Kopek dan Kiai Ageng Joko Piturun. Keris Kiai Kopek ialah keris yang dipegang Sultan, sedangkan putra mahkota memakai keris Kiai Joko Piturun.

“Dengan menyebut kata menyempurnakan, yang juga bisa bermakna mengistirahatkan dalam bahasa Jawa, Sultan tidak akan memakai dua keris itu lagi. Ini sebenarnya mengindikasikan penerus sultan adalah perempuan karena keris hanya untuk laki-laki,” kata Bayu.

Sabda Raja 30 April
– Mengubah nama menjadi Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Bawono Ingkang Jumeneng Kasepuluh Suryaning Mataram Senopati Ing Ngalaga Langgenging Bawono Langgeng Langgenging Tata Panatagama. Sebelumnya nama Sultan ialah Ngarsa Dalem Sampeyan Salem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senapati Ing Ngalaga Ngabdulrrakhman Sayidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping Sadasa In Ngayogyakarto Hadiningrat.

– Mengubah perjanjian antara pendiri Mataram Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pamanahan

– Penyempurnaan keris Kiai Ageng Kopek dan Kiai Ageng Piturun

Mengguncang Struktur
Langkah Sri Sultan tersebut, menurut pria yang tengah menempuh studi doktoral di Australian National University itu, mengguncang struktur inti di keraton mengingat konsep kekuatan di ranah Jawa dikonkretkan dengan sebilah keris.

“Siapa yang memegang keris apa, penting sekali di Jawa. Sebab, itu wujud kuasa.”

Guncangan lainnya diwujudkan dengan dhawuh raja yang dikeluarkan pada 5 Mei lalu. Melalui titah tersebut, putri sulung Sri Sultan diubah namanya dari GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng Ing Mataram.

Ini merupakan pertama kalinya seorang perempuan bangsawan di Keraton Yogyakarta mendapat gelar Mangkubumi. Gelar itu lazimnya diberikan kepada bangsawan pria. “Jadi ini mengguncang struktur paling inti di keraton,” ujar Bayu.

Sultan mengaku hanya melaksanakan perintah dari Allah lewat leluhur untuk mengganti gelar putrinya. (BBC Indonesia)
Sultan mengaku hanya melaksanakan perintah dari Allah lewat leluhur untuk mengganti gelar putrinya. (BBC Indonesia)

Dhawuh Raja 5 Mei
Mengubah nama putri sulung Sri Sultan menjadi Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng ing Mataram. Sebelumnya nama putri Sri Sultan ialah Gusti Kanjeng Ratu Pembayun.

Penjelasan Sultan
Penilaian bahwa GKR Mangkubumi dipersiapkan untuk menjadi ‘putri mahkota’ tidak ditanggapi secara tegas oleh Sri Sultan. Dalam penjelasan di rumah GKR Mangkubumi, pada Jumat (08/05) lalu, dia mengatakan tidak tahu kelanjutan dari perubahan gelar putri sulungnya.

Dia mengaku hanya melaksanakan perintah dari Allah lewat leluhur untuk mengganti gelar putrinya.

“Pokoknya saya menetapkan gelar baru GKR Pembayun. Lakone mengko piye, aku yo ra ngerti (Kelanjutannya nati bagaimana, saya tidak tahu.). Kalau saya melangkah lebih dari itu, berarti itu kepentingan saya,” kata Sri Sultan.

Sri Sultan memiliki empat putri, yakni GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Maduretno, dan GKR Bendoro. Meski tidak dikarunai putra, dia mempunyai 11 adik laki-laki dari empat ibu. (BBC Indonesia)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.