Minggu, 19 September 21

Sudah Gak Zaman, Guru Mengajar dengan Muka Seram

Sudah Gak Zaman, Guru Mengajar dengan Muka Seram

Jakarta, Obsessionnews – Guru disebut ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ menjadikan murid dari tidak tahu menjadi tahu. Peringatan Hari Guru Nasional ke-70 pada 25 November 2015, mesti dijadikan momentum merefleksi kinerja guru dalam meningkatkan kualitas anak didik. Seiring berjalannya waktu, guru tidak hanya memiliki skill saja namun perlu memiliki keterampilan mendidik dan mengajar.

Guru juga bagian dari komponen membentuk kreativitas murid, maka peran guru sangat penting membentuk karakter anak setelah orang tua. Guru dituntut juga memiliki inovasi menghadapi perkembangan zaman, sebab guru bertanggung jawab dalam mencerdaskan bangsanya.

Melalui peraturan Pemerintah RI No. 34 Tahun 2014 mengenai Perubahan Keenambelas atas Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1977 tentang Peraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS), Guru diapresiasi dengan ditingkatkan kesejahteraannya mendapatkan gaji pokok. Pemberian gaji pokok bagi guru sertivikasi diharapkan lebih professional mendidik guna menciptakan anak bangsa yang berprestasi.

Namun hal itu dianggap belum efektif, sebab dewasa ini guru dinilai masih mengajar dengan cara-cara lama. Menurut Guru SD Islam Al Ikhlas, Bu Tari, kompentesi dan inovasi mengajar guru negeri sangat kurang dibanding guru swasta . Sehingga penting bagi guru-guru negeri meningkatkan kualitasnya baik itu melalui pelatihan-pelatihan maupun workshop guna mengembangkan wawasan mengajarnya. Tari juga mengatakan mestinya guru harus mampu menstimulus murid denga mengajar ikhlas dan menyenangkan

“Kesejahteraan guru sekarang sudah meningkat, tapi cara mengajarnya masih seperti dulu. Menurut saya guru saat ini tidak layak lagi menggunakan cara-cara lama, tidak menarik dan tidak relevan hingga kemudian membuat anak menjadi stres. Sekolah swasta inovasinya sudah banyak maka perlu juga sekolah negeri diberikan. Penting banget ya sekolah negeri diajak melek ,” ungkapnya pada Obsessionnews.com usai mengikuti Workshop bertema “Menjadi Guru Asyik dan Menyenangkan’ di Jakarta Selatan, Sabtu (14/11/2015).

Kang Deden2

Di tempat yang sama, Kang Deden dari Guru Asyik dan Menyenangkan (Gurame) mengatakan menjadi guru asyik dan menyenangkan harus mampu meng-on-kan anak yang ditekankan diawal belajar, tengah dan akhir pembelajaran. Fungsinya untuk menghilangkan rasa bouring (bosan) anak dalam kelas dan anak dapat mencintai pelajarannya.

Metode Gurame untuk menjadikan guru asyik dan menyenangkan di kelas, pertama guru harus berepresi. Kedua, penataan kelasnya harus membentuk tiga batang otak dengan brand, manajemen otak dan ramah otak, ketiga, guru ditekankan memiliki sensitive feature.

“Biasanya kan guru tidak berepresi, untuk senyum saja pelit makanya kita usahakan guru itu berespresi. Guru juga harus mengajar dari hati, kalau impian gurunya bagus maka anak didiknya bagus, tapi kalau gurunya daripada (asal-asalan), maka hasilnya juga daripada,” pungkasnya.

Menghindari anak jenuh dan bosan di ruangan, guru harus melakukan juga pnedekatan melalui lagu, bermain, yel-yel, aneka tepuk tangan, geral, dalam selang waktu 15-20 menit. Gerakan itu adalah sesuatu yang paling utama diperhatikan, karena dengan gerakan ini secara tidak langsung saraf-saraf akan tersimulasi karena darah mengalir semakin enteng, fokus semakin kuat dan tajam.

Menurutnya cara guru mengajar dengan muka seram, menasihati dengan wajah isyarat menakutkan anak, itu cara jaman dulu (Jadul) mesti di ubah. Jadi kata Kang Deden bukan persoalannya di kurikulum sering diubah, tapi pendekatan, metode dan strategi belajar harus banyak berubah.

“Kalau dulu kan guru cuman ceramah dan anak duduk manis, tapi sekarang gurunya harus kreatif. Sehingga murid yang aktif, bukan guru pusatnya.Saya berharap para guru bisa mengaplikasikan, melakukan sebuah perombakan total, agar asyik dan menyenangkan dengan jiwa dan hati yang ikhlas. Kalau belajar dari hati semua bisa diraih, dengan cinta maka segalanya bisa muda, dengan ikhlas, rezeki pun akan muda didapat,” paparnya.

Kang Deden3

Perbandingan Gaji Guru Indonesia Dengan Negara Lain
Meski gaji guru Indonesia lebih rendah dibanding negara Singapura, Malaysia tetapi gaji PNS Indonesia masih cukup hidup layak. Laporan Survei gaji guru di dunia oleh Varkey Gems Foundation yang dikonvensi dalam dolar Amerika Serikat menunjukkan Singapura, merupakan negara yang memberikan gaji terbesar pada guru-guru mereka.

Singapura menggaji gurunya sebesar USD 45. 755 pertahun (setara Rp 512.089.960) mengalahkan Amerika sebesar USD 44.917 (setara Rp 502.711.064). Sedangkan Korea Selatan menggaji gurunya USD 43.874 (Setara Rp 491. 037.808) dan Malaysia 1.405 RM ditambah tunjangan rutin 340 RM dengan total sekitar Rp 4.941.222,33 itu untuk guru muda di grade (golongan) DGA 29. Di tahap akhir grade gajinya bisa mencapai Rp 10.682.682,36, kalau golongannya naik maka gajinya akan naik hampir Rp 2 juta.

Malaysia membagi tiga kelompok lulusan D-3, grade DGA 29, grade DGA 32, dan Grade DGA 34. Jika guru naik pangkat diakhir grade 34, akan menerima gaji hampir Rp 12 juta. Itu baru lulusan D-III berbeda dengan para guru dan doesn lulusan S-1 dan S-2 dapat memperoleh gaji dari 1.695 RM ditambah 550 RM (sekitar Rp 6.343.799,17) hingga 8.860 RM ditambah 2.200 RM dengan total hampir Rp 39 juta.

Bukan saja gaji pokok mereka juga memperoleh tunjangan perumahan sebesar 180 RM, laptop gratis, dan pinjaman mobil. Bagi guru atau dosen yang mengajar mata Bahasa Inggris atau pelajar catat akan mendapatkan insentif khusus. (Asma)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.