Minggu, 17 Oktober 21

Sudah 8 Bulan Aksi Demo Protes PM Israel Karena Korupsi

Sudah 8 Bulan Aksi Demo Protes PM Israel Karena Korupsi
* Aksi protes menentang PM Netanyahu. (Foto: TTI)

Warga Zionis di tanah pendudukan Palestina telah melakukan aksi protes terhadap Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu selama 32 minggu (8 bulan)  berturut-turut.

Aksi protes tersebut dimulai pada Mei 2020 dan dipicu oleh kasus korupsi yang menyeret nama Netanyahu dan ketidakpuasan publik terhadap pembentukan kabinet koalisi. Netanyahu terlibat dalam empat skandal kasus korupsi.

Kasus korupsi pertama melibatkan perusahaan telekomunikasi Israel, Bezeq Telecom yang dikenal dengan “skandal 4000.” Kasus korupsi lain yang melilit Netanyahu disebut skandal 1000 yaitu terkait penerimaan suap senilai satu juta dolar dari Arnaud Mimran yang dipakai untuk membiayai kampanye pemilu perdana menteri rezim Zionis.

Netanyahu juga terlibat kasus suap yang diberikannya kepada pemilik surat kabar Yedioth Ahronoth supaya mendukung kinerjanya selama menjabat yang dikenal dengan skandal 2000. Selain itu, Netanyahu dijerat kasus korupsi lain skandal 3000 berkaitan dengan pembelian tiga kapal selam dari Jerman.

Netanyahu berulang kali mencoba menggunakan pengaruhnya untuk mencegah penanganan kasus-kasus korupsinya secara adil dan sejauh ini dia telah berhasil mencapai tujuan tersebut.

Namun, warga Zionis memprotes campur tangan Netanyahu atas kasus korupsinya dengan mengadakan demonstrasi secara rutin. Mereka percaya bahwa Netanyahu memanfaatkan wabah Corona sebagai alasan untuk menunda sidang kasus korupsinya di pengadilan.

Pembentukan kabinet koalisi antara Netanyahu dan Benny Gantz, Pemimpin Partai Biru dan Putih, juga menjadi salah satu pemicu berlanjutnya demonstrasi di Israel. Parlemen telah dibubarkan untuk keempat kalinya dan pemilu dini akan kembali digelar pada Maret mendatang, namun warga Zionis tetap menuntut pencopotan Netanyahu dan penghapusan hak politiknya di masa depan.

Wabah virus Corona dan ketidakmampuan kabinet Netanyahu dalam menanganinya, telah memperburuk situasi ekonomi Israel dan meningkatkan ketidakpuasan publik terhadap kinerja pemerintah. Oleh sebab itu, warga terus memprotes Netanyahu dan mendesak agar dia dicopot dari jabatannya.

Netanyahu justru mengabaikan tuntutan publik Zionis dan lebih fokus pada masalah kebijakan luar negeri. Dia sedang berusaha meyakinkan pemerintahan baru Amerika Serikat agar tidak bergabung kembali dengan kesepakatan nuklir Iran. Dia bahkan memperingatkan Presiden Joe Biden agar melupakan kesepakatan nuklir 2015.

Beberapa anggota kabinet Israel juga menabuh genderang perang dan mengeluarkan ancaman serangan militer terhadap Iran. Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Israel, Jenderal Aviv Kohavi baru-baru ini mengatakan bahwa militer sedang menyusun rencana serangan ke fasilitas nuklir Iran jika diperlukan.

“Kembalinya komunitas internasional ke dalam kesepakatan nuklir 2015 dengan Iran merupakan sebuah keputusan yang salah bahkan jika kesepakatan ini direvisi,” tegasnya.

Pada dasarnya, tekanan pada pemerintahan baru AS dan ancaman terhadap Iran merupakan trik kabinet Netanyahu untuk mengalihkan opini publik Israel dari persoalan di dalam negeri. Akan tetapi, cara ini tidak akan mengurangi tekanan pada Netanyahu dan menghentikan aksi protes. (ParsToday/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.