Senin, 18 Oktober 21

Suara Rakyat Adalah Suara Tuhan, Bukan Suara Para Taipan

Suara Rakyat Adalah Suara Tuhan, Bukan Suara Para Taipan
* Ilustrasi para taipan.

Oleh: Pradipa Yoedhanegara, Pengamat Sosial Politik

 

Sudah lama sekali kita tidak pernah mendengar jargon yang sering diteriak’kan dengan lantang oleh para aktivis dinegeri ini tentang *”Vox Populi, Vox Dei”* yaitu tentang Suara Rakyat adalah Suara Tuhan ataupun Jargon lainnya para aktivis yang selalu berteriak *”Membela Yang benar, bukan membela yang bayar”* saat mereka berorasi dalam suasana demonstrasi.

*”Jargon”* tersebut diatas sebenarnya adalah untuk mengingatkan begitu pentingnya seorang presiden mendengarkan aspirasi/suara rakyat sebagai suara Tuhan, ketika dia ditunjuk dan diangkat sumpahnya untuk memimpin negeri ini, bukan malah mengesampingkan suara rakyat dengan hanya mengakomodir seluruh aspirasi para investor dan taipan dinegeri ini.

Bukan hanya para aktivis saja sebenarnya yang sering berbicara mengenai *”adagium”* Vox Populi Vox Dei, hal tersebut juga sangat sering diucapkan oleh para politisi di parlemen maupun para pakar hukum kita di negeri ini diawal reformasi bergulir, Namun kini semuanya telah terdiam seolah lelah dan tak berdaya menghadapi kekuasaan rezim yang kini belajar menjadi otoriter yang mencengkram dan hampir membelengu negeri tercinta yang baru berkuasa seumur jagung tersebut.

Makna dari, “suara rakyat adalah suara Tuhan”, artinya adalah suara rakyat harus dapat dihargai sebagai penyampai kehendak dari “Ilahi”. Konteks dari perkataan ini salah satu’nya ialah ucapan hakim yang telah meneguhkan suara para juri dalam perkara di pengadilan.

Dalam sistem negara yang menganut paham demokrasi memang menggambarkan sebuah pengagungkan yang luar biasa terhadap prinsip kedaulatan rakyat (grassrooth). Sedemikian tingginya posisi rakyat sebagai pemegang kedaulatan sehingga diserupakan dengan suara atau pun kehendak illahiyah yang maha kuasa.

Karena saking agungnya suara rakyat menjadi mutlak dan wajib diperturutkan, tidak boleh diabaikan dan di inkari hanya ketika sedang berkampanye saja membutuhkan dukungan rakyat, tapi setelah duduk diposisi pemerintahan, bisa dengan mudahnya mempecundangi rakyat sebagai pemberi mandat dalam kekuasaan dinegeri demokrasi seperti yang kita anut ini.

Yang menjadi pertanyaan saat ini bagi kita semua benarkah prinsip suara rakyat adalah suara tuhan sudah dijalankan dengan sebaik-baiknya oleh rezim petugas partai yang saat ini sedang berkuasa? Dan benarkah setiap suara rakyat yang ada pasti mencerminkan kehendak illahi?

Sangat sukar untuk kita jawab tentunya, apabila diukur dengan melihat kepemimpinan politik penuh kekonyolan yang sekarang dipertontonkan oleh rezim yang saat ini berkuasa. Lihat saja dagelan soal perppu no.2 tahun 2017 soal ormas yang penuh dramatikal politik dan menjadi pembicaraan khalayak ramai adalah sesuatu yang merupakan jauh dari jargon kerakyatan dan jauh dari cita-cita demokrasi atau bisa dibilang suara rakyat saat ini hanya akan dianggap sebagai angin lalu.

Selain itu coba lihat saja sekarang bagaimana metodelogi rezim yang berkuasa kini dalam rangka mengentaskan masalah kemiskinan ??. Negara yang seharusnya bisa membuat kebijakan ataupun produk sosial agar dapat mengatasi ketimpangan sosial yang terjadi dimasyarakat, ternyata gagal dan malah tidak dapat membuat satupun produk yang dapat mensejahterakan rakyat banyak, malah banyak kebijakan yang dibuat bisa berakibat pada begitu besarnya jarak kemiskinan yang terjadi saat ini, karena kesan yang terjadi dimata masyarakat tampaknya pemerintah tidak paham dan tidak begitu serius ingin menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai negara, yang seharusnya dapat berkontribusi untuk mensejahterakan rakyat banyak malah gagal mensejahterakan rakyatnya dan lebih hobby membuat kebijakan yang menuai kontroversi publik.

Saat ini menjadi sangat ironis karena banyak produk sosial atau pun kebijakan publik yang dibuat oleh pemerintah yang hanya hanya berpihak kepada kepentingan kelompok Taipan dinegeri ini, ketimbang keberpihakannya kepada masyarakat miskin sebagai akibat hutang budi atau pun bagian dari balas jasa saat mencalonkan diri sebagai capres di masa kampanye yang lalu, karena banyaknya kebijakan yang dibuat jauh dari kesan pembelaan kepada kelompok marginal.

Seakan-akan keberadaan negara hari ini tidak pernah dapat dirasakan kehadirannya oleh mereka yang lemah dan dilemahkan oleh negara, atau kelompok yang miskin atau sengaja dimiskinkan oleh negara. seperti yang terjadi pada nelayan di kepulauan seribu yang pada akhirnya tidak dapat melaut sebagai akibat dari dampak kebijakan pemerintah yang memberikan izin untuk melakukan reklamasi didaerah pantai utara jakarta.

Kebijakan publik yang seharusnya lebih memihak kepada rakyat kecil dan miskin sepertinya tidak pernah ada dinegeri ini karena pada akhirnya kekuatan pemilik modal lebih diutamakan oleh pemerintah ketimbang membuat kebijakan yang berpihak pada rakyat banyak. Mungkin hal tersebut sebagai akibat dari meningkatnya jumlah penduduk miskin dinegeri ini dan malasnya pemerintah untuk memikirkan masa depan “wong cilik” karena lebih mementingkan kelompok “wong licik” yaitu para Taipan.

Kelompok Taipan ini memang memiliki sumber daya yang luar biasa karena banyak menjadi penyokong utama pemerintah maupun parpol dinegeri ini yang menjadi pendukung rezim pemerintah, dan karenanya mereka dapat dengan leluasa mempengaruhi hampir semua kebijakan yang dibuat oleh negara demi kepentingan konglomerasi para taipan dan kelompoknya tersebut.

Selain kebijakan soal reklamasi pantai utara jakarta, kebijakan tidak populer lainnya yang begitu kasat mata keberpihakkannya kepada kelompok taipan dinegeri ini memang tampaknya sengaja banyak dibuat oleh pemerintah. Sebagai contoh lainnya adalah pemerintah memberikan jaminan hutang terhadap perusahaan swasta lion air yang melakukan pembelian pesawat air bus beberapa waktu yang lalu, serta program kereta api cepat jakarta-bandung yang kemudian disusul dengan akan dibangunnya sebuah kota dikawasan cikarang- walini oleh konsorsium para pengembang.

Kemudian yang jadi pertanyaan saya adalah mana produk sosial yang berpihak kepada rakyat banyak yang sering digembar gemborkan oleh rezim ini di masa kampanye dulu?? Kalau nyatanya semua kebijakan yang ada hanya dibuat untuk menyenangkan hati para taipan dinegeri ini bukan dibuat untuk menyenangkan hati rakyat kecil.

Jadi sudah saatnya rezim ini bicara secara terbuka kepada publik kalau kesederhanaan yang seringkali ditampilkan dihadapan publik sebenarnya adalah sebuah kebohongan belaka dan rekayasa dari opini media sang pemilik modal karena hanyalah bentuk pencitraan diri, sebab tidak adanya satupun “policy” yang dibuat oleh pemerintah yang memiliki keberpihakan kepada rakyat bawah karena hampir semuanya dikendalikan oleh kelompok bisnis para taipan dinegeri ini.

Untuk itu, secara pribadi saya ingin menyampaikan bahwa model pemilu dan demokrasi yang saat ini diberlakukan di republik ini, sesungguhnya tidaklah mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara dan demokrasi ternyata tidak bisa memberikan kesejahteraan kepada rakyat banyak, karena pada akhirnya kesejahtraan itu adalah milik orang-orang yang berkuasa serta para pemilik modal besar yang menjadi cukong saat dimulainya pesta demokrasi.

Untuk itu sebaiknya rezim yang berkuasa saat ini jangan lagi menyakiti hati rakyat dengan pencitraan yang terkesan merakyat dan jangan pernah bicara lagi soal “Suara Rakyat Adalah Suara Tuhan”, karena pada kenyataannya hanya para “Taipan’lah” yang berkuasa dan menjadi penguasa di republik tercinta ini.

Sebagai pesan penutup semoga saja kedepannya proses politik dan pemilu dinegeri ini bisa berubah dan menjadi lebih baik agar pilihan jalan sebagai sebuah negara demokrasi menjadi tepat karena demokrasi seharusnya dapat mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara serta dapat mensejahterakan kehidupan rakyat bukan hanya membodohi rakyat dan mensejahterakan para “Taipan” saja sebagai pemilik modal.

Wauwlahul Muafiq illa Aqwa Mithoriq,
Wassalamualaikum Wr, Wb

Jakarta 14 Juli 2017

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.