Minggu, 12 Juli 20

Strategi Global AS Pasca Kematian Qasim Sulaeman

Strategi Global AS Pasca Kematian Qasim Sulaeman
* Hendrajit. (Foto: dok. pribadi)

Oleh: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik

BUKAN meroketnya minyak sebagai by design, dalam menjelaskan menajamnya konflik global saat ini. Khususnya dengan terbunuhnya Qasim Sulaeman. Tapi adanya dua peristiwa paralel sebelumnya. Penempatan THAAD Amerika Serikat (AS) di Korea Selatan, dengan dalih menangkal Korut, padahal sasaran sesungguhnya adalah Cina.

Kedua, pembatalan sepihak perjanjian senjata nuklir jarak menengah atau INF dengan Rusia. Yang membawa implikasi AS akan lebih bebas tanpa hambatan dalam memperluas penyebaran persenjataan nuklir jarak menengah di berbagai kawasan.

THAAD ini sejenis sistem pertahanan anti rudal yang bisa mengangkut senjata nuklir. Artinya, dengan alasan menghadapi Cina dan Iran, AS sekarang bebas menempatkan semacam THAAD ini di negara negara sekutu AS di berbagai kawasan. Tidak hanya di Asia Timur terkait Korut dan Timur Tengah yang berbatasan dengan Iran. Tapi juga di Tokyo, Taiwan, dan Singapura.

Dan AS sekarang bebas merdeka semaunya sendiri menempatkan sistem pertahanan anti rudalnya. Karena sudah tidak terikat perjanjian INF.

Manuver AS ini sudah dipayungi dua doktrin Pentagon sejak 2017. National Security Strategy dan National Defense Strategy. Yang mana menetapkan Cina, Rusia, Iran dan Korut sebagai musuh utama.

Atas dasar pemahaman inilah, kita harus bersikap agar keluar dari penyanderaan konflik global ini.

Sebab penempatan sistem pertahanan antirudal ala THAAD yang diperluas ke Asia Tenggara, seperti Singapura, yang bermuatan nuklir dan dilengkapi kamera yang mampu mendeteksi kegiatan militer negara-negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia. Itu merupakan potensi ancaman. Dalam keadaan tidak berperang sekalipun. Apalagi dalam keadaan perang.

Nah, barulah dalam situasi ini, kita melihat isu Natuna dalam konteks yang lebih strategis. Yaitu sebagai medan perang AS vs Cina. Dengan begitu, meskipun pencurian nelayan Cina di Natuna masih belum bisa dipandang sebagai pemantik perang. Namun tetap sebagai potensi border dispute kedua negara ke depan. Artinya tetap potensi ancaman.

Apalagi pemerintah Cina pun meski menolak adanya border dispute tapi mengakui ini sebagai overlapping claims. Artinya, pemerintah Cina pun secara tersirat menginginkan kesepakatan dan kesamaan persepsi ihwal wilayah yang terjadi klaim tumpang tindih itu dengan Indonesia.

Berarti insiden Natuna mendesak adanya penyelesaian melalui perundingan atas dasar kerangka kerja sama RI-RRC yang lebih setara dan saling menguntungkan.

Kegentingan di berbagai kawasan, termasuk Asia Pasifik pasca terbunuhnya Qasim Sulaeman, memang berpotensi krisis berskala luas. Dan menciptakan instabilitas di berbagai kawasan, seturut makin tajamnya persaingan global AS vs Cina. Namun ini merupakan momentum menguntungkan bagi kepentingan nasional kita.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.