Senin, 20 September 21

Sosok Benjamin Mangkoedelaga di Mata Warga

Sosok Benjamin Mangkoedelaga di Mata Warga

Jakarta, Obsessionnews – Mantan hakim agung Benjamin Mangkoedelaga (77) meninggal dunia pada Kamis (21/5) pukul 16:25 WIB di rumahnya, Kavling Polri No. 36B Ragunan Jakarta Selatan. Sosok kelahiran 30 September 1937 ini dikenal pekerja keras dan bertanggung jawab, serta penuh perhatian terhadap orang-orang di sekitarnya.

Kurang lebih tiga tahun Benjamin mengidap penyakit lemah jantung. Kemana-mana Benjamin memakai kursi roda dan bantuan pernapasan oksigen saat menjalankan aktivitasnya. Meski detik-detik akhir napasnya, Benjamin masih mengingat urusan pekerjaan.

“Dua hari sebelum meninggal itu ada sidang, dia panggil-panggil orang sidang sedangkan matanya itu sudah meram, saya pikir saat itu beliau akan meninggalkan kami. Keluarga sudah kumpul, tapi almarhum masih terus pangil-panggil nama Pak Jeep, akhirnya saya telpon. Siang hari Pak Jeep datang menjenguk dan mengatakan ‘Pak Jangan pikirkan pekerjaan, sudah dijamin tidak ada masalah‘. Saat itu pun bapak langsung tenang dan sorenya itu matanya langsung meram,” curhat Rosliana kepada Obsessionnews di kediamannya, Jumat malam (22/5/2015).

Di masa mudanya, Benjamin ingin jadi anggota TNI namun karena memakai Kacamata, dia tidak bisa mewujudkan cita-citanya. Akhirnya di masa kulia S I Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) ia mendirikan organisasi Marching Band sebagai organisasi Unit Kesenian Mahasiswa.

Sejak kuliah, Benjamin sebagai asisten dosen FH UI. Ketika Benjamin memperoleh gelar sarjana tahun 1967, ia menjadi hakim PN Rangkas Bitung pada 1967-1974.

Tepatnya 1974, Benjamin pindah ke Denpasar sebagai Hakim PN Denpasar. Selama bertugas di Denpasar beliau juga menjadi Dosen Hukum di Universitas Udayana. Masih di Udayana, Benjamin dikirim ke Prancis untuk studi mengenai Tata Usaha Negara. Selama dua tahun kemudian kembali di Denpasar. Tiga bulan sebelum dipindahkan sebagai hakim di Jakarta Utara, Benjamin sempat mendirikan Marching Band (1979) sebagai Unit kesenian Mahasiswa Universitas Udayana.

Merching Band Univeraitas Udayanya bersama istri Benjamin di rumah duka, Jumat (22/5/2015),
Marching Band Universitas Udayanya bersama istri Benjamin di rumah duka, Jumat (22/5/2015),

Benjamin memiliki keinginan menjadi Hakim Agung. Namun di zaman Orde Baru, Benjamin meminta untuk dipensiun-dinikan. “Saat itu dia pikir tidak akan menjadi Hakim Agung, sebab syarat jadi Hakim Agung itu terlebih dahulu menjabat Hakim tinggi selama 20 tahun. Saat itu Bapak merasa tidak akan bisa jadi Hakim Agung karena akan keburu pensiun akhirnya bapak dipensiun dinikan,” tuturnya.

Di sela-sela pensiun dini, Benjamin bergabung sebagai anggota Komnas HAM, saat itu ia juga berperan dalam menyelesaikan konflik Timor-Timur.

Pasca kepemimpinan Gus Dur sebagai Presiden RI (2000), Benjamin memenuhi panggilan Istana. Saat itu Gus Dur meminta kesediaan Benjamin untuk menjadi Hakim Agung. “Jarang lho dari swasta diangkat begitu, padahal saat itu udah pensiun,” kagumnya.

Setelah pensiun di Mahkamah Agung, Benjamin diangkat sebagai Ketua Yayasan Rumah Sakit Jakarta. Selain itu, juga aktif di badan abitrase sampai sekarang. “Sampai kemarin masih ngurusin perkara itu. Mengadili perdata, pengadilan swasta,” tuturnya.

Di mata warga, Benjamin dikenal ramah dan mudah bergaul dengan masyarakat setempat. “Beliau itu rajin sholat di musholah Asyhada, orangnya juga tidak mau pamer, welcome, nggak suka neko-neko. Ia juga suka ngadain buka puasa bersama, dia kan penasehat di Musolah juga, pokoknya dia baik bermasyarakat begitu pun anak-anaknya,” ungkap pengurus musholah Asyahada, Maulana.

“Saya akui memang dia bagus meski dia memakai kursi roda masih ngurus kerjaan saya pikir beliau sosok inspirator anak muda sekarang, suri teladan, saya akui dia bagus,” pujinya.

Selain itu, ternyata Benjamin juga dekat dengan anak-anak yatim. Tak heran, banyak anak yatim datang mengirimkan doa sambil membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an (Surat Yasin) pasca disemayakan di Karawang Timur, Pancar Al Azhar.

Menurut Ketua Yayasan Rumah Yatim dan Pesantren Ruhama, Romiah Marimah, dirinya mengenal sosok Benjamin sebagai penasehat, seorang figure yang selalu mensuport kaum lemah. “Beliau selalu menjadi donator di Yayasan kami, dia mengayomi kami malah mempelopori para pensiun Mahkama Agung supaya memikirkan anak yatim, ia suka memperkenalakn kekurangan anak yatim,” tandasnya.

“Ia selalu mengingatkan kepada anak yatim untuk selalu sabar. Sejak masih kuat pak Ben itu sering datang membawakan buka puasa senin kamis anak yatim, selama sakit istrinya yang mengantikan bawa buka puasa senin kamis di Bogor. Begitupun buka puasa di bulan ramadhan. Pak Benjamin itu lain daripada yang lain lho,” kagumnya.

Sedangkan mahasiswa Udayana yang tergabung dalam Merching Band juga turut memberikan bela sungkawa. Di mata mereka, Benjamin adalah sosok yang luar biasa yang tidak bisa digantikan oleh siapa pun.

Tempat yang sama di kediman Benjamin, utusan Universitas Udayana menilai sosok Benjamin penuh semangat, serta memiliki dedikasi yang sangat tinggi di Marching Band Universitas Udayana.

“Memang kami tidak tiap saat bertemu, namun setiap ada momen tertentu misalnya pertandingan atau HUT Marching Band beliau selalu hadir memberikan motifasi dan semangat. Kami sangat beruntung Benjamin bagian dari Marching Band,” tutur pengurus Marching Band, Hendra Winata.

Beliau itu orangnya welcome baik seperti keluarga sendiri, sangat tegas tapi beralasan, beliau juga suka bercanda dan humoris,” kenangnya.

Suami Roosliana itu memulai karir tahun 1962-1967 sebagai Asisten Dosen FH UI. Kemudian menjadi Hakim PN Rangkas Bitung (1967-1974), Hakim PN Denpasar (1974-1979), Hakim PN Jakarta Utara (1979-1982). Lalu diangkat menjabat Wakil Ketua PN Bale Bandung Kab.Bandung (1982-1987), Ketua PN Cianjur (1987-1991), dan Ketua PTUN Surabaya (1991-1993). Setelah itu, ia dipercaya menjadi Hakim Tinggi PTTUN Medan (1996-1998) dan PTTUN Jakarta (1998-1999). (Asma)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.