Senin, 28 September 20

Sosialisme Demokrasi Sebagai Irisan Politik Harus Dipatahkan

Sosialisme Demokrasi Sebagai Irisan Politik Harus Dipatahkan
* Sutan Sjahrir, pemimpin Partai Sosialis Indonesia (PSI). (Sumber foto: histori.id)

Oleh: Hendrajit, Wartawan Senior

Sutan Sjahrir memandang nasionalisme di negeri kita identik dengan kemunculan nasionalisme di Eropa yang berbasis etnik dan kesamaan ras. Atau pada skala yang lebih tendensius lagi memandang nasionalisme sebagai tahapan awal menuju fasisme. Di Eropa nasionalisme memang cenderung diartikan sama dengan xenophobia. Alias serba anti asing.

Memasuki dekade 1930-an dan seterusnya, nasionalisme di negara-negara Asia, termasuk Indonesia, tidak identik dengan nasionalisme di Eropa yang berbasis etnik atau kesamaan ras. Justru menjadi inspirasi untuk membangun aliansi strategis berbagai elemen pergerakan nasional melawan penjajahan asing secara multi-kelas dan multi etnik.

Tren baru ini justru luput dari penglihatan Sutan Sjahrir, bahkan saat Indonesia sudah merdeka. Sjahrir masih tetap kukuh pada pandangan bahwa sosialisme harus tetap lebih berorientasi internasional daripada nasional.

Cara pandang ini pun bukan saja jadi orientasi para kader-kader sosialisme demokrasi (sosdem) yang kemudian mengerucut dalam wadah Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang dipimpin Sutan Sjahrir, melainkan juga mempengaruhi cara pandang beberapa faksi di dalam tubuh Partai Komunis Indonesia sejak era 1920-an hingga 1965. Bahwa internasionalisme hakekatnya lebih penting daripada nasionalisme.

Kalau merujuk pada ungkapan Bung Karno mengenai arti kata radikal sebagai peruncingan ideologis, maka mahzab politik sosdem ini punya kecenderungan untuk meruncing secara ideologis baik ke kanan maupun ke kiri.

Ketika sosdem meruncing ke kiri, maka menjadi proto komunisme alias cikal bakal komunisme. Atau bisa juga kripto komunis kalau pada dasarnya dia memang sudah komunis tulen namun secara tersamar ada di kubu sosdem.

Ketika sosdem meruncing ke kanan, maka dia jadi neo-liberal. Sosialis dalam jargon dan retorika, namun agenda sejatinya adalah tetap bergabung pada tatanan kapitalisme global.

Dalam lanskap politik yang masih seperti itu sekarang ini, dua kekuatan mengakar di bumi pertiwi ini, Islam dan nasionalis, harus menciptakan ruang publik tersendiri, bebas dari pengaruh mahzab sosialisme demokrasi. Sehingga tercipta suatu zona bebas aliran pemikiran sosialisme demokrasi yang mana Islam dan nasionalis masuk dalam orbit pengaruh sosdem, maka ketika dihadapkan pada pilihan menjadi nasionalis atau internasionalis, maka pilihannya jadi internasionalis.

Apapun kekuatan politik dan aliran ideologi yang berada dalam pengaruh sosialisme demokrasi dan dirembesi paham politik dan ideologi tersebut, maka pada perkembangannya tidak akan mengakses akar-akar dukungan dari masyarakat di bumi pertiwi ini. Malah sadar atau tidak, mengisolasi dirinya dari kekuatan-kekuatan dinamis dan kreatif dalam masyarakat.

Gagalnya gerakan people power pasca Pilpres 2019 lalu, merupakan salah satu bukti nyata adanya perembesan ideologi sosialisme demokrasi sehingga people power kehilangan perspektif nasionalismenya. Sehingga dibuat mandul dan lumpuh dari dalam internal pergerakan people power itu sendiri.

Kiranya tidak berlebihan ketika Datuk Ibrahim Tan Malaka menggambarkan kaum sosialis demokrat itu sebagai para montir kapitalis. Padahal bahan bakar penggerak kolonialisme dan imperialisme adalah kapitalisme.

Gerakan sosdem mengabaikan salah satu aspek penting dari pergerakan nasional membebaskan diri dari penjajahan asing. Bahwa pergerakan nasional melawan penjajahan asing, haruslah pergerakan nasional yang bersifat nasionalis. Bukannya bersifat internasionalis.

Di sinilah berbagai elemen bangsa maupun aneka kelompok politik di negeri kita tidak menyadari adanya jebakan ideologis macam ini. Sehingga dengan mudah jadi sasaran pecah belah dan adu domba. Divide et impera. Sehingga timbul kesan bahwa Islam dan nasionalis tidak bersatu.

Bersenyawanya kembali Islam dan nasionalisme, adalah solusi untuk menetralisir penetrasi dan infiltrasi paham sosialisme demokrasi di berbagai kelompok dan aliran politik.

Sosialisme demokrasi sebagai irisan politik harus dipatahkan.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.