Minggu, 26 September 21

Sosialisasi Empat Pilar, Ridwan Hisjam: Pancasila Tak Bisa Tergantikan

Sosialisasi Empat Pilar, Ridwan Hisjam: Pancasila Tak Bisa Tergantikan
* Sosialisasi empat pilar Ridwan Hisjam. (Foto Dok Pribadi)

Malang, Obsessionnews.com – Anggota MPR RI Ridwan Hisjam menyatakan Pancasila adalah sebagai dasar dari segala dasar ideologi negara merupakan sesuatu yang sudah final. Karena itu, ia meminta kepada semua pihak untuk tidak lagi membenturkan Pancasila dengan ideologi lain. Bahkan dengan Islam sekalipun.

Suka atau tidak suka, kata dia, kenyataannya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila mampu menjembatani segala kepentingan dalam setiap keragaman tersebut. Pancasila pada dasarnya merupakan jalan tengah.

“Meski mayoritas masyarakat Indonesia merupakan muslim, bukan berarti dasar negaranya di dasarkan pada dasar Islam. Namun, Pancasila pada dasarnya juga mengadopsi nilai-nilai Islam. Sila pertama hingga kelima pancasila, pada dasarnya adalah nilai-nilai dalam Islam,” ujar Ridwan.

Ridwan menyampaikan itu pada saat acara sosialisasi empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik IndonesiaTahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia NKRI dan BhinnekaTunggal Ika) di Aula Balai Desa Mangunrejo, Kepanjen, Kab Malang pada Kamis 08 April 2021.

Menurutnya, dalam Pancasila nilai yang sama juga terdapat dalam agama-agama yang lain. Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa pada dasarnya ada di semua agama, begitu juga nilai-nilai tentang kemanusiaan, persatuan, musyawarah hingga keadilan sosial.

“Karena itula, menjadi tidak ada gunanya, jika masih ada sebagian pihak yang erus menyuarakan bahwa Pancasila sudah tidak relevan, pancasila tidak sesuai dengan zamannya, atau pancasila kafir. Semuanya itu jelas tidak benar,” jelas Ridwan saat menjelaskan kepada masyarakat dengan penerapan protokol kesehatan.

Ridwan melihat yang terjadi justru bertolak belakang, dengan apa yang selama ini disebar oleh kelompok intoleran tersebut. Ada anggapan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia muslim, maka dasar pemerintahan dan negaranya harus berdasarkan hukum Islam.

“Jika bertentangan dengan Islam, dimaknai sebagai kafir. Padahal, Islam sendiri tidak pernah mengajarkan hal demikian. Tidak ada anjuran untuk saling menyudutkan, saling menyalahkan, ataupun persekusi hanya karena berbeda paham ataupun keyakinan,” tuturnya.

Ketika Islam masuk ke Jawa pun ketika, sama sekali tidak ada unsur paksaan. Bahkan penyebaran Islam sendiri pun juga tidak pernah ada paksaan. Dalam konteks Indonesia, antara Islam dan budaya lokal justru terjadi akulturasi.

Begitu juga antara Islam dengan agama-agama yang suda ada sebelum Islam masuk. Jejak akulturasi itu kata politisi Partai Golkar ini masih bisa dilihat dan rasakan hingga saat ini. Betapa indahnya negeri ini juga semuanya bisa saling berakulturasi, tanpa harus saling menguasai.

Ridwan mengatakan, nilai-nilai Pancasila tidak hanya digali dari nilai agama, tapi juga dari nilai-nilai luhur budaya Indonesia. Ketika era kerajaan seperti Sriwijaya dan Majapahit misalnya, masyarakatnya ketika itu sudah mengenal kepercayaan, toleransi, tolong menolong, bahkan muswarah serta menjaga kerukunan juga telah ada.

“Istilah gemarh ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja, yang mendambakan masyarakat yang adil dan makmur, juga ada dalam Pancasila,” katanya.

Sebagai warisan leluhur, Ridwan menyebut empat pilar kebangsaan, merupakan pondasi fundamental bernegara yang wajib dipahami terutama oleh para pemuda yang merupakan generasi penerus, dalam membangun bangsa dan negara.

“Masa depan bangsa sangat tergantung kepada para pemuda sebagai generasi penerus. Sebagai generasi penerus, pemuda wajib memahami empat pilar kebangsaan yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika yang merupakan pondasi dalam membangun bangsa,” tuturnya. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.