Minggu, 18 Februari 18 | 12:12 WIB

  • Flipboard
  • Linkedin

Islam Itu Universal

Islam Itu Universal

Oleh: Ustaz Felix Siauw, Pengemban Dakwah

 

Asalkan dia muslim, dan memenuhi syarat, maka di mana pun dia, kapan pun zamannya, dia layak dan mampu untuk mengimami manusia dalam salat, tak peduli siapa pun makmumnya, dari negara mana, apa jabatan, atau kekayaannya.

Islam tidak membedakan ras, suku, jabatan, bangsa, negara, apalagi harta. Yang paling takwa adakah yang paling tinggi. Ukurannya adalah ketaatan, sebab manusia lahir tak membawa sesuatu, pun meninggal tak membawa.

Sama seperti saat seorang muslim masuk ke masjid, semua sama di hadapan Allah. Sama-sama melepas alas kaki, ruku dan sujud dengan sejajar, tahiyyat dengan waktu yang sama, menyembah Allah teratur terarah di kiblat yang padu.

Dalam syariat kita tunduk pada Allah dan Rasul. Adapun variasi bukannya haram dalam Islam, tapi diatur tempatnya. Indonesia punya ciri, Turki punya ciri, Cina punya tanda, Arab juga tersendiri dalam variasi cara penyembahan itu.

Bila Arab punya masjid kotak, Turki mengembangkan masjid berkubah, Indonesia dengan masjid beratap. Ini variasi yang dibolehkan, sebab bentuk masjid sangat terpengaruh geografis, mana bentuk yang paling cocok.

Tapi tak ada yang boleh berbeda dalam syariat yang sudah baku, salat tetap dalam bahasa Arab walau kita di Indonesia, haji tetap di Arafah meski kita lebih betah di Nusantara. Itu sudah ketentuan Allah Yang Maha Benar.

Haji dan umrah pun punya ketentuan, semua dari Rasulullah, dan saat melakukan sa’i Rasulullah tidak berikan batasan saat melantunkan dzikir, bahkan bercakap-cakap pun boleh. Tapi membaca teks Pancasila? Sangat berlebihan.

Apa yang ingin ditunjukkan? Apa yang ingin disampaikan dengan itu? Bukankah lebih banyak kalimat thayyibah yang bisa dilafazkan? Khawatir niat di dalam hati kita ingin menunjukkan sesuatu yang tak pantas, besok ada yang membaca UUD 1945 sekalian?

Islam itu universal, janganlah dibagi-bagi dengan syiar yang tak etis.

Andaikan Rasulullah di depan kita, apakah Pancasila yang kita bacakan di depan beliau? Atau adakah yang ingin kita katakan di hadapan beliau? Di depan Rabb pencipta kita, pemilik kabah, apa yang ingin kita sampaikan? Ya Rabb, ampuni kami, lisan kami, lintasan sombong dalam hati kami.

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *