Minggu, 29 Mei 22

Sofia W. Alisjahbana, Totalitas Sang Pendidik

Sofia W. Alisjahbana, Totalitas Sang Pendidik
* Rektor Universitas Bakrie, Sofia W. Alisjahbana. (Foto: Edwin B/obsessionnews)

Obsessionnews.com – Lahir dan besar dari lingkungan keluarga yang menempatkan pendidikan sebagai prioritas kehidupan, telah menempa Sofia W. Alisjahbana, menjadi sosok intelektual perempuan terpandang dan diperhitungkan di negeri ini. Dia dibesarkan di dunia akademik yang paripurna dan sang ayah adalah seorang profesor di Institut Teknologi Bandung, serta suami juga seorang professional sekaligus akademisi.

“Jadi keinginan sebagai pendidik itu sudah sejak kecil,” ujarnya dikutip dari Majalah Women’s Obsession, edisi Srikandi Tangguh 2022, Kamis (12/5/2022).

Karier akademisi Sofia pun mentereng. Dia mampu melewati jenjang pendidikannya dalam waktu relative singkat. Setelah menyelesaikan sarjana Teknik Sipil di Institut Teknologi Bandung tahun 1986, dia hanya butuh waktu dua tahun untuk meraih Master of Science (M.Sc) dalam bidang Engineering Mechanics, Department of Engineering Mechanics, University of WisconsinMadison, Amerika Serikat tahun 1988.

Lalu, empat tahun kemudian tepatnya 1992, istri dari Rian Alisjahbana ini menyabet gelar Doctor of Philosophy (Ph.D) di Department of Engineering Mechanics and Astronautics, University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat, dan mengukuhkannya sebagai Guru Besar.

Dengan rekam jejak pendidikan tersebut, Sofia mampu memimpin Universitas Bakrie berjalan dalam jalur prestasi yang tepat, meskipun usia kampus ini terbilang muda didirikan sejak tahun 2009.

“Saya bergabung di Universitas Bakrie sejak 2010. Pada saat itu belum menjadi universitas. Masih memiliki dua program studi, yaitu studi managemen dan ilmu komunikasi. Saya diminta mengembangkan agar menjadi sebuah universitas. Dari dua program studi saat ini sudah menjadi 10 program studi S1 dan dua program studi S2,” terangnya.

Dalam kepemimpinannya, dia bertekad membesarkan pendidikan tinggi di Indonesia, khususnya Universitas Bakrie. Karena itu dia terus mendorong Universitas Bakrie, agar banyak memberikan beasiswa kepada anak bangsa yang berprestasi dari berbagai penjuru Tanah Air.

Menariknya, selain diperkaya dengan prasarana dan fasilitas kampus modern, Universitas Bakrie juga menyediakan salah satu Kelompok Usaha Bakrie itu berkontribusi dalam membangun laboratorium di kampus Universitas Bakrie dan para CEO-nya berkala menjadi pengajar.

“Kita tahu bahwa dunia pendidikan merupakan ujung tombak dari sebuah bangsa. Jadi, kalau kita bisa meningkatkan kualitas pendidikan tinggi, tentunya kualitas bangsa Indonesia juga bisa meningkat. Sejalan dengan itu Yayasan Pendidikan Bakrie memiliki visi salah satunya adalah mengembangkan pendidikan dan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga Indonesia untuk mengenyam pendidikan tinggi. Jadi, tentunya Universitas Bakrie juga harus bisa bersaing di nasional maupun kancah internasional dan juga untuk meningkatkan pendidikan tinggi di Indonesia. Visi kami dapat bersaing secara global dan harus meningkatkan inovasi maupun profesionalisme,” urainya.

Dia menambahkan, “Kita harus bisa bersaing dengan pendidikan tinggi di negara lain yang tentunya lebih maju. Namun, kita tidak harus patah semangat, karena kita tahu bahwa dengan mengembangkan sumber daya manusia yang unggul. Tentunya juga Universitas Bakrie dalam hal ini, bisa bersaing dengan dengan pendidikan tinggi lainnya, terutama secara global.”

Untuk menghadapi persaingan tersebut, Universitas Bakrie mengembangkan program-program yang bersifat inovatif, kreatif, dan memiliki ciri khas, jadi berbeda dengan pendidikan tinggi lainnya.

“Alhamdulillah, sebetulnya universitas ini di bawah naungan Bakrie terus mendukung Universitas Bakrie dan kami memiliki hubungan yang erat dengan kelompok usaha Bakrie. Sehingga, banyak programprogram yang bisa bersinergi. Khususnya, para lulusan itu dapat mudah terserap, karena memang banyak sekali pengetahuan-pengetahuan yang diberikan dari Kelompok Usaha Bakrie bagi pendidikan tinggi di Indonesia, dalam hal ini khususnya di Universitas Bakrie,” paparnya.

Sesuai dengan tagline yang diusung Universitas Bakrie, ‘Experience the Real Things’ maka Pendidikan yang ada di sini harus mudah terserap di lapangan. Caranya antara lain dengan program magang yang sudah diawali universitas ini sejak awal.

“Sebelum ada program Merdeka Belajar Kampus Merdeka atau MBKM, kami sudah memasukkan program magang di dalam kurikulum. Sehingga pada saat ada program MBKM di sini tidak mempermasalahkan. Karena kami sudah menerapkan magang sejak dini dan juga hubungan dengan dunia industri itu juga sudah sejak awalnya. Jadi, kita sudah tidak asing lagi dengan program-program yang sudah dicanangkan oleh pendidikan tinggi di Indonesia,” ujarnya dengan nada bangga.

Jadi, jangan heran kalau para alumni kampus ini banyak terserap di lapangan kerja. Di sisi lain, diakui Sofia saat pandemi Covid-19 merebak, kampus yang dipimpinnya mampu beradaptasi dengan baik.

“Salah satunya yang kami tingkatkan adalah bagaimana cara pembelajaran secara daring kepada mahasiswa, dosen-dosennya pun juga harus melakukan pembelajaran secara kreatif. Jadi, walaupun secara daring, namun dapat tersampaikan dengan baik pembelajarannya. Kampus juga memberikan bantuan kuota internet kepada para mahasiswa,” ungkap Sofia.

Dia pun optimis dan bertekad setiap mahasiswa yang berkuliah di Universitas Bakrie dapat sukses dengan pengajar yang akan terus ditingkatkan kualitasnya. (Sahrudi/WO/Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.