Rabu, 15 Juli 20

Soeharto Tumbang, Golkar Masih Kokoh Berdiri

Soeharto Tumbang, Golkar Masih Kokoh Berdiri
* Mahasiswa menduduki Gedung DPR/MPR, Mei 1998, menuntut Presiden Soeharto turun dari jabatannya.

Jakarta, Obsessionnews – Tidak ada yang abadi di dunia ini. Demikian juga dengan kekuasaan.  Saat Soeharto berkuasa tidak ada satu pun paranormal atau pengamat politik yang berani meramalkan kapan Sang Jenderal Besar itu akan lengser keprabon.

The Smiling General (Sang Jenderal yang Tersenyum), itu julukannya, karena raut mukanya yang selalu tersenyum.  Soeharto merupakan salah seorang pemimpin yang lama berkuasa di dunia, yakni 32 tahun!

Soeharto identik dengan Golkar dan Orde Baru (Orba). Soeharto adalah pendiri partai berlambang pohon beringin itu pada 20 Oktober 1964. Menyusul meletusnya Gerakan 30 September 1965 (G-30-S)/PKI, Soeharto mengambil alih kekuasaan dari Presiden Ir. Sukarno pada tahun 1966.

Periode 1945 – 1966 saat Sukarno berkuasa disebut Orde Lama (Orla). Ketika Suharto berkuasa sejak 1966  hingga 1998 periode itu disebut Orba.

Pendukung utama Orba adalah Golkar.  Di partai ini Soeharto duduk sebagai Ketua Dewan Pembina yang memiliki kekuasaan tak terbatas. Sedangkan ketua umum (ketum) Golkar hanya berperan sebagai boneka.

Enam kali pemilu di era Orba Golkar selalu tampil sebagai juara dengan meraih di atas 60% suara, yakni Pemilu 1971, Pemilu 1977, Pemilu 1982, Pemilu 1987, Pemilu 1992, dan Pemilu 1997. Kemenangan Golkar itu karena menggunakan ‘senjata’ trisula  ABG (ABRI, Birokrasi, dan Golkar).  ABRI (TNI dan Polri) dan pegawai negeri sipil (PNS) wajib mendukung Golkar. Hal serupa juga berlaku bagi kader-kader yang tergabung dalam  tujuh Kelompok Induk Organisasi (Kino) Sekretariat Bersama (Sekber) Golkar, yakni Koperasi Serbaguna Gotong Royong  (Kosgoro), Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI), Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong  (MKGR), Organisasi Profesi, Ormas Pertahanan Keamanan (Hankam), Gerakan Karya Rakyat Indonesia (Gakari), dan Gerakan Pembangunan.

Pada pertengahan 1997 Indonesia dilanda krisis moneter yang kemudian berlanjut ke krisis ekonomi dan krisis kepercayaan.  Pasca terbentuknya Kabinet Pembangunan VII tanggal 16 Maret 1998 untuk masa bakti 1998-2003, pemerintahan Soeharto digoyang oleh badai unjuk rasa mahasiswa yang menginginkan dilakukan reformasi  di segala bidang, termasuk menuntut suksesi kepemimpinan.

Mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta, bentrok dengan aparat keamanan dalam aksi unjuk rasa anti Soeharto, Mei 1998.
Mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta, bentrok dengan aparat keamanan dalam aksi unjuk rasa anti Soeharto, Mei 1998.

Unjuk rasa menuntut Soeharto turun dari jabatannya menelan korban jiwa.  Empat mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta, yakni Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie tewas tertembak di dalam kampus, terkena peluru tajam di tempat-tempat vital seperti kepala, tenggorokan, dan dada.

Pasca tewasnya empat mahasiswa tersebut terjadi kerusuhan di Jakarta, 13-15 Mei 1998. Sejumlah kantor dan pusat perbelanjaan dibakar dan juga terjadi penjarahan di berbagai mal.

Senin, 18 Mei 1998 terjadi unjuk rasa besar-besaran. Para mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR, menuntut Soeharto mundur dan membubarkan Golkar. Tiga hari kemudian, Kamis, 21 Mei, Soeharto berhasil dipaksa turun dari kursi kepresidenan yang telah 32 tahun didudukinya. Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya di Istana Negara, Kamis 21 Mei 1998, lalu digantikan oleh Wakil Presiden BJ Habibie.

Tak berhenti sampai di situ, para mahasiswa menuntut Soeharto diadili karena diduga melakukan praktik KKN, serta terus menuntut Golkar dibubarkan dan dinyatakan sebagai partai terlarang.

Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya di Istana Negara, Kamis, 21 Mei 1998.
Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya di Istana Negara, Kamis, 21 Mei 1998.

Presiden Habibie yang mengomandoi Kabinet Reformasi Pembangunan melakukan sejumlah reformasi di bidang politik. Antara lain ABRI dan PNS harus netral. Ini artinya ABRI dan PNS tidak boleh lagi berpihak pada Golkar. Keputusan penting lainnya adalah pemerintahan Habibie mengizinkan berdiri partai-partai baru. Sedangkan di era Orba hanya terdapat tiga partai, yakni Golkar, PPP, dan PDI.

Wakil Presiden BJ Habibie dilantik menjadi Presiden menggantikan Soeharto di Istana Negara, Kamis, 21 Mei 1998.
Wakil Presiden BJ Habibie dilantik menjadi Presiden menggantikan Soeharto di Istana Negara, Kamis, 21 Mei 1998.

Golkar Masih Kokoh Berdiri

Era emas Orba berakhir seiring tumbangnya Soeharto. Namun, tidak demikian halnya dengan Golkar. Tuntutan berbagai elemen masyarakat untuk membubarkan Golkar sia-sia. Pasalnya, partai beringin ini masih tetap kokoh berdiri.

Banyak pengamat yang memprediksi Golkar bakal hancur di Pemilu 1999, yang merupakan pemilu pertama di era reformasi. Namun, fakta di lapangan berkata lain. Secara mengejutkan Golkar menjadi runner up setelah PDI-P.

Pada Pemilu 2004 Golkar tampil sebagai juara. Kemudian menduduki peringkat kedua pada Pemilu 2009 dan Pemilu 2014.

Semula muncul harapan siapa pun yang terpilih menjadi ketum Golkar dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Kabupaten Badung, 14-17 Mei 2016, akan maju sebagai capres di Pilpres 2019. Diharapkan kader Golkar memenangkan perhelatan tersebut. Namun, harapan itu dipatahkan oleh ketum terpilih, Setya Novanto.

Novanto berterus terang akan membawa gerbong Golkar mendukung kader PDI-P yang juga Presiden ke-7 RI Jokowi di Pilpres 2019.

“Sepanjang rakyat mendukung Presiden Jokowi untuk maju ke Pilpres 2019, saya sebagai ketum Partai Golkar bukan hanya mendukung, tetapi akan membela Jokowi,” kata Novanto di Jakarta, Kamis (19/5/2016). (arh, @arif_rhakim)

Baca Juga:

Golkar Dukung Jokowi di Pilpres 2019

AS Hikam: Dukung Jokowi, Golkar Bikin Gerah Parpol Lain

Golkar Targetkan Raih 20% Suara di Pemilu 2019

Golkar Kendaraan Jokowi di Pilpres 2019?

Didukung Golkar Pemerintahan Jokowi Semakin Solid

Golkar Ditantang Juara Pilkada, Pileg dan Pilpres

Didukung Golkar Pemerintahan Jokowi Semakin Solid

Ormas Tommy Soeharto Kecewa Akom Tidak Bertarung Sampai Akhir

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.