Jumat, 9 Desember 22

Soeharto, Keluarga Cendana, dan Munaslub Golkar

Soeharto, Keluarga Cendana, dan Munaslub Golkar

Jakarta, Obsessionnews – Desakan Partai Golkar dipimpin keluarga Cendana agar bisa berjaya lagi seperti era Orde Baru (Orba) tempo hari gencar disuarakan oleh beberapa elemen masyarakat. Keluarga Cendana adalah julukan populer bagi keluarga mantan Presiden Soeharto dan pendiri Golkar yang berdomisili di Jl. Cendana, Menteng, Jakarta Pusat.

Tommy Soeharto (kiri). (Foto: Edwin Budiarso/Obsessionnews.com)
Tommy Soeharto (kiri). (Foto: Edwin Budiarso/Obsessionnews.com)

Namun, setelah putra Soeharto, yakni Hutomo Mandala Putra atau yang akrab dipanggil Tommy, memutuskan tak maju sebagai calon ketua umum (ketum) dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) di Nusa Dua, Bali, 15-17 Mei 2016, tuntutan Golkar dipimpin keluarga Cendana itu kini mulai meredup.

Golkar didirikan oleh Soeharto dan pimpinan TNI Angkatan Darat lainnya pada 20 Oktober 1964 untuk membendung pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada Pemilu 1971, yang merupakan pemilu pertama di era Orba, Golkar tampil sebagai juara. Tren positif ini berlanjut pada Pemilu 1977, Pemilu 1982, Pemilu 1987, Pemilu 1992, dan Pemilu 1997.

Kesuksesan partai beringin mendulang prestasi cemerlang dalam enam kali pemilu tersebut karena menggunakan ‘senjata’ trisula ABG, yakni ABRI, Birokrasi, dan Golkar. ABRI yang saat itu terdiri dari unsur TNI dan Polri wajib mendukung Golkar. Demikian pula pegawai negeri sipil (PNS) wajib menyokong Golkar. Golkar juga mewajibkan kader-kader Golkar beserta onderbouw-nya memenangkan Golkar.

Orba identik dengan Golkar, karena presiden dan menteri-menterinya berasal dari Golkar.

Soeharto yang secara de facto menjadi Presiden kedua RI pada 1966, duduk sebagai Ketua Dewan Pembina Golkar. Di bawah kendali kepemimpinannya Golkar tak tertandingi oleh siapapun. Ia menempatkan orang kepercayaannya sebagai ketum Golkar. Siapapun yang menjabat ketum Golkar ibarat wayang, sementara dalangnya adalah Soeharto.

Pada pertengahan 1997 Indonesia dilanda krisis ekonomi, yang berlanjut ke krisis moneter (krismon), dan krisis kepercayaan kepada pemimpin nasional. Unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa dan elemen masyarakat lainnya marak, menuntut reformasi kepemimpinan. Selain itu para demonstran menuntut Golkar dibubarkan.

Gerakan reformasi berhasil menjungkalkan Soeharto dari kursi presiden yang didudukinya selama 32 tahun pada 21 Mei 1998. Orba pun tumbang, dan berganti dengan era reformasi.

Wakil Presiden BJ Habibie kemudian naik kelas menjadi RI-1. Habibie melakukan reformasi di bidang politik, antara lain ABRI dan PNS harus netral. Selain itu Habibie mengizinkan berdirinya partai-partai baru. Sebelumnya di era Orba hanya terdapat tiga partai, yakni Golkar, PPP, dan PDI. Keputusan penting lainnya adalah percepatan Pemilu dari tahun 2002 menjadi tahun 1999.

Setelah Soeharto lengser keprabon dilakukan Munaslub Golkar untuk menggantikan Harmoko pada Juli 1998. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Akbar Tandjung yang didukung oleh pemerintah terpilih sebagai ketum Golkar yang baru. Di Munaslub itu Akbar mengalahkan mantan KSAD Jenderal (Purn) Edi Sudrajat.

Keluarga Cendana Disingkirkan

Golkar wajah baru menghapus jabatan Dewan Pembina. Ini artinya Soeharto disingkirkan. Bukan hanya Soeharto, anak-anaknya pun tak dimasukkan ke dalam kepengurusan Golkar. Pada kepengurusan Golkar di era Orba, dua anak Soeharto menduduki posisi strategis. Siti Hardiyanti Rukmana atau Mbak Tutut menjadi salah seorang ketua DPP, dan Bambang Trihatmodjo menjabat Bendahara Umum.

Penyingkiran keluarga Cendana di kepengurusan Golkar pimpinan Akbar Tandjung ini untuk menunjukkan ke publik: Inilah Golkar baru yang tak ada kaitannya dengan mantan penguasa Orba.

Berbagai kalangan memprediksi Golkar akan hancur di Pemilu 1999. Namun, ramalan itu meleset. Dalam pemilu yang diikuti 48 partai itu Golkar masih berjaya, meski tak duduk di peringkat pertama. Saat itu Golkar berada di posisi kedua pemenang pemilu setelah PDI-P.

Pada Pemilu 2004 Akbar berhasil membawa Golkar menjadi pemenang, sementara PDI-P turun ke peringkat kedua.

Pada tahun 2005 Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) terpilih menjadi Ketum Golkar setelah mengalahkan Akbar di Munas. Pada Pemilu 2009 JK membawa Golkar tetap berada di papan atas, yakni menduduki tempat kedua setelah Partai Demokrat. Sementara itu PDI-P harus puas menempati posisi ketiga.

Merangkul Kembali Keluarga Cendana

Tahun 2009 Golkar menggelar Munas di Pekanbaru, Riau. Pertarungan sengit terjadi antara Aburizal Bakrie alias Ical melawan Surya Paloh. Dan akhirnya yang terpilih menjadi ketum adalah Ical.

Golkar kembali merangkul keluarga Cendana. Ical merekrut Siti Hediati atau Mbak Titiek sebagai wakil sekretaris jenderal (wasekjen). Ini strategi Golkar untuk menyedot suara para pendukung Soeharto. Strategi ini cukup manjur, di mana Golkar tetap bertahan di papan atas, yakni menduduki peringkat kedua setelah PDI-P pada Pemilu 2014.

Ical kembali terpilih menjadi ketum dalam Munas Golkar di Bali pada Desember 2014. Di periode keduanya ini Ical kembali menggaet Mbak Titiek. Kali ini Mbak Titiek diberi kepercayaan sebagai Wakil Ketum.

Golkar Pecah

Terpilihnya Ical menduduki posisi ketum untuk periode kedua merupakan awal perpecahan di tubuh Golkar. Sejumlah politisi Golkar yang dipelopori Agung Laksono menolak Munas Bali, lalu membuat Munas tandingan di Ancol, Jakarta. Dalam Munas Ancol itu Agung terpilih sebagai ketum.

Sial bagi Ical. Pemerintah melalui Kementerian Hukum dan HAM tak mau mengakui hasil Munas Bali. Sebaliknya Kemenkumham mengesahkan kepengurusan hasil Munas Ancol. Kasus ini kemudian bergulir ke meja hijau.

Untuk mengatasi konflik tersebut kubu Ical dan kubu Agung sepakat menggelar Munaslub tahun 2016. Keputusan penting itu diambil dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Golkar di Jakarta pada Januari lalu. Ical dan Agung menyatakan tak akan maju di Munaslub.

Panitia membuka pendaftaran bakal calon ketum tanggal 3-4 Mei 2016. Yang telah mendaftar ada delapan orang, yakni Ade Komaruddin, Setya Novanto, Mahyudin, Aziz Syamsudin, Airlangga Hartanto, Sahrul Yasin Limpo, Priyo Budi Santoso, dan Indra Bambang Utoyo.

Siapapun nanti yang akan terpilih menjadi ketum, niscaya akan membawa Golkar tetap berada di papan atas. Golkar akan tetap menjadi partai besar. Pasalnya, akar beringin telah puluhan tertanam kuat, sehingga pohon beringin sangat sulit tumbang.

Golkar adalah partai kader. Kaderisasi berjalan lancar di semua tingkatan, sehingga kader-kader Golkar terkenal tangguh. Pasca tumbangnya Soeharto dan Orba, Golkar telah membuktikan dirinya tetap partai besar. Hal ini sekaligus mematahkan anggapan hanya keluarga Cendana yang bisa membuat Golkar berjaya. (arh, @arif_rhakim)

Baca Juga:

Selamat Datang Soeharto Muda di Munaslub Golkar

Tommy Soeharto Buang Peluang Emas

Pasti Kalah, Alasan Tommy Ogah Maju Caketum Golkar

Tommy Soeharto Tak Mau Lakukan Politik Uang

‘Timing’-nya Kurang Tepat, Tommy Batal Maju Caketum Golkar

DPD II Golkar Dukung Tommy Soeharto

Road Show Dukung Tommy Soeharto Capres 2019

Sudah Saatnya Tommy Soeharto Selamatkan Golkar

Tommy Tak Hadiri Sosialisasi Munaslub Golkar

Tommy Ubah Peta Pertarungan Calon Ketum Golkar

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.