Sabtu, 20 April 19

Soal Ahmad Dhani, Ruhut: Kubu Prabowo Jangan Merasa Paling Benar

Soal Ahmad Dhani, Ruhut: Kubu Prabowo Jangan Merasa Paling Benar
* Ruhut Sitompul. (Foto: Albar/OMG)

Jakarta, Obsessionnews.com – Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Ruhut Sitompul, menyesalkan kubu Prabowo-Sandiaga yang kerap kali menuding kasus ujaran kebencian yang menimpa Ahmad Dhani bagian dari kriminalisasi. Padahal sudah ada fakta-fakta hukum di pengadilan.

“Jadi jangan merasa paling benarlah,” kata Ruhut saat dihubungi, Jumat (1/2/2019).

Ruhut membandingkan dengan kasus mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang langsung ditahan setelah divonis 2 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Saat itu pihak Ahok menerima. Namun untuk kasus Ahmad Dhani dan Buni Yani kubu sebelah menolak.

 

Baca juga:

TKN: Ahmad Dhani Menjadi Korban dari Ucapannya Sendiri

Pesan Dhani untuk Anaknya: Katakan Kebenaran Walaupun Pedang di Ujung Leher

Dihuni 200 Orang, Sel Ahmad Dhani Bau Pesing

 

“Memang sudah putusan itu demikian kok dan langsung masuk (penjara). Kok kalau Ahok boleh seperti itu, tapi kalau mereka tidak? Inilah orang yang enggak pernah bercermin. Gentlemanlah! Karena itu kan vonis, hormati hukum di Indonesia,” tambah dia.

Ruhut heran kenapa kasus Dhani dan Buni Yani selalu dikaitkan dengan pemerintahan Presiden Jokowi. Padahal, kata dia, Jokowi tidak punya kewenangan untuk mengintervensi hukum. Menurut Ruhut, ini justru menunjukan pola pikir para pendukung Prabowo-Sandiaga mengenai penegakan hukum bisa dintervensi pemimpin.

“Itu bedanya Pak Jokowi dengan Prabowo kalau kita dengar waktu debat. Pak Jokowi menjadikan hukum sebagai panglima, sedangkan Pak Prabowo menganggap dia panglima hukum,” ujar Ruhut.

“Akhirnya ada kediktatoran dan kembali ke Orde Baru. Karena itu Pak Jokowi tidak pernah mau intervensi,” tambah dia.

Penahanan Ahmad Dhani mendapatkan respons keras dari pendukung Prabowo-Sandiaga. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menganggap ini merupakan lonceng kematian demokrasi karena membatasi kebebasan berpendapat orang.

Sementara itu, Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Priyo Budi Santoso, menyebut Buni Yani sebagai salah satu pejuang demokrasi. Ia menilai baik Dhani maupun Buni Yani adalah korban rezim. Sebab mereka berada pada kubu oposisi pemerintah saat ini.

Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhkan vonis satu tahun enam bulan penjara kepada Ahmad Dhani atas kasus ujaran kebencian, Senin (28/1/2019).

Vonis tersebut lebih rendah dari tuntutan jaksa penuntut umum, yakni dua tahun penjara. Seusai vonis, Dhani langsung ditahan di Rutan Cipinang, Jakarta Timur. Atas putusan tersebut, Dhani mengajukan banding.

Sementara itu, Buni Yani divonis 18 bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Bandung. Ia akan dieksekusi Jumat ini. Buni Yani dinyatakan bersalah melanggar Pasal 32 ayat Undang-undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Kasus yang menjerat Buni Yani bermula saat dia mengunggah potongan video Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ketika masih menjabat Gubernur DKI menjadi 30 detik pada 6 Oktober 2016. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.