Rabu, 22 September 21

SN Amoral Jika Benar Catut Nama Jokowi

SN Amoral Jika Benar Catut Nama Jokowi

Bandung, Obsessionnews – SN amoral jika benar mencatut nama Presiden Jokowi. Penilaian ini disampaikan tokoh budaya Jabar Memet Hamdan usai acara Diskusi panel Nawasabda “Pre-Nusantara Cultural Summit” di Hotel Panorama Lembang, Rabu (18/11).

Memet menegaskan, seorang yang dipercaya menjadi wakil rakyat dan diharapkan oleh rakyat adalah seorang ketua DPR, sehingga jika benar melakukan pencatutan nama, maka itu amoral. “Saya pikir legitimasi dari institusi-institusi seperti MKD kepercayaan masyarakat sudah jauh melorot, kalaupun saya tidak katakan itu, orang sudah tidak percaya kok,”ujar Memet.

Ia mencontohkan kasus beberapa waktu lalu tentang anggaran gedung DPR kemudian dibiarkan, namun  muncul kembali sampai jumlah anggaran  1 Triliyun, sehingga hal itu merupakan kapitalisasi politik. “Apalagi berita sekarang yang menyebar kaitannya dengan freeport, yang katanya merupakan bagian dari rejeki sebuah usaha, itu kapitalisasi politik sudah jelas dan lebih berat dari tindakan korupsi,” paparnya.

Menurutnya, SN jangan bersembunyi di balik yuridis formal, misalnya dengan beralasan,bahwa MKD juga tidak menyalahkan dirinya.  Sehingga  SN sebaiknya segera mengundurkan diri, contohlah pemimpin di negara Jepang.

“Solusi itu semua harus dilakukan dengan aspek budaya, sehingga dapat ngerebuilding dan membangun semangat moral mental dari bawah ke atas, karena banyak sektor kehidupan sudah dihancurkan dengan eksistensi politik,” ujar Memet.

nawasabda3

Memet  bersama para tokoh budaya, suku baduy, kampung naga dan suku anak dalam yang ada di Jabar menggagas  acara diskusi panel Nawasabda kebudayaan Nusantara Cultural Summit 2015 serta dialog kebudayaan pengembangan potensi budaya, bahasa dan seni bersama Dinas Pariwisata Kebudayaan Jabar untuk menyusun platform kebudayaan dan peta nusantara 2015-2045 sebagai respon Nawacita Presiden Jokowi dan Poros Maritim. “Penting bagi kita untuk mengingat, bahwa Indonesia dengan berbagai macam kebudayaan tidak terpecahkan di era modernisasi saat ini,” ucapnya.

Nawasabda berbunyi Indonesia adalah kemajemukan, Menemukan akar kekuatan kebhinekaan, Kekuasaan seharusnya memperkokoh kebhinekaan bukan sebaliknya, Perlu gerakan kebudayaan,  Harus ada platform gerakan, Harus ada peta jalan atau roadmap bagi suksesnya gerakan kebudayaan, Menegakan Dasasila Bandung 1955, Membentuk kesepahaman dalam menjemput era budaya 2015-2045 dan membentuk tindakan jalan budaya. Nawasabda akan sejalan dengan Nawacita Presiden jokowi. Tampak hadir dalam acara tersebut budayawan Yus Ruslan Achmad dan sejumlah tokoh Jawa Barat lainnya. (Dudy Supriyadi)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.