Kamis, 9 Desember 21

Sinta Nuriyah Wahid: Berjuang Untuk Kaum Perempuan, Pluralisme dan Toleransi

Sinta Nuriyah Wahid: Berjuang Untuk Kaum Perempuan, Pluralisme dan Toleransi
* Sinta Nuriyah Wahid.

Pembelaan Sinta Nuriyah Wahid terhadap kaum perempuan, toleransi, dan pluralisme tak perlu ditanyakan lagi. Rekam jejak istri Presiden RI ke-4 itu pun kerap menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Selain suaminya, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, nama Sinta Nuriyah Wahid pantas dikedepankan sebagai tokoh pejuang pluralisme dan toleransi beragama. Gelaran buka puasa di Gereja St Yakobus Zebedeus dan Balai Kelurahan Pudak Payung pada Ramadhan lalu, hanyalah satu dari aktivitas Sinta merajut toleransi bersama warga lintas agama.

Meski menuai protes dari pihak yang tak memahami konteks sesungguhnya, perempuan kelahiran Jombang, 8 Maret 1948 itu tetap menggelar kegiatan yang sejatinya telah dilakukannya sejak 16 tahun terakhir itu. Acara buka puasa maupun sahur jama’i (bersama) dilakukan Sinta tak hanya bersama masyarakat lintas agama, melainkan juga dengan kaum marginal, seperti para pemulung, anak jalanan, tukang becak, buruh bangunan, dan mbok-mbok bakul.

Sinta saat mendapat kunjungan calon Presiden RI, ketika itu, Joko Widodo.
Sinta saat mendapat kunjungan calon Presiden RI, ketika itu, Joko Widodo.

Baginya, berpuasa maupun sahur bersama dengan berkeliling Nusantara, menjadi wahana untuk menjaga kerukunan antar umat beragama, menjaga keharmonisan bangsa dan tanah air.

“Saya menjumpai saudara-saudara sebangsa dan setanah air, bersilaturahim, berbagi rasa, berbagi kasih, berbagi senyum hangat karena saya yakin kaum dhuafa di Indonesia ini tidak pernah dikunjungi, tidak pernah ditengok oleh mereka yang sebetulnya bertanggung jawab demi kesejahteraan mereka,” kata Sinta beralasan.

Cara Sinta itu telah dilakukannya sejak ia menjadi Ibu Negara mendampingi Gus Dur. Sinta pun tak jarang harus datang ke tempat kaum marginal beraktivitas. Kegiatan tersebut terus berlanjut kendati Gus Dur telah wafat. Kini, Sinta melanjutkan kebiasaannya itu dengan bendera Yayasan Puan Amal Hayati.

Sinta menggelar buka puasa bersama masyarakat Bantul, Ramadhan lalu.
Sinta menggelar buka puasa bersama masyarakat Bantul, Ramadhan lalu.

Bersama yayasan itu pula Sinta memperjuangkan hak-hak perempuan yang nyatanya masih tersisihkan di negeri ini. Lembaga sosial yang berdiri pada 3 Juli 2000 ini memiliki tujuan untuk mewujudkan masyarakat yang terbebas dari kekerasan berdasarkan prinsip-prinsip moral, agama, dan kemanusiaan, khususnya bagi kaum perempuan serta menjadikan pesantren sebagai basis gerakan penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Melalui yayasan tersebut, Sinta berharap perempuan Indonesia tidak hanya berperan untuk keluarga di rumah, namun lebih bisa berperan aktif kepada masyarakat luas dengan peran dan keahlian masing-masing.

Di balik kegigihan Sinta berjuang untuk perempuan, pluralisme, dan toleransi, nama almarhum KH Abdurrahman Wahid selalu menjadi sorotan. Ya, Sinta sangat beruntung memiliki seorang suami yang memiliki pemikiran sejalan dengannya dan selalu mendukung aktivitasnya. Nyatanya, Ketua Umum PBNU periode 1984-1999 itu memang guru bagi Sinta, teman hidup sekaligus sahabat dalam perjuangannya. (Fath/WO)

Tulisan ini dimuat juga oleh Majalah Women’s Obsession, edisi Agustus 2016.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.