Sabtu, 29 Januari 22

Sineas Film, Mira Lesmana

Sineas Film, Mira Lesmana
* Sineas Film, Mira Lesmana

Dalam dirinya terletak semangat untuk menggairahkan film-film di layar bioskop Tanah Air, lewat karya-karyanya yang terkenal cerdas dan mendidik.

Mira Lesmanawati atau lebih populer dengan nama Mira Lesmana, dikenal sebagai produser bertangan dingin. Sudah cukup banyak film dilahirkan dari ide kreatifnya. Mulai dari yang berhasil meraup banyak penonton, hingga film dengan muatan-muatan pesan idealisme tinggi. Lulusan Institut Kesenian Jakarta ini mendirikan Miles Production (Miles Films) pada tahun 1995.

Lewat perusahaannya, dia membuat program televisi Anak Seribu Pulau. Kemudian mulai menapaki dunia perfilman nasional, saat industri ini dianggap banyak kalangan tengah berada di masa kegelapan. Salah satu karyanya, Ada Apa Dengan Cinta (AADC) disebut sebagai tonggak kebangkitan film nasional. Karya-karyanya berhasil menang di Festival Film Bandung 2002 dan unggulan di Festival Film Indonesia 2004.

Sementara ‘Eliana, Eliana’ menawan di Best Critics Cinema di ajang Festival Film Internasional Singapura dan Festival Film Internasional Vancouver. Dia juga mencetak sukses lewat film Laskar Pelangi berlatar Belitung yang berhasil mendorong roda industri pariwisata nasional. Tahun lalu, film Athirah meraih prestasi gemilang. Enam Piala Citra dibawa pulang, antara lain untuk Film Terbaik, Penyutradaraan Terbaik, Aktris Utama Terbaik, Penulisan Skenario Adaptasi Terbaik, Pengarah Artistik Terbaik, dan Penata Busana Terbaik.

Menekuni dunia film bagi istri aktor Mathias Muchus ini tak ubahnya meniti perjalanan hidup. Banyak pelajaran, sekaligus kejutan yang dia temui dalam perjalanan tersebut. Namun, Mira merasa tidak boleh berhenti belajar segala hal, membaca sejarah, menerka perubahan di masa depan, dan memahami ragamnya budaya Indonesia.

Dia mengaku selalu menyediakan waktu untuk berkelana ke pelosok Indonesia berbicara dengan orang-orang lokal dan memahami mereka.

“Saya selalu bilang ke teman-teman sineas, jangan ada beban ketika membuat film. Kita harus percaya dengan ide dan pentingnya film itu dibuat. Jangan takut tidak ada yang menonton atau tidak dapat penghargaan. Kalau itu sudah dijalani, maka semua akan datang dengan sendirinya,” tutur ibu satu anak ini. Kini, dirinya tengah disibukkan dengan persiapan film terbaru yang mengambil latar Sumba Timur bersama dengan sutradara Riri Riza. (Naskah: Angie Diyya, Foto: Istimewa)

Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Women’s Obsession edisi Agustus 2017.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.