Minggu, 26 September 21

Sikapi Sakit dengan Cara yang Positif

Sikapi Sakit dengan Cara yang Positif
* Ilustrasi orang sakit. (Foto :U-Report)

Jakarta, obsessionnews.com – Sakit sejatinya memiliki kandungan hikmah yang sangat besar. Sakit dan musibah lainnya boleh jadi merupakan tanda cinta dari Allah Ta’ala.

Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridha, maka ia yang akan meraih ridha Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah dari Anas bin Malik).

Sungguh luar biasa makna dari sakit. Karena datangnya penyakit, bagi orang-orang yang memahaminya, sesungguhnya mendatangkan berbagai kebaikan. Maka sikapi setiap musibah, termasuk sakit, dengan cara yang positif.

Mari kita urai, di bagian mana sajakah sakit bisa dinilai sebagai kebaikan?

Sakit itu dzikrullah. Umumnya orang yang sedang sakit akan lebih sering menyebut asma Allah dibandingkan ketika dalam sehatnya. Melalui sakit seseorang akan dilecut kesadarannya tentang ketidakberdayaan dan kemahakuasaan Allah Ta’ala sebagai Sang Maha Penyembuh.

Sakit itu istighfar. Beruntunglah Anda yang ketika sakit segera teringat pada dosa-dosa yang pernah diperbuat. Saat mengingat dosa-dosa, lisan akan terbimbing untuk selalu beristigfar dan memohon ampunan kepada Allah.

Sakit itu tauhid. Ketika sakit melanda hebat, sering kali kita refleks mengucapkan kalimat Thayyibah. Itulah tanda hati kita masih “sehat” kendati badan sedang sakit. Maka beruntung bagi Anda yang hatinya masih dinaungi hidayah Allah Ta’ala.

Sakit itu muhasabah. Orang yang sedang sakit akan punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri, menghitung-hitung bekal apa yang telah dikumpulkan untuk kembali menghadap Ilahi. Kondisi seperti ini boleh jadi jarang kita lakukan saat kita sedang berada dalam keadaan sehat.

Sakit itu jihad. Kendati tawakal atas takdir yang telah ditetapkan Allah, namun orang yang sedang sakit tidak boleh hanya pasrah. Ia memiliki kewajiban untuk berikhtiar, terus berusaha mencapai kesembuhan agar ia pulih kembali dan dapat beribadah secara paripurna kepada Allah Ta’ala.

Maka berdoalah,

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ وَاشْفِهُ وأَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَآءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

Allahumma Rabbannas adzhibil ba’sa, Isyfii wa antas syaafii’, Laa syifaa-a illa syifaa-uka, syifaa-an laa yughaadiru saqamaa

“Ya Allah Rabb manusia, dzat yang menghilangkan rasa sakit, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau Dzat yang Maha menyembuhkan, tidak ada kesembuhan melainkan dari kesembuhan-Mu, yaitu kesembuhan yang tidak menyisakan rasa sakit,” (HR. Bukhari).

Sakit itu ilmu. Saat sakit, kita akan memeriksakan kondisi tubuh dan berkonsultasi kepada dokter. Dari sini ada hikmah, kita memiliki bekal ilmu dan pengetahuan agar nantinya tidak mudah sakit kembali.

Sakit itu nasihat. Saat dijenguk, misalnya, orang sakit biasanya mengingatkan temannya yang sehat untuk menjaga diri. Sebaliknya, orang yang sehat akan menghibur temannya yang sakit agar bersabar. Hebatnya, Allah cinta dan sayang kepada keduanya.

Sakit itu silaturahim. Saat dijenguk, keluarga yang jarang bertemu pun akhirnya bisa berkumpul dengan penuh senyum dan melepas rindu. Ambil saja hikmahnya bahwa sakit adalah perekat ukhuwah.

Sakit itu penggugur dosa. Orang yang sedang sakit sesungguhnya dia sedang dicintai sang Pencipta sekaligus sedang diberi ujian. Jika ia ikhlas dan bersabar atas sakit yang menimpanya, maka Allah Ta’ala akan gugurkan dosa-dosanya.

Sakit itu mustajab. Sesungguhnya doa orang yang sedang sakit adalah mustajab, mudah diterima Allah Ta’ala. Maka saat menjenguk yang sakit, mintalah doa kepadanya. Dalam sebuah riwayat disebutkan, ulama besar Imam As-Suyuthi kerap berkeliling kota mencari orang sakit, lalu beliau minta didoakan.

Sakit itu menyulitkan setan. Orang yang sedang sakit akan sangat sulit diajak berbuat maksiat. Karena lemah badannya, si sakit tak mampu dan tak mau bahkan dosa yang lalu disesali dan ia pun memohon ampunan.

Sakit itu membuat sedikit tertawa dan banyak menangis. Inilah sebuah sikap keinsyafan yang disukai Nabi dan para makhluk langit.

Dalam kondisi demikian, sakit juga bisa meningkatkan kualitas ibadah karena si sakit senantiasa ingat kepada Allah Ta’ala. Saat ia melakukan rukuk dan sujud, maka dia akan lebih khusyuk kendati dalam kondisi fisik tidak prima. Ia pun akan lebih banyak bertasbih dan beristighfar, serta bermunajat dengan penuh khusyuk.

Sakit itu memperbaiki akhlak. Saat sakit, kesombongan terkikis, sifat tamak dipaksa tunduk, pribadi dibiasakan santun, lembut dan tawadhu’. Dan pada akhirnya sakit membawa kita untuk selalu ingat akan kematian.

Wallahu a’lam bish shawab. (Fath/red)

Sumber: muslimobsession.com

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.