Rabu, 20 Oktober 21

Sikap Kenegarawanan Ala Anis Matta

Sikap Kenegarawanan Ala Anis Matta
* Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta.

Jakarta, Obsessionnews – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang merupakan partai Islam modern memiliki kader-kader yang dikenal militan. Partai yang memiliki jutaan anggota ini dikomandoi Anis Matta, dan hal ini membuat Anis sebagai tokoh yang berpengaruh besar dalam bidang politik, ekonomi, sosial, agama, dan lain sebagainya.

Tumbangnya pemerintahan Orde Baru (Orba) yang ditandai dengan mundurnya Presiden Soeharto setelah berkuasa selama 32 tahun pada Kamis 21 Mei 1998, membawa berkah bagi berbagai elemen masyarakat. Indonesia memasuki babak baru dengan beralihnya pemerintahan Orba ke pemerintahan reformasi pimpinan Presiden BJ Habibie yang sebelumnya menjadi Wakil Presiden. Terobosan besar yang dilakukan Habibie di bidang politik adalah memperbolehkan berdirinya partai-partai baru. Sebelumnya di era Soeharto hanya terdapat tiga partai, yakni Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Peluang emas ini dimanfaatkan oleh para pemuda dan mahasiswa muslim yang gencar berdemonstrasi untuk melengserkan Soeharto. Pada 20 Juli 1998 Partai Keadilan (PK) dideklarasikan di Masjid Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta, dan mengangkat Nurmahmudi Ismail sebagai Presidennya.

Pada Pemilu 1999 PK memperoleh 1,436,565 suara, sekitar 1,36% dari total perolehan suara nasional, dan mendapat 7 kursi di DPR. Meskipun demikian, PK gagal memenuhi ambang batas parlemen sebesar 2%, sehingga tak dapat mengikuti Pemilu 2004. Untuk dapat mengikuti Pemilu 2004 PK harus berganti nama.

Hasil minim yang dicapai PK pada Pemilu 1999 itu membuat sejumlah aktivis muslim lainnya kecewa. Para aktivis itu kemudian mendirikan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang dipelopori Anis Matta pada 2003. PK yang dipimpin Nurmahmudi Ismail kemudian bergabung dengan PKS. Hidayat Nurwahid dari unsur PK ditetapkan sebagai Presiden, sedangkan Anis Matta dari unsur PKS menjadi Sekretaris Jenderal (Sekjen).

PKS tampil cukup fenomenal pada Pemilu 2004 dengan memperoleh 8.325.020 suara atau sekitar 7.34% dari total perolehan suara nasional. PKS berhasil mendudukkan 45 wakilnya di DPR dan menduduki peringkat keenam partai dengan suara terbanyak.

Pada Pemilu 2009 perolehan suara PKS meningkat menjadi 8.204.946 suara atau 7,88% dari total perolehan suara nasional dan mendapat 57 kursi di DPR.

Tahun 2013 PKS dilanda masalah besar, yakni Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan dijadikan tersangka dalam kasus korupsi impor daging sapi. Luthfi kemudian digantikan oleh Anis Matta.

Kasus Luthfi tersebut berdampak negatif bagi PKS pada Pemilu 2014. Meski perolehan suara PKS meningkat menjadi 8,480,204 suara atau 6,79%, dari total perolehan suara nasional, jumlah kursi di DPR menurun menjadi 40 kursi.

Pada Pilpres 2019 PKS bersama Gerindra, PAN, PPP, dan Golkar yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih (KMP) mendukung duet Prabowo Subianto – Hatta Rajasa. Ternyata Prabowo Subianto – Hatta Rajasa tak mampu menggungguli duet Joko Widodo (Jokowi) – Jusuf Kalla (JK) yang diusung Koalisi Indonesia Hebat (KIH) yang terdiri dari PDI-P, NasDem, PKB, Hanura, dan PKPI.

Setelah jagoannya keok di Pilpres 2014, PKS menjadi partai oposisi, dan Anis Matta yang terdepan menyuarakan kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah.

Anis Matta yang kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, 7 Desember 1968, terpilih menjadi anggota DPR pada Pemilu 2004. Ia berhasil mempertahankan kursinya di DPR pada Pemilu 2009, dan menjadi Wakil Ketua DPR. Ia kemudian mengundurkan diri dari DPR karena dilantik menjadi Presiden PKS pada 1 Februari 2013.

Selain sebagai politisi, Anis juga populer sebagai penulis buku-buku politik dan dakwah. Dan tulisan-tulisannya banyak menjadi rujukan di kalangan aktivis dakwah kampus.

Anis menikah dengan Anaway Irianty Mansyur dan dikaruniai sembilan anak. Kemudian dia menikahi Szilvia Fabula, seorang mualaf asal Hungaria Mei 2006, dan dikaruniai seorang anak.

Memiliki Sikap Kenegarawanan
Terkait kasus korupsi Luthfi Hasan Ishaaq, pada Pemilu 2014 lalu, PKS menjadi target penghancuran. Hampir tiap hari menjadi sasaran penghinaan, dari sebutan ‘sapi’ sampai pelecehan terhadap pribadi Presiden PKS.

Penghinaan terhadap Anis antara lain dilakukan oleh netizen bernama Ernest Prakasa. Ernest dengan bangganya meng-upload foto dirinya menginjak foto Presiden PKS di akun twitternya, @ernestprakasa Sabtu (19/4/2014)

“Kapan lagi ye kan?” kicaunya sambil memperlihatkan foto Anis yang diinjak.

Tentu saja kicauan Ernest itu langsung membuat geger dan suasana panas. Para kader PKS murka. Namun situasi panas ini akhirnya langsung dingin, bukan karena Ernes minta maaf ke Anis, atau Anis memaafkan tindakan Ernes. Tapi, justru Anis yang minta maaf kepada Ernes. Lho, kok bisa?

Melalui akun twitternya @anismatta langsung merespons situasi panas ini dengan meminta maaf ke Ernes:

“@ernestprakasa maaf jk ada sikap/kata2 sy yg mmbuat anda kesal.. Msh bnyk pekerjaan utk mmperbaiki bangsa.. Dan itu hrs dilakukan brsama..:)”kicau Anis dengan me-mention langsung akun @ernestprakasa.

Ernes pun merespon baik Anis Matta. “@anismatta Iya Pak. Mohon maaf atas ketidaksopanan saya ya..”

Inilah sikap kenegarawanan Presiden PKS. Bagi Anis persoalan yang seharusnya menjadi perhatian utama masyarakat adalah persoalan negara, persoalan hajat hidup rakyat banyak, bukan persoalan pribadi sang pemimpin.

Sikap kenegarawanan ala Anis itu patut dicontoh oleh pemimpin-pemimpin yang lain. (Arif RH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.