Minggu, 5 Februari 23

Sidang Kanjuruan: Tiga Polisi Didakwa Perintahkan Tembakkan Gas Air Mata

Sidang Kanjuruan: Tiga Polisi Didakwa Perintahkan Tembakkan Gas Air Mata
* Aksi demo protes tragedi Kanjuruan. (Head Topics)

Obsessionnews.com –  Sidang perdana tragedi Kanjuruhan di pengadilan, menyatakan tiga polisi didakwa ‘memerintahkan tembakan gas air mata’ sehingga penonton ‘panik, terhimpit, dan terinjak-injak’.

Sidang di Stadion Kanjuruhan, Malang, yang mengakibatkan sedikitnya 135 orang meninggal dunia pada 1 Oktober 2022 lalu tersebut, mulai digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (16/1/2023).

Tragedi ini menjadi sorotan dunia yang kemudian ditanggapi Presien Joko Widoodo dengan membentuk tim gabungan independen pencari fakta (TGIPF) tidak lama setelah tragedi.

Mengakibatkan 135 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya terluka, tragedi ini merupakan kejadian paling fatal kedua di dunia setelah peristiwa di Kota Lima, Peru, dengan korban jiwa 328 orang pada 1964.

Polri lantas menetapkan enam orang tersangka dari pihak kepolisian dan panitia penyelenggara.

Namun, belakangan salah satu tersangka, yaitu eks Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB), Akhmad Hadian Lukita, bebas dari tahanan Polda Jawa Timur. Hadian bebas karena berkasnya tak kunjung dinyatakan lengkap oleh jaksa. Pada saat bersamaan, masa penahanan Hadian di Polda Jatim sudah habis

Seperti dilansir BBC News Indonesia, dalam sidang perdana, Senin (16/1/2023), lima terdakwa – yang tidak dihadirkan secara fisik di ruang pengadilan – secara bergantian mendengarkan dakwaan jaksa penuntut.

Mendapatkan penjagaan ketat oleh aparat kepolisian, sidang ini tidak dihadiri oleh suporter tim sepak bola Arema, kecuali seorang ibu yang anaknya menjadi korban akibat tragedi itu.

Temuan penyelidikan kepolisian menyimpulkan tragedi itu, antara lain, diakibatkan tindakan brutal aparat keamanan dengan serangan gas air mata.

Kelalaian pihak panitia penyelenggar laga Liga Satu antara Arema lawan Persebaya di stadion itu juga dianggap sebagai salah-satu pangkal masalah.

Lima orang terdakwa itu adalah Ketua Panitia Pelaksana Arema FC, Abdul Haris; Security Officer Suko Sutrisno; Danki 3 Brimob Polda Jatim, AKP Hasdarmawan; Kabag Ops Polres Malang, Kompol Wahyu Setyo Pranoto; serta Kasat Samapta Polres Malang, AKP Bambang Sidik Achmadi.

Selama proses penyelidikan, keluarga korban dan suporter Arema berulang kali melayangkan protes karena penyelidikan itu tidak mengarah ke pimpinan PSSI dan otoritas kepolisian lainnya.

Memerintahkan tembakkan gas air mata
Terdakwa pertama, Komandan Kompi (Danki) 3 Brimob Polda Jawa Timur, AKP Hasdarmawan, disebut oleh jaksa penuntut memerintahkan bawahannya untuk menembakkan gas air mata ke arah penonton.

Dalam amar dakwaannya, Hasdarmawan disebut memerintahkan sejumlah bawahannya untuk beberapa kali melakukan hal itu.

Menurut jaksa, tindakan penembakan gas air mata itu “merupakan kecerobohan” dan “mengakibatkan suporter panik”.

Sehingga, penonton “berdesak-desakan untuk keluar dari stadion sehingga terjadi penumpukan supporter di pintu-pintu stadion terutama di pintu 3, 10, 11, 12, 13 dan 14 yang menyebabkan para suporter terhimpit dan terinjak-injak sehingga menimbulkan kematian sebanyak 135 orang,” demikian amar jaksa penuntut.

Selain itu, penggunaan gas air mata juga bertentangan dengan peraturan PSSI, bahwa “senjata api atau senjata pengurai massa tidak boleh dibawa atau digunakan.”

Disebutkan perbuatan terdakwa diancam pidana Pasal 359 KUHP.

Terdakwa lainnya
Terdakwa Kepala Bagian Operasi (Kabag Ops) Polres Malang, Kompol Wahyu Setyo Pranoto, juga disebut jaksa “membiarkan penembakan air mata”.

Saat laga digelar, Wahyu bertanggung jawab sebagai Kepala Perencanaan dan Pengendalian Operasi (Karendalops).

Dialah yang disebutkan membuat rencana pengamanan laga Arema FC vs Persebaya.

Jaksa menyebut seharusnya Wahyu bertugas “mengendalikan langsung seluruh personel pengamanan dan pelaksanaan pertandingan”.

“Tapi Wahyu membiarkan Brimob menembakkan gas air mata ke arah para suporter,” ujar jaksa penuntut.

Seperti halnya Hasdarmawan, Wahyu juga didakwa melanggar Pasal 359 KUHP tentang kelalaian yang menyebabkan kematian.

Adapun terdakwa Kasat Samapta Polres Malang, AKP Bambang Sidik Achmadi, juga dianggap “turut memerintahkan anak buahnya menembakkan gas air mata” ke arah suporter. (Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.