Selasa, 29 September 20

Si Buah Hati Bertanya di Mana Allah? Ini Jawaban Pakar Tafsir Alquran

Si Buah Hati Bertanya di Mana Allah? Ini Jawaban Pakar Tafsir Alquran
* Ilustrasi dialog ibu dan anak. (Foto: muslimmomy)

Jakarta, Obsessionnews.com
Masa tumbuh kembang anak sering kali membuat orangtua ‘keteteran’. Ada saja tingkah polah yang menggemaskan, membuat khawatir, sampai serangan pertanyaan yang kadang sulit dijawab.

Termasuk ketika si buah hati mulai pintar bertanya, “di mana Allah?”. Pertanyaan yang pasti membuat orangtua pusing tujuh keliling. Lalu, apa jawaban dari pertanyaan tersebut?

“Kalau kita mau menjawab ‘Allah di mana?’ dengan mengandalkan mata kepala kita, maka tidak mungkin terjawab. Kenapa? Karena Allah terlalu terang. Mata kita silau memandang matahari, bagaimana lagi kita memandang pencipta matahari?” ujar ulama pakar tafsir Alquran Prof. Quraish Shihab dalam sebuah tayangan video ‘Semua Murid Semua Guru’ seperti dikutip obsessionnews.com dari muslimobsession.com.

Pertanyaan tentang ‘di mana Allah’ menjadi tema perbincangan Prof. Quraish dengan pemandu acara Najelaa Shihab yang juga adalah putrinya.

Lalu di mana Allah? Pertanyaan yang sejatinya sering juga diutarakan orang-orang dewasa, baik dilontarkan kepada orang lain atau dalam perenungannya.

“Dia di mana-mana. Bekas-bekas atau bukti-bukti wujud-Nya terlihat pada pohon-pohon yang tumbuh, terlihat di lautan, terlihat di bintang-bintang, terlihat di mana-mana..” ungkap Prof. Quraish.

Elaa, sapaan akrab Najelaa yang merupakan praktisi pendidikan, menguatkan pendapat ayahnya. Bahwa mengajak anak mengobservasi alam merupakan salah satu cara mengajak anak mengenal Allah.

“Elaa sering kali menggunakan makhluk untuk menggambarkan adanya Allah. Pohon yang tadinya kecil, kemudian tumbuh besar, meski tidak melihat prosesnya tapi kita yakini ada sesuatu yang melakukan di balik itu,” katanya.

Founder Sekolah Cikal itu teringat contoh yang diberikan Prof. Quraish untuk menjawab pertanyaan ‘di mana Allah’. Ketika itu Prof. Quraish bertanya apakah Elaa tahu ada Amerika, sementara ia tidak pernah pergi ke Negeri Paman Sam tersebut. Elaa menjawab tahu karena ia pernah menonton film tentang Amerika.

“Lalu Abi bilang, Allah itu ada. Yakin gak Allah itu ada? Yakin. Pernah gak lihat Allah? Enggak, tapi yakin ada,” tutur Elaa.

Percaya itu, jelas Prof. Quraish, merupakan kebutuhan manusia. Mantan Rektor IAIN Jakarta itu menganalogikan jika seseorang tidak percaya kepada dokter maka ia tidak akan meminum obatnya.

Namun yang tak kalah penting, imbuhnya, adalah menunjukkan bahwa Allah terlibat dalam setiap apapun yang dilakukan makhluk-Nya.

“Juga di dalam diri kita. Apa pun, tidak ada selembar daun yang terjatuh kecuali Allah terlibat. Rumput-rumput ketika kering, layu, atau ketika menghijau subur, itu ada ‘tangan’ Tuhan di balik itu,” jelasnya.

Elaa kemudian menambahkan bahwa bagi seorang anak, merasakan kehadiran Allah itu seringkali tidak datang dengan sendirinya melainkan perlu bantuan orangtua untuk mengingatkan.

Seperti memulai sesuatu dengan membaca basmalah, berdoa, atau menceritakan sesuatu yang melibatkan Allah di dalamnya.

“Butuh pembiasaan, bahkan dalam hal-hal yang tidak disengaja. Misalkan, ketika ia bersin maka diajarkan untuk mengucapkan ‘alhamdulillah’. Hal sekecil apapun, Allah ada bersama kita,” pungkasnya. (Fath/red/arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.