Minggu, 28 November 21

Shalat Tarawih Super Cepat di Blitar Tidak Sesuai Subtansi

Shalat Tarawih Super Cepat di Blitar Tidak Sesuai Subtansi

Jakarta, Obsessionnews – Tradisi shalat tarawih dan witir di Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Desa Mantenan Kecamatan Udanawu Blitar mengundang perhatian publik. Pasalnya, mereka menjalankan ibadah di bulan puasa itu dalam waktu yang sangat singkat 7 menit dengan 23 rekaat.

‎Menanggapi itu, KH Miftahul Achyar (Wakil Rais Am PBNU) menilai, shalat tarawih ‎di pondok tersebut tidak sesuai dengan subtansi. Shalat menurutnya, harus dilakukan dengan tenang, dengan tetap memperhatikan rukun dah sahnya shalat.

“Tujuan shalat, adalah untuk mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya: Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku Al-Qur’an Surah Thaha 14,” katanya.

Achyar menjelaskan, secara bahasa, kata “tarawih” merupakan bentuk plural (jamak) dari kata “tarwihah”, artinya, “istirahat”. Dalam praktek shalat yang dicontohkan oleh umat-umat terdahulu, jamaah mengambil waktu jeda atau istirahat disetiap empat rekaat untuk berdzikir.

‎”Karena itu, shalat yang baik seharusnya tidak menghilangkan tuma’ninah_ dalam setiap gerakannya. Tidak tergesa-gesa, apalagi dilakukan dengan gerakan superkilat‎,” jelasnya.

Dalam hadits dikeluarkah oleh At-Tirmidzi dan An-Nasâ’i dari Al-Fadl bin Abbas juga disebutkan bahwa Shalat itu haruslah dalam keadaan tenang, merendahkan diri, mendekatkan diri, meratap, menyesali dosa-dosa, seraya mohon ampun.

“Nah, jika kita lihat rekaman video tarawih superkilat yang beredar, tampak bahwa tidak ada ketenangan (tuma’ninah) sama sekali. Itu jauh dari tarawih secara definisi,” terangnya.

Persoalan tuma’ninah dalam i’tidal dan duduk di antara dua sujud memang terdapat perbedaan pendapat di dalam Madzhab Syafii. Namun, ulama
Syafi’iyah sepakat bahwa itu merupakan rukun yang bersifat wajib, baik dalam shalat fardlu maupun shalat sunnah.

“Apalagi ini adalah shalat tarawih yang makna dasarnya adalah istirahat. Jadi, menurut fiqih Syafi’iyah, hal itu tidak dibenarkan karena tanpa tuma’ninah dan menghilangkan makna tarawih.” jelasnya.

Untuk itu, ia meminta pengurus wilayah NU Jatim segera melakukan pendekatan kepada pengasuh pondok pesantren tersebut. Untuk bisa merubah memang tidak gampang, karena tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. ‎(Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.