Jumat, 2 Oktober 20

Setelah India, Bangladesh Juga Tertarik Belajar Penyelenggaraan Haji Indonesia

Setelah India,  Bangladesh Juga Tertarik Belajar Penyelenggaraan Haji Indonesia
* Suasana di Masjid Nabawi, Madinah, Jumat (7/9/2018). (Foto: Kemenag)

Madinah, Obsessionnews.com — Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Daerah Kerja (Raker) Madinah mendapat kunjungan dari tim misi haji Bangladesh di Madinah, Kamis, (6/9/2018) waktu Saudi. Sehari sebelumnya penyelenggara haji India juga melakukan kunjungan serupa ke Daker Madinah.

Dikutip dari keterangan resmi Kementerian Agama (Kemenag) RI, Sabtu (8/9), tim Media Center Haji (MCH) Madinah melaporkan, kedua negara tersebut tertarik bertukar informasi dan mengapresiasi terhadap penyelenggaraan haji Indonesia dengan jumlah jemaah terbesar di dunia. Namun mampu mengatur secara baik dan tertib.

Perwakilan misi haji Bangladesh, ABN Amin Ullah Nuri, mengatakan, pihaknya mengapresiasi dan ingin tahu bagaimana penyelenggaraan haji Indonesia dengan jumlah yang begitu besar, tapi bisa berjalan dengan lancar, mulai dari pendaftaran sampai dengan pelaksanaan di Saudi.

“Sebenarnya studi banding seperti ini sangat kita butuhkan dalam rangka menggali juga bagaimana pelayanan jemaah mereka. Sehingga ketika kita menemukan hal-hal yang perlu diperbaiki, maka kita bisa¬†sharing bersama untuk perbaikan ke depan,” ujar Kepala Daker Madinah Mohammad Khanif.

Khanif menjelaskan, dengan pertemuan kedua negara, baik Indonesia maupun Bangladesh atau negara Asia lainnya, akan banyak tahu apa perbedaan yang paling mendasar antara Indonesia dengan negara lain dalam hal penyelenggaraan haji.

Seperti contoh Bangladesh, sistem penyelenggaraan mereka berbeda dengan Indonesia. Kalau Bangladesh lebih banyak haji khususnya (dikelola swasta) ketimbang reguler (pemerintah). Haji khusus mereka mencapai 100 ribu lebih, sementara haji reguler hanya 7.000 jamaah.

“Justru kebalikan dari Indonesia, yang lebih banyak mengelola ibadah reguler ketimbang khusus,” ucap Khanif.

Sedangkan untuk biaya haji reguler atau dikelola pemerintah lebih besar, yakni sekira Rp 60 juta, ketimbang swasta di bawah angka itu, tergantung dari masing-masing tipe atau golongannya.

“Kenapa tarif haji pemerintah Bangladesh lebih mahal dari swasta, karena pemerintahnya menggunakan hotel di Markaziah, sementara swasta lebih murah karena hotel di luar Markaziah,” tuturnya.

Berbeda lagi dengan India, di mana sistem penyelenggaraan hajinya lebih unik lagi, yakni melalui sistem undian. Menurut Khanif, India itu sistem pemberangkatan jemaahnya ditentukan melalui sistem undian. Sementara untuk Indonesia sistem pemberangkatan jemaah secara berurutan, yakni disesuaikan dengan nomor antrean awal pendaftaran.

“Melihat sistem tersebut dianggap bagus, India tertarik, katanya tahun depan akan mencontoh dan mengubah model pemberangkatan jemaahnya,” terang Khanif.

Seperti diketahui, petugas haji Bangladesh berjumlah 200 orang termasuk keagamaan dan kesehatan. Berbeda dengan Indonesia yang jauh lebih besar yakni mencapai 4.100 petugas.

Terkait Indonesia kerap mendapat kunjungan negara lain, menurut Khanif, hampir setiap tahunnya mendapat kunjungan serupa dari negara Asia tersebut dan Malaysia yang paling sering berkunjung. (red/arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.