Minggu, 19 September 21

Setahun Reshuffle Dua Kali, Jokowi Cetak Sejarah

Setahun Reshuffle Dua Kali, Jokowi Cetak Sejarah

Jakarta, Obsessionnews – ‎Wacana reshuffle kabinet kerja jilid II semakin mencuat menyusul adanya sikap politik Partai Golkar dan PAN yang mendukung pemerintah. Bila reshuffle itu terjadi, maka Presiden Joko Widodo dinilai telah berani membuat sejarah baru memimpin Indonesia. Sebab, keputusan itu dilakukan dalam satu tahun.

“Soalnya baru setahun jadi presiden sudah dua akan dua kali ganti kabinetnya. Seperti negara dalam keadaan genting saja atau seperti pengelolaan politik lokal di daerah otonom saja, yang sebentar-bentar ganti pejabatnya karena ketaksukaan pemimpinnya,” kata Pengamat Politik Laode Ida di Jakarta, Rabu (4/11/2015).

Dia mengatakan, mungkin presiden akan anggap itu wajar dan berpikir figur menterinyalah yang bermasalah. “Padahal bukan mustahil  banyak orang akan menilai justru pada presidennyalah akar masalahnya. Kelabilan jiwa seorang pemimpin sehingga dengan mudah dipengaruhi, ditekan dan digoda lalu segera merubah keputusannya atau mengganti para pejabat pembantunya. Ini berbahaya,” ujarnya.

Dia memaparkan, ada beberapa hal yang dianggap membahayakan apabila reshuffle kebinet jilid II ini terjadi. ‎ ‎Pertama, menimbulkan ketidaknyamanan  bagi para pembantunya yang berpengaruh pada kinerja. Kedua, Jokowi akan terkesan melakukan transaksi jabatan menteri. Padahal sebelumnya ia berjanji akan membangun politik tanpa syarat.

Ketiga, akan menimbulkan goncangan ketak puasan ‎dari parpol pendukung setia sejak awalnya. Sebab tidak menutup kemungkinan, jatah menteri dari partai pendukung (KIH) dikurangi. “Jokowi pun akan dianggap sebagai figur yang tak konsisten,” ungkapnya.

Seharusnya, sambungnya, yang perlu disadari oleh Jokowi bahwa mengelola negara besar ini tak boleh main-main hanya karena faktor ketidakmampuan melawan tekanan-tekanan dari pihak manapun. Lantaran, melakukan pergantian menteri, juga tidak bisa menjamin pemerintahan bisa kuat.

“Yang harus anda lakukan adalah perbaiki kemampuan manajerial dalam mimpin negara besar, yang justru barangkali bisa peroleh masukan dari para pembantu berpengalaman,” himbaunya.‎ (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.