Jumat, 24 Januari 20

Serangan Balik Mafia Bank Century dan Mafia BLBI ?

Serangan Balik Mafia Bank Century dan Mafia BLBI ?

Oleh: Dr Fuad Bawazier, Pengamat Ekonomi/ Mantan Menteri Keuangan RI

Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Effendi Mukhtar yang dalam Praperadilan memutuskan memerintahkan KPK agar menetapkan Budiono dkk sebagai TERSANGKA skandal pembobolan (bail out) BANK CENTURY Rp6,7 Triliun hanya dalam bilangan hari langsung di demosi menjadi hakim Pengadilan Negeri Jambi alias turun kelas. Padahal putusan hakim ini seharusnya diacungi jempol dan di apresiasi sebab mengakhiri kebuntuan pengusutan perkara Bank Century. Meskipun kejadiannya telah 10 tahun sejak bailout terjadi th 2008 hingga sekarang th 2018, KPK selalu berdalih bhw pengusutan skandal BC masih dlm penyelidikan alias belum ada TSK baru. Publik sulit menerima alasan KPK ini sebab kasusnya sudah terang benderang dengan bukti bukti yang sudah berkali kali jadi bahasan umum di banyak tempat dan kesempatan dengan mengungkapkan berbagai macam pelanggaran dan ketidaklaziman proses bail out BC.

Dilain pihak, KPK yang defacto “tidak mampu” alias defacto dinilai menghentikan perkara ini, dikhawatirkan publik bhw lama kelamaan kasus ini akan kedaluwarsa. Anehnya KPK juga tidak mau mengalihkan perkara ini ke kepolisian atau kejaksaan (yang bila tidak terbukti bisa menerbitkan SP3), atau membentuk TGPF bila benar benar kesulitan mencari bukti bukti. Jadi logislah bila publik menduga bhw KPK memang sengaja mendiamkan alias melindungi perkara ini agar tidak berlanjut. Jika demikian tentu ada kekuatan hebat yang mampu menekan atau “menitipkan” perkara BC ini kepada KPK agar tidak berlanjut. Dalam situasi inilah MAKI menduga bahwa KPK diam diam telah menyalahgunakan kewenangan yang dimilikinya dengan mendiamkan atau melindungi pelaku skandal BC, dengan cara tidak meningkatkan pengusutannya ke penyidikan. Karena itu MAKI mengajukan gugatan praperadilan, dan hakim cerdas Effendi Mukhtar yang menggunakan akal sehat dan hati nuraninya untuk membaca aspirasi atau tuntutan keadilan masyarakat telah membuat putusan yang merupakan terobosan untuk menghentikan alasan akal akalan KPK. Apalagi ada bocoran informasi dari dalam KPK sendiri bahwa perkara BC sebenarnya sudah lama selesai tinggal keputusan pimpinan KPK sendiri maunya bagaimana?

Bagi saya yang tahu dan mengikuti langsung skandal atau perkara pembobolan perbankan sejak era BLBI (1997/1998), yakin betapa kuatnya Mafia Perbankan ini baik secara finansil (dari Dana perampokannya itu) maupun jaringan politiknya di banyak jajaran penguasa. Karena itu saya menduga kuat (dalam hati sebenarnya yakin) bahwa Mafia Perbankan ini (BLBI dan Bank Century) marah besar dengan putusan hakim Effendi Mukhtar yang bukan saja mengusik strategi atau kenyamanan mereka tapi takut putusan ini merembet ke BLBI. Sekali lagi saya tidak menuduh karena saya bukan aparat hukum yang mampu mengumpulkan bukti bukti, cuma haqqul yakin bahwa Mafia Perbankan ini marah dan hakim Effendi Mukhtar terkena imbas kemarahan Mafia sekaligus sebagai peringatan bagi yang lain yang coba coba mengusik BLBI dan Bank Century. Dari pengalaman, Mafia ini juga sering membela diri atau menyerang lawan lawannya melalui pihak ketiga atau tidak langsung.

Selaku Menkeu, Saya ingat betapa sulit nya pemerintah dan BI pada tahun 1998 ketika akan mengusut BLBI, karena terkesan kuat ragu dan takut takut. Banyak yang ingin menjadi jagoan pembela pembobolan BLBI.  Karena itu Terpaksa saya menggunakan TIM AUDITOR INTERNATIONAL yang secara independen mampu mengungkap pembobolan dana BLBI itu. Saya juga ingat ketika pada 3 April 1998 mencekal 100 orang pemilik dan Pengurus bank bank nakal itu, saya di datangi petinggi petinggi penting negara saat itu yang membela dan minta cekal “tuannya” dicabut.  Ternyata petinggi petinggi Negeri yang nampak hebat itu hanya centeng alias jongos para pengemplang BLBI.

Setelah pencekalan, saya juga ingat persis ketika Presiden Suharto yang marah besar dengan skandal BLBI ini menyetujui gagasan saya lebih lanjut utk mengirim para pengemplang dan fasilitator BLBI ini ke Nusakambangan. Rencana ini kemudian saya sampaikan di depan Komisi IX DPR dengan target agar mereka mengembalikan dana BLBI. Tapi dengan lengsernya Pak Harto, boro boro dana BLBI itu kembali, yang ada justru mereka mendapatkan tambahan kekuatan finansil baru dari negara yang di sebut Obligasi Rekap. Untungnya sebelum lengser Pak Harto sudah memerintahkan saya selaku Menkeu/Ketua Dewan Moneter untuk mencopot direksi BI yg pada pandangan beliau bertanggung jawab atas BLBI termasuk pencopotan Budiono salah satu direktur (kini deputi gubernur) di BI.

Indikasi lain kuatnya Mafia ini adalah masih saja ada yg buron dan sulit tertangkap atau dibawa pulang ke Indonesia; dan harta mereka yang sebenarnya kita semua tahu apa dan dimana serta ada di depan mata, tidak juga disita (utk menutup kerugian negara); karena sekali lagi saya yakin ada kekuatan besar yang melindunginya. Tapi kami yakin Allah Yang Maha Kuasa tidak tidur, dan karena itu cepat atau lambat kebusukan itu akan terungkap. Kini semua terpulang kpd independensi dan nyali KPK, monggo melangkah maju dengan atau tanpa putusan hakim praperadilan. Jangan takut , bimbang atau ragu.  We love you KPK. (*)

Jakarta, 26 April 2018

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.