Jumat, 28 Januari 22

Sentimen Rasial Meningkat di AS, WNI Diminta Waspada!

Sentimen Rasial Meningkat di AS, WNI Diminta Waspada!
* ilustrasi. (ist)

Washington – Awas… kerusuhan rasial! Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington DC meminta WNI dan diaspora Indonesia di Charlottesville, Virginia, Amerika Serikat, untuk waspada. Pasalnya, sentimen berbau rasisme yang berkembang di sana dikha­watirkan bisa mengancam keselamatan WNI.

”Kami mengimbau agar mereka waspada, menghindari lokasi kerusuhan, mematuhi arahan pemerintah setempat, dan memperhatikan keselamatan. Kami menyampaikan imbauan melalui SMS dan e-mail blast,” kata Duta Besar RI di AS Budi Bowoleksono kepada Jawa Pos, Minggu (13/8/2017).

Imbauan ini dikeluarkan KBRI menyusul aksi demonstrasi besar-besaran kalangan supremasi kulit putih yang diwarnai bentrokan dengan massa kelompok antirasisme.

Satu orang tewas dan 19 lainnya mengalami luka-luka setelah pendukung kelompok ekstrem sayap kanan, James Alex Fields Jr menabrakkan mobil Dodge Challenger abu-abu miliknya ke kelompok antirasis

Terkait dengan insiden tersebut, Budi memastikan tidak ada WNI yang menjadi korban. Dia juga mengabarkan bahwa kondisi Charlottesville mulai tenang dan terkendali.

”Menurut data, ada 3.207 WNI di Virginia. Sekitar 80 orang di antara mereka tinggal di Kota Charlottesville. Tidak ada yang jadi korban,” terangnya.

Pakar hubungan luar negeri Universitas Padjadjaran Teuku Rezasyah menilai, gerakan white supremacy membuktikan bahwa integrasi sosial merupakan sebuah tantangan yang tiada akhir bagi semua negara di dunia, termasuk AS.

”Kejadian ini juga jadi bukti bahwa supremasi kulit putih, yang biasanya diwakili Ku Klux Klan, ternyata sudah terwakili oleh organisasi tanpa bentuk (OTB) yang sulit terdeteksi oleh pemerintah dan masyarakat,” ungkap Teuku.

Pertemuan supremasi kulit putih di Charlottesville, Virginia, diwarnai bentrokan. (BBC)

Pawai ‘berdarah’ supremasi kulit putih di AS
Di tengah Taman Emansipasi di Charlottesville pada Sabtu (12/08), dua perempuan muda, satu berkulit putih dan satu lagi berkulit hitam, saling berpegangan tangan erat-erat, dan dengan tangan lainnya mereka memegang pembatas baja di hadapan mereka.

Beberapa meter dari arah mereka, seorang pemuda berkulit putih, yang berambut cepak dan mengenakan kacamata hitam, mengarahkan badan ke arah dua perempuan di seberang pembatas itu.

“Anda akan menjadi f*****g orang yang dipulangkan dengan perahu,” teriak sang pemuda ke arah perempuan berkulit hitam, sebelum memalingkan badan ke arah perempuan berkulit putih. “Dan untuk Anda, Anda akan lamgsung masuk neraka,” katanya. Ia kemudian memberikan salut ala Nazi.

Untuk ketiga kalinya dalam beberapa bulan terakhir, kaum nasionalis kulit putih turun ke kota kecil dan liberal, Charlottesville, di negara bagian Virginia bagian selatan, untuk memprotes rencana penurunan patung seorang jenderal Konfederasi, Robert E Lee.

Antiimigran, Antisemit, Rasis
Kali ini mereka mengusung agenda “alt-right”, dalam pawai yang disebut “Unite the Right” atau “Satukan Kelompok Kanan”.

Mereka berasal dari berbagai unsur milisi, kelompok rasis, neo-Nazi, dan mereka yang semata-mata ingin mempertahankan sejarah Selatan.

Mereka berkumpul di pagi hari di Taman Emansipasi – sebelumnya dikenal dengan nama Taman Lee – lokasi patung Robert E Lee ditempatkan, sebagian mengenakan perlengkapan taktis dan secara terbuka menentang senapan. Adapun sebagian lainnya mengenakan baju atasan berwarna hitam, helm dan sepatu boot.

Secara berkelompok mereka menyerbu taman, menggunakan pentungan dan kepalan tangan untuk menyingkirkan kelompok pemrotes tandingan, dari kubu antifasis.

Mereka lantas memblokir pintu masuk dengan tameng. Di taman, David Duke, mantan pemimpin agung Ku Klux Klan, menyeringai dan melambaikan tangan ketika kerumunan massa, hampir seluruhnya orang putih dan laki-laki, memberikan sambutan kepadanya, meneriakkan namanya dan mengangkat tangan mereka untuk memberikan salut ala Nazi.

Mereka mempunyai alasan untuk bersenang hati. Mereka berada di tengah-tengah pertemuan kaum nasionalis kulit putih terbesar di Amerika Serikat selama puluhan tahun terakhir.

Di taman, dengan dikelilingi pagar pembatas baja, mereka meneriakkan slogan antiimigran, antisemit dan slogan rasis. Mereka menyasar para perempuan berkulit putih yang menggelar protes tandingan dengan menyebut mereka “pengkhianat” yang “perlu ditundukkan”.

Di luar taman, pemrotes dari kelompok antifasis melemparkan botol air ke arah nasionalis putih dan meneriakkan kata-kata “Enyahlah dari jalan-jalan kami, sampah Nazi”.

Pada akhirnya, polisi antihuru-hara bergerak ke taman dan ke jalan-jalan di sekitarnya, memukul mundur semua orang.

Gubenur negara bagian Virginia menyatakan keadaan darurat dan pawai umum tersebut dibatalkan. Pasukan Garda Nasional menutup kawasan itu, tetapi langkah tersebut sudah terlambat karena seorang pengemudi menabrakkan mobilnya ke arah demonstran tandingan dua blok dari taman, menyebabkan seorang perempuan meninggal dunia dan melukai 19 orang lainnya. (Jpnn/bbc.com)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.