Minggu, 25 Agustus 19

Senior TNI Jangan Saling Buka Aib Capres

Senior TNI Jangan Saling Buka Aib Capres

Jakarta – Percaturan politik Indonesia menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 semakin meninggi. Hal itu dapat terlihat oleh para  pendukungnya yang tidak dapat menahan diri dalam bertindak dan mengeluarkan pernyataan untuk membela salah satu Calon Presidennya. Yang lebih menarik lagi, selain pendukung dari kalangan sipil, itu pun terjadi juga di kalangan perwira militer, baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiun.

Mantan Danpuspom ABRI, Mayjen TNI (Purn) Syamsu Djalal, mengaku adanya situasi polemik di kalangan para Purnawirawan Jenderal, sampai-sampai saling membuka aibnya masing-masing. Menurut Djalal, hal itu tidak perlu dilakukan, lebih baik melihat visi-misi dari kandidat pasangan Capresnya.

“Janganlah saling membuka aib, lebih baik melihat kemana visi-misi para kandidat capres, diantara pasangan tersebut siapa yang lebih layak untuk memimpin bangsa,” ujar Djalal saat jumpa persnya di salah satu Hotel bilangan Sudirman, Jumat (27/06/2014)..

Oleh karena itu, dirinya meminta kepada para senior maupun bawahannya itu untuk bisa saling menahan diri dan tidak saling membuka masing-masing keburukannya.

“Itu semua sahabat kita, bukan musuh. Ini pesta demokrasi yang seharusnya bisa dilaksanakan bersama. Membuka aib orang itu berdosa. Jagalah mulut mu, karena itu harimau mu,” ungkapnya.

Menurut Djalal, banyaknya para jenderal yang merapat kedua pasangan kandidat Capres tersebut, dapat memecah belah hubungan diantara para purnawirawan jenderal. Kata dia, apa yang dilakukan oleh para purnawirawan jenderal itu, telah melupakan jiwa Korsa dan sumpah Sapta Marga yang tertanam didalam jiwa para purnawirawan Jenderal tersebut.

“Saya harapkan kepada purnawirawan baik senior saya maupun yang junior saya untuk tetap satu dan saling menghormati,” ungkapnya.

Selain itu, Djalal juga meminta kepada publik untuk melupakan polemik terkait surat Dewan Kehormatan Perwira (DKP). Menurutnya, DKP sudah tidak perlu dipersoalkan karena sudah ada surat keputusan presiden (keppres). “Jadi soal DKP enggak usah dibahas lagi, sudah ada putusan presiden kok. Dan dia (Prabowo) diberhentikan secara terhormat,” pintanya.

Karena, lanjut Djalal, suatu ambisi, dendam dan amarah yang semakin terlihat dari kedua kubu semakin mempertegas bahwa bahaya dan ancaman yang besar tengah mengincar bangsa Indonesia. “Jika tidak kita hentikan, Indonesia sudah di ambang kehancuran,” katanya.

Jadi, kata Djalal, demi ibu pertiwi, demi Indonesia yang kita cintai, demi menyelamatkan semua rakyat Indonesia dari akibat konflik, untuk itu, lanjut dia, tidak perlu membangun bangsa ini dengan dendam, dengan hati yang hitam dan mementingkan golongan tertentu.

“Keberpihakan semua pendukung Capres dan Cawapres adalah kepada NKRI dan rakyat Indonesia, bukan pada harapan semu dan ambisi,” pungkasnya. (Pur)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.