Rabu, 20 November 19

Semprot Demo Kena Masjid, Polisi Hong Kong Minta Maaf!

Semprot Demo Kena Masjid, Polisi Hong Kong Minta Maaf!
* Polisi menembakkan meriam air berisi cairan biru ke arah para demonstran. (BBC)

Polisi Hong Kong langsung meminta maaf, meski tidak sengaja menembakkan meriam air ke arah masjid dalam menghadapi aksi massa demonstrasi.

Kepolisian Hong Kong melepaskan tembakan meriam air ke arah masjid dalam upaya meredam demonstrasi yang diwarnai kekerasan, pada Minggu (20/10/2019), seperti dilansir BBC News Indonesia.

Sesaat setelah kejadian, kepolisian mengatakan meriam air yang menembakkan cairan biru tersebut “secara tidak sengaja berdampak pada gerbang dan pintu depan” masjid.

Di sisi lain, Dewan Muslim Hong Kong menegaskan masjid bukanlah sasaran polisi. Bahkan, sejumlah perwira polisi datang meminta maaf dan membantu membersihkan daerah masjid yang terkena tembakan meriam air.

Aparat sejatinya melarang demonstrasi digelar pada Minggu (20/10), namun masyarakat Hong Kong mengabaikan larangan itu. Bahkan, puluhan ribu orang datang berunjuk rasa.

Sebagian di antara mereka, yang memakai baju dan masker hitam, melemparkan bom molotov ke kantor polisi di Tsim Sha Tsui. Api kemudian membakar gerbang bangunan itu.

Kepolisian kemudian menanggapinya dengan melepaskan tembakan gas air mata dan mengutus truk meriam air.

Selagi polisi mengatasi aksi demonstan di Tsim Sha Tsui, sejumlah toko dan bank China dirusak pengunjuk rasa.

Beberapa demonstran bahkan memicu kebakaran yang melalap sebuah toko pembuat ponsel China di Mong Kok.

Tidak semua unjuk rasa pada Minggu (20/10) berujung pada kekerasan. Dan, walaupun demontrasi dilarang, aksi tersebut dimulai dengan damai.

Apa pemicu bentrokan?
Kemarahan massa sebagian disebabkan serangan terhadap pemimpin kelompok prodemokrasi, Jimmy Sham. Serangan yang dilakukan lima pria bersenjata palu di Mong Kok mengakibatkan Jimmy harus dirawat di rumah sakit.

Kemudian pada Sabtu (19/10), seorang pria yang membagikan selebaran prodemokrasi ditikam.

Dua kejadian ini ditengarai membuat jumlah pengunjuk rasa kembali melonjak, setelah beberapa pekan terakhir jumlahnya mulai menurun.

Unjuk rasa pada Minggu (20/10), diklaim pihak penyelenggara dihadiri 350.000 orang. Kepolisian Hong Kong belum merilis perhitungan versi mereka.

Seorang demonstran, Daniel Yeung, mengatakan jumlah orang yang hadir pada aksi Minggu melampaui perkiraannya.

“Orang-orang Hong Kong tidak mudah menyerahkan hak mereka untuk berdemonstrasi,” katanya.

“Pemerintah kini menolak memberi izin demonstrasi damai,” timpal demonstran lainnya bernama Avery.

“Itu artinya setiap orang yang keluar rumah secara inheren melanggar hukum. Begitulah taktik yang dipakai pemerintah Hong Kong,” tambahnya.

Sejumah demonstran melemparkan bom molotov ke arah kantor polisi. (BBC)

 

Apakah ada solusinya?
Awalnya, rangkaian demonstrasi di Hong Kong dipicu oleh rancangan undang-undang (RUU) yang membuat tersangka kriminal bisa diekstradisi ke China.

Warga Hong Kong dikenal membela hak hukum dan hak asasi mereka secara garang. Mereka semakin khawatir hak-hak itu perlahan dikikis oleh pemerintah China menerapkan aturan “satu negara, dua sistem”.

Karenanya, walau rancangan undang-undang kontroversial itu telah dicabut, warga Hong Kong tetap turun ke jalan. Tuntutan mereka kini meluas menjadi empat aspek:

• Menolak penggolongan demonstrasi sebagai “kerusuhan”
• Amnesti untuk para demonstran yang ditahan
• Penyelidikan independen terhadap dugaan brutalitas kepolisian
• Penerapan hak-hak memilih yang menyeluruh

Akan tetapi empat tuntutan ini terancam tidak dipenuhi setelah Presiden China, Xi Jinping, mengeluarkan peringatan keras terhadap pembangkang.

Dia mewanti-wanti bahwa upaya untuk memecah-belah China akan berakhir dengan “tubuh-tubuh dihantam dan tulang diremukkan menjadi bubuk”. (*/BBC)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.