Senin, 26 September 22

Sembako dan Onderdil Masih Tetap Mahal

Sembako dan Onderdil Masih Tetap Mahal

Subang – Penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Subang, Jawa Barat, oleh sopir angkutan kota (angkot) disikapi dengan menurunkan tarif melalui DPC Organisasi Angkutan Darat (Organda) Subang. Namun, para sopir angkot mengharapkan kepada pemerintah supaya bisa mengendalikan harga sembilan bahan pokok (sembako) dan harga spare parts (onderdil) kendaraan.

Didi (53 tahun), sopir angkot keliling Subang Kota merasakan harga sembako dan onderdil masih tetap tinggi pasca penurunan harga BBM. “Saya ingin penurunan tarif angkot harusnya diikuti juga dengan penurunan harga sembako dan onderdil,” ujarnya kepada Obsessionnews.com, Rabu (21/1/2015).

Hal ini berbeda dengan ketika harga BBM akan naik, di mana saat itu sembako sudah naik duluan. Giliran harga BBM turun, sembako masih tetap mahal. Sedangkan tarif angkot sudah turun. “Sudah seharusnya pemerintah mampu mengendalikan harga, khususnya sembako. Pemerintah harusnya segera bergerak. Misalnya dengan melakukan operasi pasar sembako,” kata Didi.

Pasca penurunan harga BBM pada 19 Januari lalu, DPC Organda Subang langsung melakukan koordinasi dengan pihak Dinas Perhubungan Subang dan Kelompok Usaha (KKU) Angkutan merumuskan penurunan tarif angkutan kota.

Besaran nilai penurunan tarif ialah antara Rp 500 – Rp 1.000. Untuk angkot perkotaan turun Rp 1.000 dari yang sebelum naik Rp 2.000, sedangkan angkot keliling dalam Subang Kota turun Rp 500. Untuk anak sekolah turun Rp 500. Rinciannya ialah angkot lintas daerah, Rp semula 8.000 menjadi Rp 7.000 untuk umum, sementara untuk pelajar dari Rp 4.000 sekarang menjadi Rp 3.500. Sedangkan untuk tarif angkot keliling Subang Kota dari Rp 4.000 sekarang menjadi Rp 3.500, sementara untuk pelajar dari Rp 3.000 kini menjadi Rp 2.000.

Ketua Organda Subang Adhe Obrex Kusnadi mengatakan Organda berusaha berlaku adil. Manakala pemerintah menaikkan harga BBM, kami ikut naik. Sebaliknya ketika harga BBM turun, kami juga ikut menurunkan ongkos angkutan, walaupun tidak sesuai harapan,” jelas Adhe.

Mengenai besaran yang kurang signifikan merupakan respon cepat dibanding Organda Pusat. “Ini untuk antisipasi awal daerah Subang. Untuk antisipasi fluktuasi harga BBM. Tahu ‘kan Organda Pusat belum menurunkan tarif, tapi Subang sudah dari kemarin),” katanya lagi. (Teddy Widara)

 

 

Related posts