Kamis, 6 Oktober 22

Selamat Jalan, Bung Hadi Supeno, Surga Menantimu

Selamat Jalan, Bung Hadi Supeno, Surga Menantimu
* Mantan Bupati Banjarnegara Hadi Supeno meninggal dunia pada Minggu, 17 Juli 2022. (Foto: ist)

Oleh: Lukman Hakiem, Mantan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Yogyakarta

Berita duka menyergap tiba-tiba, Bung Hadi Supeno wafat pada Minggu, 17 Juli 2022. Dia adalah  Wakil Bupati Banjarnegara periode 2001-2006 dan periode 2011-2016. Baru sebulan yang lalu dia, istri, anak, dan menantunya datang ke rumah untuk menjenguk saya yang masih dalam masa pemulihan akibat gejala stroke ringan. Pagi itu dia menelepon dan mengabarkan keberadaannya yang sudah dekat dengan rumah saya. Suatu kunjungan yang mengejutkan. Ketika hendak pamit, dia mengajak berfoto bersama, kemudian dia viralkan ditambahi kalimat,”Alhamdulillah, Bung Elha sudah banyak perkembangan. Jelas bicara, jelas melihat, lincah gerak melangkah, semoga cepat recovery, bugar dan kembali beraktivitas.”

Saya mengenal Hadi Supeno sejak tahun 1979 ketika dia menjadi mahasiswa FIP IKIP Yogyakarta. Dengan takdir Allah, Hadi memilih tempat kos di sekretariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Korkom IKIP Yogyakarta. Sejak saat itu persahabatan kami semakin erat. Sebagai junior Hadi Supeno tidak segan berdebat dengan saya, dan saya pun meladeninya dengan semampu saya. Sebagai aktivis HMI, Hadi Supeno dikenal sebagai aktivis yang mendalami pikiran-pikiran Bung Karno. Karena itu beberapa teman menyebut Supeno itu semangka, luarnya hijau, dalamnya merah. Tapi buat saya itu adalah hal yang wajar saja, karena Sukarno adalah proklamator kemerdekaan bangsa Indonesia yang tentu saja seluruh pikiran dan tindakannya harus dipelajari oleh segenap anak bangsa, tidak terkecuali kader-kader HMI. Dalam hal inilah saya sering berdiskusi dengan Hadi Supeno, mengenai pikiran-pikiran Sukarno.

Saya dan Hadi Supeno ditakdirkan Allah sama-sama senang menulis. Kami bagai berlomba melahirkan tulisan untuk dimuat di media lokal maupun nasional. Sebagai aktivis mahasiswa Hadi Supeno menjalani kehidupan sambil menjadi guru SD. Di tempat kosnya, di pinggiran kota Yogyakarta, Hadi Supeno tetap beraktivitas, misalnya menggerakkan kegiatan-kegiatan keislaman seperti pelaksanaan sholat Idul Fitri. Karena itu saya melihat Hadi Supeno sebagai kader HMI yang nasionalis dan tidak pernah kehilangan gairah keislamannya.

Ketika saya menjadi Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta, Hadi saya tunjuk menjadi Ketua Bidang Kepemudaan dengan tugas khusus mendinamisir diskusi Kelompok Cipayung. Alhamdulillah, tugas khusus itu dia laksanakan dengan penuh semangat.

Saya mengenang Hadi Supeno sebagai seseorang yang sangat peduli kepada teman. Ketika mahasiswa IKIP Yogya diskorsing oleh Rektor karena tidak berdiri  saat Presiden Soeharto memasuki lapangan upacara, Hadi Supeo  memimpin Komite Solidaritas, menuntut supaya Rektor mencabut skorsing.

Meskipun harus berhadapan dengan tentara, dia dan beberapa anggota Komite diciduk tentara pada suatu dini hari, perjuangan Hadi dkk berhasil. Rektor menyerah terhadap aksi mahasiswa dan mencabut skorsing.

Saya terkena gejala stroke ringan dan dirawat di RS PKU Muhammadiyah. Beberapa kali dia menelepon anak saya dan menanyakan keadaan saya. Bahkan dia sempat mengirimi saya uang. Yang mengejutkan, pada 17 Juni pagi, tiba-tiba dia menelepon dan mengabarkan posisinya yang sudah dekat dengan rumah saya. Saya sama sekali tidak menduga itulah kunjungan dan pertemuan saya yang terakhir dengan Hadi Supeno. Ketika berkunjung itu dia mengabsen beberapa nama, apakah sudah menjenguk saya atau belum. Beberapa nama yang dia absen, alhamdulillah sudah datang ke rumah.

Selamat jalan, Bung. Surga menantimu, Insya Allah.

Allahummagfirlahu warhamu wa’afihi waf’uanhu waakrim _nuzullahu wawassi’ madkhalahu.Aamiin.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.