Kamis, 26 Mei 22

Sekolah Full Sehari Beratkan Guru dan Siswa

Sekolah Full Sehari Beratkan Guru dan Siswa

Jakarta, Obsessionnews.com – Wacana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi untuk menerapkan sekolah sehari penuh mendapat kritikan dari Anggota Komisi X DPR RI Reni Marlinawati. Menurutnya, wacana itu sangat memberatkan guru dan siswa.

“Saya tidak bisa membayangkan, alangkah repotnya guru-guru tersebut. Berangkat pagi, pulang jam 18.00. Sampai di rumah sudah sangat capek, belum lagi memeriksa tugas anak-anak dan menyiapkan rencana pembelajaran hari berikutnya,” kata Reni dalam keterangan tertulis di Jakar‎ta, Selasa (9/8/2016).

Menurut Politisi PPP ini, semakin lama guru di sekolah, maka akan semakin sedikit waktu untuk melakukan evaluasi belajar. Tidak hanya itu, waktu untuk merencanakan program pembelajaran pada hari berikutnya juga akan semakin berkurang.

Kemudian, persoalan lain yang kerap dijumpai adalah masih lemahnya fasilitas pendukung yang ada, khususnya di sekolah negeri, seperti fasilitas olahraga, tempat mengaji tempat istirahat, dan lainnya.

“Bahkan di dapil saya, masih ada SDN yang lantainya dari tanah. Hal-hal teknis seperti ini terkait dengan ketersediaan fasilitas untuk program FDS menjadi persoalan serius,” ucap Reni.

Politisi PPP itu menuturkan, program mengaji yang akan diterapkan dalam sistem sekolah sehari penuh. Sebagai umat Islam, Reni mengaku senang jika itu diterapkan. Tapi, persoalannya tidak semua siswa-siswi memeluk agama Islam.

“Itu juga harus menjadi bahan pertimbangan. Argumentasi mengaji di sekolah untuk menangkal paham radikalisme, hal tersebut merupakan simplifikasi terhadap persoalan,” ucapnya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menggagas sistem sekolah penuh dengan alasan agar anak tidak sendiri ketika orang tua mereka bekerja.

“Dengan sistem full day school ini, secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi liar di luar sekolah ketika orang tua mereka masih belum pulang bekerja,” kata Mendikbud di Universitas Muhammadiyah Malang, Minggu, 7 Agustus 2016.

Menurut Mendikbud, jika anak-anak tetap berada di sekolah, maka mereka bisa menyelesaikan tugas sekolah sampai tiba saatnya dijemput orang tua seusai jam kerja, sehingga ketika berada di rumah, anak tetap dalam pengawasan orang tua. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.