Senin, 13 Juli 20

Sejuta Pengungsi Rohingya Demo Pembantaian Muslim di Myanmar

Sejuta Pengungsi Rohingya Demo Pembantaian Muslim di Myanmar
* Pengungsi Rohingya di Bangladesh. (BBC)

Puluhan ribu pengungsi mewakili satu juta pengungsi muslim Rohingya di Bangladesh menggelar demonstrasi di dalam kamp-kamp pengungsi mereka di Bangladesh, Minggu (25/8), tepat dua tahun sejak mereka mengungsi di negara tetangga Myanmar itu.

Hampir 750.000 orang meninggalkan daerah asal mereka di negara bagian Rakhine, Myanmar pada Agustus 2017, seiring dengan meningkatnya aksi kekerasan terhadap kelompok etnis tersebut atau disebut PBB sebagai pembantaian/genosida muslim Rohingya oleh rezim Myanmar bersama Budha eksrim.

Pada Kamis (22/8), Bangladesh membuat skema repatriasi sukarela – tetapi tidak satu pun pengungsi Rohingya memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Mereka menyerukan Myanmar untuk memberikan mereka kewarganegaraan sebelum mereka kembali.

Rohingya adalah etnis minoritas Muslim di Myanmar yang memiliki bahasa dan budaya sendiri. Sebagian besar tinggal di negara bagian Rakhine. Tetapi, meskipun tinggal di Myanmar selama beberapa generasi, mereka tidak diakui sebagai warga negara atau dihitung dalam sensus penduduk. Anehnya, Myanmar justru menganggap mereka sebagai imigran ilegal dari Bangladesh.

Pada 25 Agustus 2017, militan Rohingya menyerang pos polisi, membunuh beberapa aparat. Pihak berwenang Myanmar menanggapi insiden itu dengan menangkap para militan sekaligus membakar desa-desa, menyerang para warga sipil, memerkosa, dan membunuh mereka, menurut temuan penyelidik PBB.

PBB menyebut langkah itu sebagai “contoh” dari pembersihan etnis, sementara orang-orang Rohingya menyebutnya sebagai “peringatan hari genosida”.

Militer Myanmar mengatakan pihaknya memberlakukan operasi kontraterorisme dan tidak menargetkan warga sipil. Namun, penyelidikan internal pada 2017 membebaskan militer dari tanggung jawab atas krisis Rohingya.

Sekitar satu juta pengungsi kini tinggal di Bangladesh, sebagian besar di kamp-kamp pengungsi – yang terbesar menampung lebih dari setengah juta orang. Mereka praktis menjadi beban ekonomi di Bangladesh.

Awal tahun ini, Bangladesh mengatakan tidak bisa lagi menerima lebih banyak pengungsi, karena kesepakatan Januari 2018 antara negara itu dan Myanmar untuk memulangkan pengungsi Rohingya gagal terwujud.

Tetapi pengembalian itu sukarela – dan hampir tidak ada yang kembali, sementara Myanmar terus menolak kewarganegaraan mereka.

Myanmar telah menawarkan opsi yang memungkinkan warga Rohingya leluasa bergerak, jika mereka menerima kartu identitas nasional – yang menurut orang Rohingya berarti menerima status mereka sebagai imigran ilegal.

Mereka yang tidak melarikan diri sekarang jumlahnya kurang dari setengah juta orang di Rakhine. Mereka menuduh pemerintah melakukan penindasan sistemik.

Upaya repatriasi pada Kamis silam melibatkan sekitar 300 keluarga, dengan bus-bus yang telah siap mengantarkan mereka ke Myanmar.

Badan PBB yang menangangi pengungsi, UNHCR, yang mewawancarai para pengungsi mengatakan: “Sejauh ini, tidak ada indikasi untuk dipulangkan pada saat ini.” (*/BBC)

Sumber: BBC News Indonesia

Baca Juga:

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.