Minggu, 20 Januari 19

Petaka Freeport Setelah Diresmikan Soeharto

Petaka Freeport Setelah Diresmikan Soeharto
* Soeharto. (Foto Kompas)

Jakarta, Obsessionnews.com – Nama Soeharto begitu dikenal oleh masyarakat Papua. Sebab sejarah mencatat Soehartolah yang meresmikan tambang tembaga milik Freeport Sulphur, (sebuah perusahaan tambang terkemuka asal Amerika Serikat) pada Sabtu 3 Maret 1973. Momen itu sekaligus meresmikan berdirinya kota Tembagapura.

Saat memberikan pidato sambutan, Soeharto begitu sumringah. Ia menyebut Freeport adalah pelopor investasi asing ke Indonesia.

“Perusahaan ini adalah pelopor penanaman modal asing di Indonesia; dan lebih istimewa lagi dalam modal yang sangat besar. Tuan-tuan datang ke Indonesia dalam keadaan kami yang masih sulit pada tahun 1966,” ujarnya seperti dikutip Historia, Rabu (4/12/2018).

Bagi Soeharto gelontoran uang yang diinvestasikan Freeport ke bumi Papua merupakan bentuk kepercayaan kepada Indonesia untuk membangun masa depan. Kepercayaan itu juga telah mendorong penanam-penanam modal asing lain untuk datang ke Indonesia.

Selain itu, Soeharto juga menyatakan kepercayaannya bahwa kegiatan pertambangan akan membantu memajukan masyarakat lokal disitu.

“Karena itu, saya sangat gembira dapat meresmikan pembukaan tambang ini. Saya ucapkan selamat kepada Freeport Indonesia, kepada pimpinannya dan kepada seluruh karyawannya,” kata Soeharto yang lantas menutup pidatonya dengan ucapan terima kasih.

Freeport Mengundang Petaka

Setelah diresmikan, Freeport ternyata malah justru mengundang banyak petaka bagi rakyat Papua. Freeport langsung mengancam penduduk asli dari suku Amungme yang berdiam di dataran tinggi sekitar proyek tambang. Suku Amungme sangat terikat dengan tanah leluhur.

Bagi mereka, Gunung Grasberg dianggap suci. Puncak Grasberg dikiaskan sebagai kepala ibu. Orang Amungme sangat menghormati kawasan keramat itu. Tidak hanya itu, Grasberg juga mengandung cadangan emas yang melimpah. Grasberg disebut-sebut sebagai tambang emas terbesar di dunia.

Lewat kontrak karya berdasarkan UU Penanaman Modal Asing (PMA) yang diizinkan pemerintah Soeharto, Freeport memiliki hak istimewa untuk merambahnya habis-habisan. Ketika beroperasi, aktivitas penambangan Freeport telah mengubah bentang alam Gunung Grasberg menjadi lubang raksasa sedalam 700 meter.

Danau Wanagon sebagai danau suci orang Amungme ikut hancur karena dijadikan pembuangan batuan limbah yang sangat asam dan beracun. Freeport juga mencemari tiga badan sungai utama di wilayah Mimika: Aghawagon, Otomona, dan Ajkwa. Ketiga sungai dijadikan tempat pembuangan limbah sisa produksi yang disebut tailing.

“Lebih dari 200.000 ton tailing dibuang setiap harinya ke Sungai Aghwagon, yang kemudian mengalir ke Sungai Otomona dan Sungai Ajkwa,” ungkap Harsutejo dalam Kamus Kejahatan Orba.

Sungai-sungai di sekitar Tembagapura, sebagaimana disaksikan Harsutedjo tampak berwarna coklat tua pekat bagaikan adonan jenang gosong.

Tak hanya invasi modal asing. Suku Amungme dan suku-suku lainnya juga terjepit oleh migrasi pendatang dari luar Papua. Sekira sejuta hektare lahan mukim suku Amungme berpindah tangan ke tangan para pendatang. Inilah imbas dari program transmigrasi yang digalakkan pemerintah Orde Baru.

Keberadaan Freeport memantik konflik dengan masyarakat setempat. Bagi orang Amungme, Freeport seperti pencuri yang menjarah kediaman orang lain tanpa izin. Freeport sendiri sempat menjanjikan kompensasi fasilitas sosial kepada suku Amungme berupa sekolah, pasar, hingga perumahan. Namun kesepakatan tak pernah terjadi karena salah urus dari pemerintah daerah.

Pada 1977, protes suku Amungme dan enam suku lainnya memuncak jadi perlawanan terbuka. Mereka memotong pipa penyalur bijih tembaga, membakar gudang, dan melepaskan kran tangki persediaan bahan bakar milik Freeport. Insiden ini terdengar sampai Jakarta.

Soeharto kemudian menerapkan kebijakan keras lewat pendekatan keamanan. ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) pun diturunkan.

“Kebun dan rumah-rumah dihancurkan, sejumlah orang dibantai. Pemerintah mengumumkan jumlah orang yang meninggal di Tembagapura sebanyak 900 orang. Para saksi lapangan memperkirakan dua kali lipatnya,” tulis Harsutejo.

Sebagian besar warga Amungme ditangkap dan dinterogasi tentara. Yang melarikan diri memilih tinggal di hutan sekitar Lembah Tsinga selama tiga tahun. Mereka dipandang sebagai pengacau macam Organisasi Papua Merdeka (OPM). Konflik masyarakat Papua dengan Freeport sampai sekarang terus berlanjut.

Freeport lah salah satu penyebab gerakan sparatisme OPM itu berkembang. Mereka terus melakukan aksi teror kepada siapa saja yang dianggap telah mengancam keberadaannya. Terakhir mereka membunuh 31 pekerja yang sedang membangun jembatan Trans Papua. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.