Selasa, 26 Oktober 21

Sejarah Singkil untuk Generasi Muda

Sejarah Singkil untuk Generasi Muda

Jakarta, Obsessionnews – Kisah perjuangan pahlawan-pahlawan Aceh selalu menarik untuk disimak, terutama oleh generasi muda. Salah satu buku terbaru tentang sepak terjang putera-puteri Aceh yang heroik di masa lalu adalah Singkil dalam Konstelasi Sejarah Aceh. Buku yang dirilis Jumat, 27 Maret 2015  ini ditulis oleh Sadri Ondang Jaya, putera Aceh asal Singkil Utara, dan diterbitkan FAM Publishing, Divisi Penerbitan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia.

Sadri Ondang Jaya
Sadri Ondang Jaya

Buku setebal 304 ini mengisahkan perang antara pasukan Belanda dengan rakyat Singkil, sehingga memunculkan sejumlah pahlawan, termasuk sosok pahlawan wanita, Siti Ambia. Juga mengisahkan pernak-pernik dan dinamika, falsafah hidup orang Singkil dan sejarah Kerajaan Singkil serta hubungan dengan kerajaan Islam Aceh Darussalam.

Selain itu, buku ini mengungkapkan dengan gamblang kisah dua orang ulama yang tidak saja tersohor di Nusantara tetapi juga di mancanegara. Kedua ulama itu adalah Syekh Hamzah Fansuri dan Syekh Abdurrauf yang notabene keduanya putera Singkil. Mereka sangat berpengaruh di Kerajaan Islam Aceh Darussalam. Merekalah yang menata peradaban dan kehidupan sosial kemasyarakatan dan budaya di kerajaan yang pernah dipimpin oleh Iskandar Muda, sehingga menjadi kerajaan Islam terbesar di dunia.

Sadri dalam prakatanya di buku ini mengungkapkan, buku ini untuk membentangkan fakta sejarah pada kita, terutama generasi muda, bagaimana benang merah hubungan Singkil dengan Aceh. Atau paling tidak untuk menjawab pertanyaan,“Singkil Acehkah?”

Dengan adanya bentangan sejarah Singkil ini, akan bisa menjadi bahan renungan bagi pembaca, terutama generasi muda, dalam rangka membangun Aceh Singkil lebih maju dan berjaya . Sebab, kehidupan yang dialami generasi muda sekarang dan ke depan merupakan hasil dari rangkaian masa lalu. Oleh sebab itu, pengungkapan masa lalu Singkil sesuatu hal yang sangat penting dan urgen.

Banyak filsuf yang menekankan arti penting belajar sejarah atau belajar dari sejarah. Jose Ortega Y. Gasset (1883-1955), seorang filsuf Spanyol, mengatakan agar sebuah bangsa tidak menjadi generasi barbar yang kehilangan standar nilai, bangsa itu harus mempelajari dan memahami sejarah.

Menurut Ortega, belajar dari sejarah membuat manusia kian bijak. Sebab sejarah mengandung nilai edukatif dan preventif. Nilai edukatif diperoleh dengan mengambil hikmah dan hal-hal positif dari masa lalu. Sedangkan nilai preventif didapatkan ketika contoh dan ragam peristiwa negatif yang terdahulu dijadikan patokan atau batu pijak yang mampu mencegah bertindak keliru di masa kini dan masa akan datang.

Tengku Hasan Muhammad di Tiro (lahir di Pidie, 25 Agustus 1925 dan meninggal di Banda Aceh, 3 Juni 2010) di bukunya A New Birth of Freedom, yang diterbitkan di New York, Amerika Serikat, tahun 1965 menyebutkan,“Mengenal sejarah memang bukan untuk menguasai masa silam, tetapi dengan sejarah kita masih dapat menguasai masa depan.”

Sadri mengatakan, Singkil dalam Konstelasi Sejarah Aceh digarapnya di tengah-tengah ‘krisis’ referensi tentang sejarah Singkil. Dia nyaris tidak berhasil menemukan tulisan tentang sejarah Singkil, baik yang ditulis secara utuh dalam bentuk buku maupun selipan-selipan.

“Karena itu, sangat disadari bahwa dalam tulisan ini masih terdapat kekurangan dan kekeliruan di sana-sini. Apalagi tulisan ini bentuknya esai sejarah yang diuntai secara singkat. Jadi sudah tentu kupasannya tidak meluas. Ada hal yang dipotong, tercecer, dan diabaikan,” tuturnya.

Kemudian perlu diingat, dalam penulisan sejarah, pada hakikatnya tidak pernah ada penulisan sejarah yang secara murni menggambarkan peristiwa sejarah itu sesungguhnya. Ada peristiwa dan tokoh tertentu dalam suatu periode masa lalu mendapat tempat penting dalam suatu penulisan sejarah. Sebaliknya, ada pula peristiwa dan tokoh-tokoh tertentu lainnya yang hanya mendapat sedikit perhatian. Bahkan, terlewatkan begitu saja dalam penulisan sejarah.

Sadri Ondang Jaya lahir di Gosong Telaga Selatan, Singkil Utara, Aceh Singkil, 12 Agustus 1969. Pekerjaannya guru. Hobinya selain membaca juga menulis. Tulisannya berupa cerpen, opini dan esai acapkali tulisannya nongol di berbagai media. Sadri pernah menjadi wartawan di Koran Kampus Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Tabloid Gema Baiturrahman, Harian Serambi Indonesia, dan Harian Rakyat Aceh, serta penulis lepas di beberapa media online.

Ia pernah mengeyam pendidikan di FKIP Unsyiah. Di bidang organisasi ia duduk sebagai Ketua Majelis Pemuda Indonesia (MPI) DPD II KNPI Aceh Singkil. Ia suami Eva Rinawati, serta ayah Muhammad Hadi Akbar dan Muhammad Faiz Nabilla. (Arif RH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.