Minggu, 23 Januari 22

Sejarah Masjidil Aqsha

Sejarah Masjidil Aqsha
* Masjidil Aqsha.

Jakarta, Obsessionnews.com – Pada Jumat (14/7/2017) lalu, umat Islam di dunia dikagetkan dengan penutupan Masjidil Aqsha yang dilakukan oleh polisi Israel.

Padahal Masjidil Aqsha adalah tempat yang suci dan peninggalan para Nabi yang penuh dengan sejarah. Umat Islam sering menganggapnya sebagai tempat suci ketiga, karena mereka percaya bahwa Muhammad SAW diangkat ke Sidratul Muntaha dari tempat ini usai melaksanakan perjalanan dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha dalam peristiwa Isra-Mi’raj.

Sebelum Masjidil Haram, umat Islam berkiblat ke  Masjidil Aqsha yang dahulu biasa disebut dengan Baitul Maqdis. Tidak hanya umat Islam, tempat ini juga dianggap suci oleh pemeluk Yahudi dan Kristen dan kerap disebut dengan bait suci.

Masjidil Aqsha yang saat ini dijaga ketat oleh tentara Israel yang dilengkapi dengan metal detector, ternyata mempunyai banyak sekali renovasi dari zaman classic hingga zaman modern, renovasi tersebut dikarenakan masjid yang berada di Kota Lama Yerusalem (Yerusalem Timur) kerap mendapat bencana alam yaitu gempa bumi.

Pada tahun 746, Masjidil Aqsha rusak akibat gempa bumi, yaitu empat tahun sebelum Abdul Abbas As-Saffah menggulingkan Ummayah dan mendirikan kekhalifahan Abbasiyah, Khalifah Abbasiyah yang kedua Abu Jafar Al-mansur pada tahun 753 memiliki niat untuk membangun kembali bangunan masjid tersebut yang rusak karena gempa bumi, maka dari itu dia memerintahkan pasukannya agar lempengan emas dan perak yang menutupi gerbang masjid dilepaskan untuk dicetak menjadi uang dinar dan dirham untuk digunakan membiayai kegiatan rekonstruksi dan upaya itu berhasil diselesaikan pada tahun 771.

Ternyata gempa kembali menerpa Kota Suci tersebut pada tahun 774 yang merusak sebagian perbaikan Al-Mansur itu, selanjutnya pada tahun 780, khalifah Muhammad Al-Mahdi membangunya kembali tapi dengan mengurangi panjang dan memperbesar lebarnya.

Tidak berhenti di situ saja, Masjidil Aqsha kembali diterjang gempa yang menyebabkan kerusakan parah sekitar tahun 1033, Khalifah Fatimiyah Ali Azh-Zhahir membangun kembali dan dan merenovasi masjid secara menyeluruh.

Pada masa Modern perbaikan juga pernah dilakukan pada abad ke-20 yaitu sekitar tahun 1922, setelah Majelis Tinggi Islam Yerusalem di bawah pimpinan Amin Al-Husseini mempekerjakan Ahmet Kemalettin Bey, seorang arsitek berkebangsaan Turki, untuk merestorasi Masjidil Aqsha dan monumen-monumen di sekitarnya. Dewan tersebut juga menugaskan arsitek-arsitek Inggris, ahli-ahli Mesir, dan para pejabat lokal untuk ikut berpartisipasi dan mengawasi perbaikan yang dilakukan pada tahun 1924-1925 di bawah pengawasan Kemalettin.

Renovasi tersebut dipusatka pada penguatan fondasi kuno masjid Umayyah, perbaikan tiang-tiang kolom interior, penggantian balok-balok, pendiri perancah, perawatan lengkungan dan bagian dalam kubah, pendirian kembali dinding selatan, serta pergantian tiang kayu di ruangan tengah dengan tiang beton.

Renovasi tersebut juga menampilkan kembali mosaik era Fatimiyah dan kaligrafi di lengkungan-lengkungan interior yang sebelumnya tertutupi oleh lapisan pelapis. Lengkungan-lengkungan dihiasi dengan gipsum berwarna hijau dan emas dan balok kayu landasannya digantikan dengan tembaga. Seperempat dari jendela kaca patri juga diperbaharui dengan hati-hati agar dapat melestarikan desain asli Abbasiyah dan Fatimiyahnya. Kerusakan hebat telah terjadi karena gempa bumi tahun 1927 dan 1937, namun masjid itu diperbaiki kembali pada tahun 1938 dan 1942.

Selanjutnya, pada tanggal 21 Agustus 1969, terjadi kebakaran di dalam Masjidil Aqsha, yang memusnahkan bangunan bagian tenggara masjid, mimbar Salahuddin adalah termasuk di antara barang-barang yang rusak terbakar.

Kejadian tersebut, membuat warga Palestina menyalahkan otoritas Israel karena kebakaran tersebut, dan beberapa orang Israel menyalahkan Fatah dan menganggap bahwa mereka yang menyulut sendiri apinya, agar dapat menyalahkan Israel dan memancing permusuhan.

Tidak lama berselang akhirnya, terbukti bahwa kebakaran itu bukan disebabkan oleh Fatah maupun Israel, melainkan oleh seorang turis Australia bernama Denis Michael Rohan, dia adalah anggota dari sekte evangelis Kristen Worldwide Church of God.

Dia berharap bahwa dengan membakar Masjidil Aqsha, dia dapat mempercepat Kedatangan Kedua Yesus, dengan cara mempermudah dibangunnya kembali Bait Suci Yahudi di Bukit Bait Suci. Rohan dirawat di lembaga perawatan mental, didiagnosa mengalami gangguan kejiwaan, dan akhirnya dideportasi.

Serangan terhadap Al-Aqsa disebut-sebut sebagai salah satu penyebab dibentuknya Organisasi Konferensi Islam pada tahun 1971, yang merupakan organisasi dari 57 negara yang banyak berpenduduk Islam.

Ternyata upaya Zionis-Israel untuk menghancurkan Masjidil Aqsha sudah lama diketahui dunia. Keinginan mereka untuk membangun kembali Haikal Sulaiman (The Solomon Temple), di atas reruntuhan Masjidil Aqsha juga telah menjadi rahasia umum, dan sekarang malah warga Palestina tidak diberikan akses ke Masjidil Aqsha dan otoritas Israel telah memasang metal detector, hal itu dilakukan mengingat adanya penembakan terhadap 2 polisi Israel di kompleks tersebut pada Jumat (14/7). (Iqbal)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.