Sabtu, 23 Oktober 21

Sego Gurih Tetap Rindukan Nuansa Jawa

Sego Gurih Tetap Rindukan Nuansa Jawa

Yogyakarta, obsessionnews.com – Pada umumnya sebuah komunitas yang bergerak adalah mereka yang hobi dengan bidang tersebut. Begitu juga dengan komunitas yang satu ini. Cukup unik, para pecinta sinematografi alias film ini ada yang tetap mempertahankan bahasa Jawa sebagai bahasa khasnya hingga sekarang. Ya, komunitas teater bernama Sego Gurih inilah yang merupakan sebuah kelompok sandiwara berbahasa Jawa.

Berangkat dari sebuah kelompok teater ketika pendiri-pendirinya ini berada dalam satu sekolah dan jurusan yang sama, yakni Wage Daksinarga, Ibnu Widodo, dan delapan teman lainnya. Kemudian diikuti oleh Elyandra Widarta dan lainnya hingga sekarang. Saat itu berdiri Sego Gurih karena hanya dituntut menampilkan sebuah pertunjukan untuk ajang unjuk gigi di sekolah. Kemudian terbentuklah nama Sego Gurih sebagai nama kebesaran kelompoknya.

“Awalnya, saya dan teman-teman saya waktu SMA menampilkan sebuah pertunjukan teater. Dan saat itu saya yang bersekolah di Sekolah Menengah Karawitan (SMKI) Yogyakarta pada tahun 1998 membentuk kelompok teater bernama Sego Gurih,” terang Gundul kepada obsessionnews.com belum lama ini.

Mengapa dinamakan Sego Gurih? Ibnu Widodo alias Gundul menjelaskan, Sego Gurih merupakan bahasa Jawa yang berarti nasi gurih. Nasi gurih biasanya ada pada saat acara besar di Kraton Yogyakarta seperti Sekaten inilah menjadi ide dari pemberian nama komunitas teater Sego Gurih.

“Sego Gurih yang berasal dari bahasa Jawa juga sebagai bahasa ibu. Kami menggunakannya sebagai nama komunitas kami. Menjadikan alat komunikasi yang strategis dan juga memiliki moral yang baik,” ujar Gundul.

Hingga kini Sego Gurih masih produktif membuat produksi pertunjukan keliling. Mulai dari keliling desa sampai dengan perkampungan tengah kota bahkan daerah-daerah di sekitar Yogyakarta. Pertunjukannya selama ini dilakukan dengan segmentasi dari semua kalangan masyarakat.

Lokasi pementasannya tak harus berada di panggung. Sego Gurih biasanya menampilkan kebolehannya bisa di lapangan sepak bola, pekarangan rumah, atau tempat umum manapun yang bisa digunakan untuk tampil. Para anggota kelompok ini lebih senang dengan bentuk penampilan seperti itu. Dengan penampilan mereka di tempat terbuka di manapun itulah, antusias masyarakat untuk menonton sangat besar. Bahkan ada yang beberapa orang ingin bergabung dalam komunitas ini atau membuat kelompok sandiwara seperti itu. Di sini penampilan Sego Gurih dengan karya-karyanya dapat memberikan ilmu dan manfaat mengenai seputar teater.

Pernampilan karya-karyanya terbilang cukup banyak. Mereka mementaskan karya-karya berjudul Rol, Leng, Dom, dan Suk-Suk Peng dengan penulis naskah Bambang Widoyo. “Dulu awalnya tahun 1998 silam, saat pertunjukan perdana, kami membawakan cerita yang berjudul Rol dengan dialog berbahasa Jawa ngoko Solo. Makanya hingga sekarang masih berdiri tegak karena kami rindu akan nuansa Jawa pada teater ini,” cerita Gundul.

Kelompok teater Sego Gurih ini telah berdiri 15 tahun lamanya sejak tahun 1998 memakai dialog dalam bahasa Jawa. Pentas yang dilakukan juga masih berada dalam ruangan terbuka. Namun, terkadang satu judul cerita bisa dipentaskan beberapa kali. Ada juga yang sampai enam kali pementasan karena masyarakat sangat suka dengan lakon-lakon dan cerita yang dibawakan.

Karya milik Wage Daksinarga juga masih eksis sampai sekarang, yakni Kup, Sedulur Mulur Tangga Eca, dan Purik. Purik menceritakan seorang wanita yang sudah menikah minta dipulangkan kepada orang tuanya. Lebih tepatnya jika wanita ini marah dan pergi meninggalkan rumah, pulang ke rumah orang tuanya jika sudah berkeluarga.

Komunitas Sego Gurih kebanyakan alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dari berbagai disiplin ilmu. Selain berada di Sego Gurih, para anggotanya juga memiliki pekerjaan yang berbeda-beda. “Sampai sekarang ada sekitar 30 orang yang aktif di komunitas Sego Gurih. Dengan berbagai bagian di dalamnya, masing-masing juga sudah memiliki fokus yang tetap. Seperti talent, artistik, make up, tata lampu, dan lainnya sudah ada bagiannya masing-masing,” ucap Elyandra.

Sego Gurih tidak selektif dalam memilih penonton, justru programnya adalah bagaimana sebuah pementasan teaternya itu menghibur, namun tetap interaktif dan komunikatif. “Spirit yang kami  jaga sekali. Tetap berkomunitas berkesenian sampai ke depannya,” pungkas Elyandra. (Anissa Nurul Kurniasari)

Related posts