Kamis, 27 Juni 19

Sebelum Ditemukan Tewas, Keluarga Boen Siong Sempat Lapor Polisi

Sebelum Ditemukan Tewas, Keluarga Boen Siong Sempat Lapor Polisi
* Brigadir Polisi Permadi dan Nurtafia yang diduga merupakan otak pembunuhan terhadap Tjiong Boen Siong. (Sumber foto: Facebook)

Jakarta, Obsessionnews.comJajaran Satuan Resere Kriminal (Satreskrim) Polres Temanggung dan tim Jatanras Polda Jateng mengungkap pembunuhan terhadap pengusaha tembakau dan pupuk Tjiong Boen Siong (64), warga Kelurahan Kauman, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Dalam kasus tersebut, polisi berhasil meringkus tiga orang tersangka sekaligus, salah satunya ialah istri korban, Nurtafia berinisial N. Kedua tersangka lainnya, yakni oknum polisi berpangkat Brigadir Permadi DW yang bertugas di Polsek Kranggan, jajaran Polres Temanggung dan Indarto selaku eksekutor di lapangan alias pembunuh bayaran. Sementara satu orang lainnya berinisial A hingga kini masih menjadi daftar pencarian orang (DPO) alias buronan polisi.

Kasus ini tengah viral di media sosial (medsos) khususnya di Facebook. Latar belakang dari pembunuhan ‎berencana ini adalah asmara antara N dan Permadi, keduanya merupakan otak dari aksi keji ini. Bahkan, foto ‎Permadi yang masih mengenakan seragam polisi bersama tersangka Nurtafia sempat beredar di medsos.

Berikut ini kumpulan fakta yang telah dirangkum obsessionnews.com pada Jumat (22/3/2019).

  1. Pembunuhan Boen Siong Berlatar Belakang Asmara

Nurtafia adalah perempuan berusia 30 tahun, yang merupakan istri korban. Sementara, Permadi merupakan pria idaman lain (PIL) utau selingkuhan N.

‎”N dan Permadi telah menjalin hubungan khusus selama dua tahun belakangan ini,” kata Kasatreskrim Polres Temanggung AKP Dwi Haryadi saat ditemui di Mapolres setempat, Kamis (21/3).

Keduanya mula-mula bertemu sekitar dua tahun lalu, saat Permadi ingin berbisnis tembakau. Tak hanya soal bisnis, N dan Permadi kemudian juga menjalin kisah asmara dan ingin menikah. Lantaran masih ada Boen Siong yang dianggap sebagai penghalang, lalu N dan Permadi menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi korban.

  1. Sewa Pembunuh Bayaran

Untuk menghabisi Boen Siong, pelaku otak pembunuhan N dan Permadi menyewa pembunuh bayaran, yakni Indarto dan A untuk menghilangkan nyawa korban dengan bayaran puluhan juta rupiah.

“Atas aksinya, Indarto dan A mendapat imbalan Rp20 juta. Uang itu atas pemberian N, yang diambil dari korban,” tutur perwira polisi berpangkat tiga balok itu.

  1. Pembunuhan berencana

Pengungkapan perkara ini bermula saat keluarga korban datang melapo‎r ke Polsek Parakan, pada Kamis (14/3).

Keluarga membuat laporan orang hilang, lantaran Boen Siong tak kunjung pulang setelah pergi dari rumah, dengan mengendarai mobil pick-up Mitsubishi Colt 120 SS warna hitam.

Usai mendapat laporan, polisi mulai melakukan penyelidikan.Penyelidikan mulai menemui titik terang saat petugas menemukan mobil korban di sekitar perkebunan teh Tambi, Kecamatan Kejajar, Kabupaten ‎Wonosobo.

Selain itu, dari hasil penyelidikan, polisi mencurigai keterlibatan istri korban.‎ Petugas lalu mencokok ibu satu orang anak hasil pernikahannya dengan korban pada Selasa (19/3). Selanjutnya, polisi meringkus Permadi dan Indarto di tempat terpisah.

“Dari hasil introgasi‎, diketahui pembunuhan ini direncakan oleh N dan Permadi, lantaran korban dinilai sebagai penghalang jalinan asmara mereka,” ucap Dwi.

Kemudian dua orang suruhan itu (Indarto dan A) diminta N dan Permadi mengh‎ubungi korban, dengan dalih hendak membeli pupuk cair. Disepakati, pupuk akan diserahterimakan di sekitar Kecamatan Bulu, di pinggir jalan raya Parakan-Temanggung. Korban pun keluar rumah mengendarai mobil bak terbuka ke tempat yang disepakati. ‎

  1. Pembunuhan dengan Cara Sadis

Setelah tempat sudah disepakat untuk transaksi, pembunuh bayaran tersebut melancangkan aksinya.

“Saat korban turun dari mobil hen‎dak mengambil pupuk, kepalanya langsung dipukul menggunakan gagang cangkul sebanyak dua kali di bagian tengkuk dan kepala belakang,” Beber Dwi.‎

Lalu, korban dimasukkan ke dalam mobil Xenia ‎warna hitam BE 2433 YS, dengan tujuan area kebun kopi di wilayah Kecamatan Candiroto, Temanggung, untuk dibuang.

Lantaran saat dalam mobil korban masih bergerak, kepala korban kembali dipukuli, hingga dipastikan tewas. “Mayat korban di‎temukan pada Rabu (20/3) sekitar pukul 03.00 oleh petugas, dengan kondisi sudah membusuk, Jenazah korban ditemukan oleh petugas, dari pengakuan para tesangka,” ungkap perwira polisi ini.

Setelah dievakuasi, jenazah kemudian dibawa ke RSUD Temanggung untuk diautopsi‎. Selanjutnya, jenazah diserahkan kepada pihak keluarga.

Atas perkara ini ketiga tersangka dijerat Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana. “Ancaman hukumannya mati atau penjara seumur hidup,” tandasnya. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.