Kamis, 28 Mei 20

Seandainya Saya Menjadi Sampeyan

Seandainya Saya Menjadi Sampeyan
* Dr Zulkifli S Ekomei

Oleh :  Dr Zulkifli S Ekomei, Aktivis senior/Dokter di Surabaya

Saya sangat memahami kondisi sampeyan, tapi inilah saat yang tepat bagi sampeyan untuk merenung, mengenali diri sampeyan, mensyukuri yang sudah sampeyan dapat, berpikir dan bertindak untuk kepentingan orang banyak, karena yang sekarang sampeyan miliki, yang ada di tangan sampeyan pada hakekatnya bukanlah anugerah tetapi amanah yang harus sampeyan jaga dan kelak harus sampeyan pertanggungjawabkan di akhirat nanti, itupun jika sampeyan percaya ada akhirat. Jika pun tidak, sebagai orang Jawa yang konon Jawané digowo, sangat memegang teguh filosofi bahwa dalam hidup itu berlaku hukum tabur tuai, alias “NGUNDUH WOHING PAKARTI”, sopo sing nandur yo kuwi sing bakalé ngunduh, siapa yang menabur maka akan menuai.

Baiklah sekarang saya akan memposisikan diri seandainya saya jadi sampeyan, saya pada posisi sampeyan, pertama tentu saya akan lebih banyak mendekatkan diri dan bersujud kepada Gusti Allah, memohon ampun terhadap segala kesalahan maupun kekhilafan saya, sekaligus memohon petunjuk akan apa yang harus segera saya lakukan demi mengatasi seluruh permasalahan bangsa.

Saya yakin dengan mendekatiNya, Tuhan tak akan segan-segan memberikan apa yang manusia butuhkan termasuk pengetahuan. Dalam wujud perenungan yang dalam, berproses mengenali diri sendiri, siapa saya, dan untuk apa saya hadir ke dunia ini. Jika saat ini saya memangku jabatan penting, lalu apa kekuatan dan kewenangan yang saya miliki, lalu saya juga korektif dan instrospeksi diri kira-kira apa saja kelemahan saya, maka saya akan mencoba mengingat kritikan yang pernah saya terima, bahkan caci maki yang pernah saya dengar, karena tidak ada yang kebetulan di dunia ini, segala yang baik atau buruk itu selalu bisa diambil hikmah pembelajarannya, jika kita berbesar jiwa, dan saya akan melupakan semua sanjungan, puja-puji yang melenakan, yang hanya asal bapak senang, hanya bermaksud menyenangkan saya, dan itu saya tahu dilakukan orang-orang demi menjilat saya, tetapi justru menjerumuskan saya ke lembah kenistaan.

Dengan petunjukNya, saya akan melihat peluang apa yang bisa saya gunakan untuk menyelesaikan masalah yang serba darurat yang menyebabkan kepanikan, masalah yang sudah memakan korban jiwa cukup banyak, dan ancaman krisis multidimensi, dimana banyak orang menggantungkan harap pada kebijaksanaan dan kebijakan saya. Karena saya tahu benar, mereka menunggu saya karena menuntaskan permasalahan yang belakangan merundung bangsa.

Setelah itu dengan keyakinan penuh dan bersandar kepadaNya, saya akan mengundang orang-orang yang saya anggap akan bisa membantu dengan ikhlas, baik pemikiran-pemikiran maupun yang mempunyai hubungan dengan pihak-pihak yang bisa segera membantu tindakan darurat yang segera saya lakukan, dari sini saya akan membentuk tim yang saya yakin akan bekerja maksimal sehingga langkah saya akan segera terwujud.

Tentu efektivitas dan efisien adalah kata kunci yang saya pegang, semua pembantu saya yang bisanya cuman ABS dan menjilat akan segera saya berhentikan, daripada selama ini hanya menjadi beban, baik beban anggaran maupun beban psikologis karena pernyataannya yang justru menimbulkan kegaduhan dan kepanikan pada situasi darurat ini, saya juga akan memberhentikan mereka yang selama ini ada di lingkaran saya karena hutang budi atau balas budi dan pertimbangan akomodatif, saya lupakan romantisme masa lalu, demi kepentingan yang lebih besar dan lebih manfaat untuk orang banyak.

Saya akan memangkas semua anggaran yang tidak perlu, saya akan alokasikan pada hal-hal yang bersifat darurat yang membutuhkan pembiayaan, saya minta mereka-mereka yang selama ini sudah menjadi penikmat untuk mengembalikan uangnya, membiayai apa yang akan saya lakukan, dengan kewenangan saya mereka harus melakukannya, saya tidak akan minta uang pada mereka yang justru seharusnya saya bantu.

Setelah semuanya saya nilai siap, saya akan tampil ke depan publik, saya akan bicara dari hati ke hati, saya akan bicara tanpa teks, karena akan menimbulkan persepsi bahwa yang saya ucapkan adalah dari dalam diri saya, dari hati saya yang paling dalam, saya awali dengan permintaan maaf atas segala hal yang mungkin tidak berkenan di hati mereka, lalu saya akan setransparan mungkin paparkan rencana saya mengatasi keadaan darurat, saya akan ajak semua pihak bekerjasama karena yang kita hadapi adalah masalah kita bersama, saya akan pasang badan didepan, mengambil resiko paling besar terhadap apa yang saya jalankan. Bahwa pada situasi gawat darurat yang bisa kita lakukan bersama adalah kembali bergotong royong mengatasi masalah, seperti diajarkan para pendahulu bangsa. Tidak ada kelompok maupun golongan yang lebih penting demi mentas dari permasalahan ini, semua elemen masyarakat akan terlibat dalam kerja besar ini.

Kalau saya merasa saya tidak bisa menjalankan tulisan sederhana ini, berarti memang saya tidak mampu dan sebaiknya menyerahkan pada orang yang saya anggap lebih mampu, saya lebih baik kehilangan semuanya, lebih baik mengorbankan diri saya daripada mengorbankan banyak orang, mengorbankan bangsa saya, semoga bermanfaat.

Biridloillah Alfatihah

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.