Kamis, 23 September 21

Seandainya Papua Benar-benar Milik Indonesia

Seandainya Papua Benar-benar Milik Indonesia

Jakarta, Obsessionnews – Pasca perang dunia ke dua di pertengahan tahun 1945, negara-negara yang turut andil porak-poranda ekonominya. Begitu juga Amerika Serikat (AS) yang memimpin salah satu koalisi. Di negeri Paman Sam, inflasi besar terjadi, tingkat pekerjaan rendah hingga membuat AS kudu putar otak cari cara perbaiki ekonomi.

Emas sebagai logam mulia, mampu menopang perekonomian sebuah negara dan AS pun menginginkan benda ini lantaran berbeda dengan mata uang yang kursnya bisa naik turun.

Berangkat dari sini, AS kemudian mengirimkan para ahli geologinya ke seluruh dunia guna mencari sumber-sumber emas serta logam mulia lainnya. Di tahun 1960, Forbes Wilson menggelar ekspedisi ke Irian Jaya dan menemukan limpahan harta karun tersimpan di pegunungan Jayawijaya dan sekitarnya. Eskpedisi tersebut, dituangkan dalam buku berjudul The Conquest of Cooper Mountain.

Di Jayawijaya, bukan Cuma ditemukan simpanan biji tembaga tapi juga emas dan perak. Lantas didirikanlah PT Freeport dengan Forbes Wilson sebagai direktur utama pertama saat itu.

Mimpi AS untuk menanamkan investasi di Irian Jaya pada saat itu kudu pupus lantaran sikap keras Presiden Soekarno yang anti kapitalis barat dan melihat AS sebagai komandan imperialism.

Tahun 1961, Presiden Soekarno justru gencar merevisi kontrak pengelolaan minyak serta tambang asing di Indonesia. sebanyak 60 persen hasil eksploitasi, diwajibkan menjadi jatah rakyat Indonesia hingga membuat kebanyakan pengusaha asing kelimpungan dengan sikap Bung Karno.

Skenario pun dibuat guna melengserkan Soekarno dari kursi kepemimpinannya. CIA yang merupakan badan intelijen AS juga menggelar operasi rahasia di Indonesia dengan tujuan menjatuhkan Bung Karno.

Akhirnya, setelah pecah peristiwa Gerakan 30 September tahun 1865, Soekarno benar-benar dijatuhkan. Kemudian, berbekal Surat Perintah 11 Maret tahun 1966, Soeharto berhasil naik sebagai Presiden kedua Republik Indonesia menggantikan Soekarno di tahun 1967.

Tanggal 7 April 1967, untuk pertama kalinya Presiden Soeharto menandatangani kontrak kerjasama dengan perusahaan asing bernama PT Freeport untuk masa kerja 30 tahun ke depan yang memang sejak awal berhasrat mengeksploitasi kekayaan Irian Jaya. Kemudian, di tahun 1971 perusahaan asal AS ini untuk pertama kalinya pula beroperasi.

Di tanah Papua Barat yang saat itu masih bernama Irian Jaya, kandungan kekayaan emas, tembaga dan perak merupakan yang paling besar di dunia. Dalam setahun, Freeport mampu mengais 80 ton emas atau setara 80 ribu kilogram. Seandainya harga tiap kilogram emas mencapai 500 juta rupiah, dalam setahun perusahaan ini bisa mengantongi Rp 40 triliun.

Selain itu, dari hasil tembaga Freeport mampu menghasilkan 400 juta kilogram setiap tahun. Kalau untuk 1 kilogram tembaga seharga Rp 50 ribu, maka sebanyak Rp 20 triliun sudah dibawa pulang ke AS.

Kalau dirinci lebih detail lagi, dalam sehari penghasilan Freeport dari Irian Jaya mencapai Rp 164,37 miliar. Dan ini, belum termasuk hasil dari eksploitasi perak.

Dari hasil sebanyak itu, Indonesia Cuma kebagian saham sebesar 9,36 persen yang keuntungannya sekitar Rp 7,48 triliun pertahun.

Pada tahun 2010, pemerintah Indonesia mulai menyadari kalau di Papua juga terdapat kandungan uranium. Pemerintah pun mencurigai kalau Freeport secara diam-diam juga menambang bahan baku nuklir tersebut.

PT Freeport kemudian menampik kecurigaan tersebut dan mengklaim kalau pihaknya bekerja sesuai kontrak karya yang telah disepakati dengan hanya menambang emas, tembaga dan perak.

Asal tahu saja, dahulu kala antara Papua dan Australia merupakan satu daratan. Hal ini, ditunjukkan dengan kesamaan karakteristik jenis batuan yang dimiliki dua wilayah tersebut yakni batuan ultrabasa serta umur batuan serupa yaitu 600 juta tahun. Dan, semua orang tahu kalau negeri Kangguru adalah penghasil uranium terbesar di dunia. Sedangkan AS, adalah negara pengkonsumis uranium yang juga terbesar di dunia meski tak ada cadangan sama sekali di negeri Paman Sam.

Meski sudah 40 tahun dieksploitasi, cadangan biji material mengandung emas, tembaga, perak dan juga uranium di Papua Barat mencapai 2,5 miliar metric ton. Diperkirakan, tambang Grasberg yang kini masih dikuasai Freeport masih bisa beroperasi sampai tahun 2064 nanti. (Mahbub Junaidi dari Berbagai Sumber)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.