Kamis, 30 Mei 24

“Saya Ikut Karena Ini Panggilan Agama, Mas..”

“Saya Ikut Karena Ini Panggilan Agama, Mas..”
* Mulyono tak pernah absen ikuti unjuk rasa anti Ahok.

Jakarta, Obsessionnews.com – Ratusan peserta aksi unjuk rasa yang menuntut Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dipenjara, Selasa (3/1/2017), tak melulu berasal dari kader sebuah ormas Islam.

Di antara mereka ada juga ‘rakyat biasa’ yang tak membawa atribut apapun untuk menyalurkan aspirasinya di depan auditorium Kementerian Pertanian, kawasan Ragunan, Jakarta Selatan tersebut.

Adalah Mulyono, seorang bapak yang selalu terlihat di setiap unjuk rasa anti Ahok berlangsung. Ya, pria berusia 63 tahun itu selalu terlihat sejak aksi damai Bela Islam jilid 1, 2, 3, hingga empat kali digelarnya sidang atas Ahok.

Penampilan Mulyono yang mencolok memang mudah menggaet perhatian khalayak. Mengenakan kopiah hitam dengan tinggi tak biasa, lelaki asal Pasuruan itu selalu terlihat menggandeng sepeda onthel-nya yang dipasangi tiga bendera merah putih.

Di bagian belakang sepeda, Mulyono memasang satu keranjang kayu berisi dua buah speaker. Melalui pengeras suara yang dipasangnya sendiri itulah Mulyono kerap memutar lagu-lagu keroncong, pop, kasidahan, hingga lagu perjuangan.

“Biar ndak sepi, Mas. Lagu-lagu ini yang menemani saya berkeliling naik sepeda,” ujarnya memberi alasan.

Saat disinggung alasan ia selalu terlihat di setiap aksi, Mulyono menjawab lugas dengan mimik serius.

“Saya ikut demo karena ini panggilan agama, Mas. Saya juga ndak peduli kalau harus mati saat membela agama,” tegas lelaki yang mengaku tak bisa membaca ini.

Mulyono lalu bercerita jika dirinya selalu menangis kalau mendengarkan para kiai, ustadz, dan habib berorasi. Di waktu lain, ia kerap bersemangat saat para orator meneriakkan takbir.

Namun, ia juga mengaku tak habis pikir mengapa umat Islam dikondisikan seperti ini sehingga harus ada unjuk rasa yang dilakukan terus-menerus.

“Padahal Indonesia itu banyak orang Islamnya. Tapi kok begini?” katanya.

Keheranan Mulyono, sejatinya, merupakan kegelisahannya selama ini. Mulyono yang mengaku telah menjadi orang jalanan sejak tahun 2000 itu tahu betul kondisi orang-orang jalanan seperti dirinya.

Kepada Obsessionnews.com Mulyono berkisah jika para gelandangan seperti ia kerap diganggu oleh orang-orang yang berpura-pura baik namun menawarkan mereka untuk berpindah agama.

“Yang kayak gitu banyak, Mas. Saya sering dikasih uang tapi ditawari masuk agama mereka. Tapi saya tolak. Saya ndak bisa baca tapi ndak bodoh,” kisahnya.

Sejak tahun 2000 silam, Mulyono benar-benar jadi orang jalanan. Ia nekat pergi dari kampungnya di Pasuruan, Jawa Timur, ke ibu kota Jakarta untuk mengadu nasib.

Baginya, hidup di kampung maupun di Jakarta sama saja. Mulyono yang sudah bercerai dengan istrinya mengaku hidup sebatang kara, begitu pun di ibu kota yang tanpa sanak saudara.

“Tapi Allah itu Maha Baik, Mas. Rezeki saya sudah Allah atur,” ujarnya.

Saat ini, untuk menutupi kebutuhannya sehari-hari, lelaki yang tinggal di Cilandak itu menjadi tukang pijat panggilan. Para pelanggannya bertebaran di ibu kota, bahkan, hingga Cengkareng.

Untuk menggunakan jasanya, pelanggan cukup meneleponnya di nomor 082115311***. Adapun Mulyono sudah pasti akan menemui para pelanggannya, meski hanya dengan mengayuh sepeda onthel. (Fath)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.