Selasa, 21 September 21

Satya Lencana Wirakarya, Wujud Komitmen Anas Bangun Pertanian Banyuwangi

Satya Lencana Wirakarya, Wujud Komitmen Anas Bangun Pertanian Banyuwangi
* Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menerima penghargaan Satya Lencana Wirakarya dari Presiden Jokowi.

Banyuwangi, Obsessionnews.com – Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mendapat penghargaan Satya Lencana Wirakarya dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Penghargaan tersebut diberikan kepada Anas atas perannya dalam mengembangkan pertanian di Banyuwangi. Penghargaan tersebut diserahkan di Stadion Harapan Bangsa, Kota Banda Aceh, dalam acara Pekan Nasional Petani Nelayan XV Tahun 2017, Sabtu (6/5/2017).

Anas menyebut penghargaan yang diterimanya merupakan hasil kerja keras bersama masyarakat. Menurut dia, penghargaan tersebut makin memacu pemerintah daerah untuk terus menempatkan sektor pertanian sebagai prioritas pembangunan. Apalagi, sektor pertanian ini sebagai penyokong terbesar perekonomian Banyuwangi.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada para petani, penyuluh, dan Dinas Pertanian yang telah bersama-sama mengembangkan sektor ini,” kata Anas.

Anas menuturkan, pertanian adalah salah satu sektor terpenting dalam perekonomian masyarakat Banyuwangi. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2015 menyebutkan sektor pertanian menyumbang 36 persen PDRB Banyuwangi atau setara Rp 21,9 triliun.

Karena itu, program pertanian terus mendapat perhatian. Berbagai upaya pun dilakukan, sehingga produktivitas padi Banyuwangi selalu terjaga di atas rata-rata nasional. Rata-rata produksi padi enam tahun terakhir mencapai 795 ribu ton gabah.

“Banyuwangi juga mengembangkan kluster organik yang ditargetkan bisa mencapai 200 hektare, dengan fokus utama membidik pasar premium dan ekspor,” pungkasnya.

Para petani juga didorong berinovasi. Salah satunya inovasi mina padi, mina jeruk, dan mina naga untuk menambah penghasilan petani, yaitu dapat panen pertanian sekaligus panen ikan. Di sektor hortikultura, ujar Anas, pengembangan dilakukan pada berbagai komoditas, seperti buah naga, semangka, manggis, jeruk, durian merah, dan cabai.

“Bahkan Kementerian Pertanian telah memilih Banyuwangi sebagai salah sentra pengembangan jeruk nasional,” tegas Anas.

Banyuwangi juga menjadi sentra cabai nasional. Pada 2010, produksi cabai baru berkisar 5.997 ton, lalu melonjak 144 persen pada 2015 menjadi 14.684 ton. Sementara produksi cabai kecil di kisaran 21.000 ton.

“Kami mengembangkan irigasi hemat air agar produksi cabai berkelanjutan tanpa mengenal musim. Tahun ini Dinas Pertanian memulai tanam 10 juta bibit cabai di polybag dengan melibatkan banyak unsur masyarakat,” ujar Anas.

Selain teknis pertaniannya diperkuat, Pemkab Banyuwangi menggiatkan pembangunan infrastruktur irigasi. Sejak 2011 telah dibangun dan diperbaiki jaringan irigasi primer 3.718 km, irigasi sekunder 2.204 kilometer, dan tersier 797 kilometer. Jaringan tersebut mengairi sekitar 66.000 hektar sawah. Pada tahun ini juga dibangun 15 embung baru dengan kapasitas tiap embung 2000-5000 meter kubik.

“Terima kasih kepada pemerintah pusat yang telah membangun Waduk Bajulmati yang sangat bermanfaat bagi sektor pertanian Banyuwangi, khususnya di wilayah utara. Waduk tersebut mengairi lahan pertanian seluas 1.800 hektar, termasuk di dalamnya untuk 600 hektare lahan cetak sawah baru di wilayah utara Banyuwangi,” katanya.

Sejak mendapat amanah dari rakyat menjadi Bupati Banyuwangi tahun 2010, Anas total bekerja untuk memajukan daerah yang terletak di bagian paling timur di Jawa Timur tersebut. Di bawah kendali kepemimpinannya Banyuwangi mengalami kemajuan yang pesat di berbagai bidang.

Anas pernah dianugerahi penghargaan Kepala Daerah Terbaik atau “Best Achiever in Government” dalam acara Obsession Awards 2017. Di bawah kepemimpinannya, Banyuwangi tercatat sebagai satu-satunya kabupaten yang memperoleh nilai A dalam evaluasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah tahun 2016 yang dilakukan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan dan RB).

Ini berkat kebijakannya yang mampu mengintegrasikan dari perencanaan, penganggaran, hingga pelaporan dalam sebuah sistem. Paradigma pemerintahan digeser bukan lagi pada berapa anggaran yang disiapkan dan dihabiskan, tapi berapa besar kinerja yang dihasilkan.

Pemimpin muda yang dilahirkan di Banyuwangi, 6 Agustus 1973, ini layak disebut sebagai marketer sejati. Anas membawa sektor pariwisata Banyuwangi terus tumbuh. Data terakhir, jumlah wisatawan mancanegara yang melancong ke Banyuwangi meningkat lebih dari 300 persen. Sektor parisiwisata kini meningkat 375 persen. Padahal, Banyuwangi adalah tetangga dekat Pulau Bali yang sudah begitu kondang.

Sektor ini dijadikan  payung untuk menggerakkan sektor ekonomi mikro di daerahnya sekaligus untuk meningkatkan pendapatan daerah. Ia memulai dengan membangun infrastruktur di sejumlah obyek wisata. Konsep natural dipertahankan, ditambah sentuhan perbaikan infrastruktur, terutama akses jalan dan penambahan panjang landasan bandara.

Terobosan lainnya gelaran berbagai ajang festival. Tujuannya selain memperkenalkan Banyuwangi kepada wisatawan mancanegara, juga menjadi identitas kebanggaan bagi masyarakat lokal terutama anak muda. Contohnya seperti Banyuwangi Festival, Banyuwangi Ethno Carnival, sampai Tour de Ijen.

Yang tak kalah penting adalah upaya Anas untuk mengurangi kesenjangan antarwilayah dengan menekan angka kemiskinan. Antara lain, dengan menggerakkan sektor UMKM, namun tetap memperhatikan pertumbuhan pasar modern. Selama periode pertama, kerja kerasnya berbuah manis. Angka kemiskinan Banyuwangi berkurang dari 20,4 persen menjadi tersisa 9,2 persen. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.