Rabu, 27 Oktober 21

Satu Tahun Nawacita Jokowi-JK (Bagian 10)

Satu Tahun Nawacita Jokowi-JK (Bagian 10)

 

Apa Kabar Revolusi Mental?

Salah satu tekad bulat Jokowi adalah merevolusi mental bangsa yang dinilai sudah melenceng dari cita-cita kemerdekaan. Selama satu tahun pemerintahan, janji revolusi mental banyak dikritisi dan dinilai tak berhasil.

Harus diakui bahwa cita-cita ini memang bukan kerja mudah, tak semudah mengatur tata niaga beras atas tatak kelola gas misalnya. Alangkah naifnya jika karakter dan mentalitas yang sudah mulai mengakar dalam bisa direvolusi dalam waktu satu tahun, di tengah segudang problematika dan tantangan internal maupun eksternal.

Jika revolusi di zaman kemerdekaan adalah sebuah perjuangan fisik, maka setelah 70 tahun merdeka, Jokowi melihat bangsa ini masih harus melakukan revolusi dalam arti yang berbeda, yaitu membangun jiwa bangsa yang merdeka, mengubah cara pandang, pikiran, sikap, dan perilaku agar berorientasi pada kemajuan dan hal-hal yang modern, sehingga Indonesia menjadi bangsa yang besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

3. Mengukur Pelaksanaan Nawacita - FINAL-49

Gerakan revolusi mental semakin relevan bagi bangsa Indonesia yang saat ini tengah menghadapi tiga problem pokok bangsa, yaitu merosotnya wibawa negara, merebaknya intoleransi, dan melemahnya sendi-sendi perekonomian nasional.

Dalam kehidupan sehari-hari, praktek revolusi mental adalah menjadi manusia yang berintegritas, mau bekerja keras, dan punya semangat gotong royong. Jokowi memerintahkan para pemimpin dan aparat negara sebagai pelopor menggerakkan revolusi mental, dimulai dari masing-masing Kementerian/Lembaga (K/L). Sebagai pelopor gerakan revolusi mental, pemerintah lewat K/L harus melakukan tiga hal utama yaitu; bersinergi, membangun manajemen isu, dan penguatan kapasitas aparat negara.

Gerakan revolusi mental terbukti berdampak positif terhadap kinerja pemerintahan Jokowi. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, ada banyak prestasi yang diraih berkat semangat integritas, kerja keras, dan gotong royong dari aparat negara dan juga masyarakat.

Pemberantasan illegal fishing, pengelolaan BBM lebih bersih dan transparan, pembangunan pembangkit listrik terbesar di Asia Tenggara, pembangunan tol trans Jawa, trans Sumatera , dan Kalimantan, peningkatan akses rakyat pada kesehatan dan pendidikan, adalah sedikit hasil dari kerja keras itu. Ke depan, gerakan revolusi mental akan semakin digalakkan agar sembilan agenda prioritas pemerintah yang tertuang dalam Nawa Cita bisa terwujud.

Dalam hal sistem pendidikan nasional, Jokowi memahami bahwa banyak aspek yang harus diperhatikan terkait prestasi seorang siswa. Oleh karena itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memutuskan tidak menjadikan Ujian Nasional (UN) sebagai satu-satunya indikator untuk mengukur kelulusan siswa. Lulus UN hanyalah salah satu bagian pertimbangan dari sekian faktor yang menjadi pertimbangan kelulusan. Dengan banyaknya indikator kelulusan, akan membuat siswa secara mental tak terbebani ujian UN. Siswa jadi lebih bisa mengembangkan potensi diri mereka.

Hal terpenting yang harus dijaga adalah bagaimana guru dan peserta ujian menjaga integritas mereka. Harus ada pemahaman bahwa UN bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, hingga siswa tidak melakukan segala cara dengan melanggar aturan. Kejujuran menjadi faktor penting bagi peserta didik, ditambah para guru harus menjaga integritas mereka agar tidak ikut-ikutan terbawa arus untuk membocorkan soal ujian. Hal ini penting karena kejujuran menjadi dasar dari program Revolusi Mental yang menjadi program utama pembangunan pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Penerapan kurikulum 2013 akhirnya ditangguhkan. Pemerintah memutuskan untuk kembali menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 sebagai acuan sekolah dalam menjalankan sistem pendidikan. Penangguhan kurikulum 2013 ini dilakukan guna memberikan waktu untuk evaluasi dan penyempurnaan, serta mempersiapkan sekolah secara matang jika hasil kajian menyimpulkan bahwa kurikulum ini dapat kembali diterapkan di masa datang.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengemukakan bahwa kurikulum 2013 sebenarnya sangat baik karena kurikulumnya lebih komprehensif dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya. Kurikulum 2006 hanya menghasilkan kompetensi kognitif siswa, namun Kurikulum 2013 justru menghasilkan tiga kompetensi sekaligus yakni kognitif (pengetahuan), keterampilan, dan sikap (spiritualitas).

Kurikulum 2013 mengubah proses pembelajaran yang selama ini berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa (bahkan juga mendorong proses pembelajaran yang melibatkan orang tua siswa). Selain itu, kurikulum tersebut juga mengubah proses pembelajaran yang selama ini menghasilkan siswa yang pintar secara kognitif dengan mengandalkan hafalan menjadi siswa yang kreatif dan berkarakter.

Namun demikian, pemerintah menginginkan implementasi Kurikulum 2013 dievaluasi terlebih dahulu pada 6.221 sekolah percontohan sebelum diterapkan di seluruh sekolah di Indonesia, hal ini bertujuan untuk mengetahui perbaikan apa yang perlu dilakukan pada tahap berikutnya. (Pul)

Baca juga:

Satu Tahun Nawacita Jokowi-JK (Bagian 1)

Satu Tahun Nawacita Jokowi-JK (Bagian 2)

Satu Tahun Nawacita Jokowi-JK (Bagian 3)

Satu Tahun Nawacita Jokowi-JK (Bagian 4)

Satu Tahun Nawacita Jokowi-JK (Bagian 5)

Satu Tahun Nawacita Jokowi-JK (Bagian 6)

Satu Tahun Nawacita Jokowi-JK (Bagian 7)

Satu Tahun Nawacita Jokowi-JK (Bagian 8)

Satu Tahun Nawacita Jokowi-JK (Bagian 9)

Satu Tahun Nawacita Jokowi-JK (Bagian 11)

Satu Tahun Nawacita Jokowi-JK (Bagian 12 – Selesai)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.