Minggu, 25 September 22

Sarkem, Komunitas Kesenian yang Inovatif

Sarkem, Komunitas Kesenian yang Inovatif

Yogyakarta, Obsessionnews – Komunitas yang awalnya sekadar keisengan semata kemudian memunculkan kegiatan yang tak kalah menariknya dengan sanggar. Dengan berbagai kegiatan kesenian inilah nama Sarkem ditampilkan.

Bukan seperti yang diketahui oleh masyarakat Yogyakarta bahwa Sarkem menunjukkan ikon pariwisata Yogyakarta. Jelas beda. Pemuda-pemudi di Yogyakarta menamakan komunitasnya Sarkem alias Sanggar Kemanusiaan.

“Sarkem terbentuk 27 Oktober 1999 di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Di situ hanya sebatas tempat berkumpulnya teman-teman kampus jika usai kegiatan perkuliahan,” terang Fairus Zul Mumtaz, pelaksana Sarkem, kepada obsessionnews.com baru-baru ini.

Pementasan musik dan puisi
Pementasan musik dan puisi

Dekan FBS UNY Prof. Dr. Suminto A. Sayuti menyetujui nama tersebut sebagai Sarkem (Sanggar Kreativitas Mahasiswa). Namun, karena situasi politik saat itu Suminto menyebut Sarkem menjadi Sarkema. Sedangkan mahasiswa FBS pun tetap bersikukuh dengan nama Sarkem.

Dari beberapa keisengan yang muncul dan berdiri secara independen, Sarkem kemudian membentuk kelompok-kelompok kecil, seperti Sanggar Cakruk (teater), Keroncong Kere (keroncong), VOC (keroncong), Kelompok Tanpo Aran (musik puisi), LDAP (Lingkar Diskusi Alkohol dan Puisi), dan Sastra Tempel (publikasi sastra). Di dalamnya berbagai kegiatan kesenian dilakukan meliputi bidang-bidang itu.

Fairus mengatakan, kevakuman sempat terjadi pada 2002–2003. Kemudian tahun 2004 Sarkem kembali eksis, namun di dalamnya tetap masih dengan bantuk yang lama. Mengubah format, tahun 2005 Sarkem memperbaiki diri baik dari segi kreatif maupun manajemen dengan tujuan agar kehidupan di dalamnya semakin tertata.

Pelatihan penulisan cerpen
Pelatihan penulisan cerpen

Untuk menyatukan semua kreativitas yang ada di dalamnya, kata dia, ditambahkanlah kata ‘komunitas’ di depan kata Sarkem tadi. Maka jadilah ‘Komunitas Sarkem’ dengan berbagai bidang di dalamnya.

Pada akhir 2008 situasi politik memanas. Dengan penuh pertimbangan, anggota Sarkem sepakat keluar dari kampus dan menjalani aktivitas tersebut di luar kampus. Kemudian nama ‘mahasiswa’ sudah tidak digunakan lagi, karena para anggota Sarkem sudah tidak berada di wilayah kampus. Sarkem menjadi kependekan dari Sanggar Kreativitas Manusia.

Januari 2012 Sarkem berganti diri menjadi Sanggar Kemanusiaan. Meski terkesan sebagai sanggar sosial, Sarkem tetap berada di jalur kesenian yang inovatif.

“Di Yogyakarta, Sarkem menjadi satu-satunya komunitas mahasiswa independen di luar kampus yang mampu survive hingga 16 tahun lamanya. Dari tahun 1999 hingga sekarang,” tambahnya. Semua anggotanya adalah mahasiswa yang tidak puas dengan iklim berkesenian di kampus. Khusus diperuntukkan bagi mahasiswa, juga tidak menjadikan Sarkem sebagai lahan pekerjaan.

Bercerita soal kegiatannya, Sarkem memiliki program kerja yang relevan dengan namanya tersebut. Program-program tersebut di kelompokkan dalam tiga bidang, yaitu Teater Sarkem (bidang teater), Assarkem (bidang musik dan puisi), dan Sastra Tempel (bidang publikasi sastra). “Untuk hal ini kami tidak iseng,” cetusnya.

Di bidang teater, perkembangannya memiliki cakupan luas untuk kegiatannya. Seperti bekerja sama dengan agenda di kampus-kampus tertentu. Bahkan pernah berpentas sampai luar kota atau luar Yogyakarta. Awalnya dengan pentas lakon Goro-Goro di acara Asia Tri Festival. “Memang teater lebih sering pentas di luar Yogyakarta,” ujarnya.

Sarkem juga membentuk sebuah studio seni yang bergerak di bidang artistik panggung pertunjukan. Studio seni ini bernama Ndang Nding Ndeng Art Studio. Panggung pertunjukan ini membuat suatu acara rutin yang dinamai Jumat Malam. Acaranya adalah pembacaan puisi secara rutin di hari Jumat malam di setiap minggunya.

Di bidang teater sendiri masih tercakup beberapa karya yang dibuatnya. Contohnya, Sarkem pernah tampil di Pusat Bahasa Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, dan Balai Bahasa Yogyakarta pada tahun 2009 dengan judul Domba-Domba Revolusi. Kemudian di LIP Yogyakarta dalam judul Baca Kolom Umar Kayam. Villa De’Amour juga pernah mereka pentaskan di Balai Bahasa Yogyakarta pada November 2009.

Selanjutnya, pada 2010 Sarkem menampilkan lakon Pensiunan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Wirogunan, Yogyakarta. Mei 2010, Sarkem dengan pentas Sendang Kali Angke ditampilkannya di Aula Kementerian Agama Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah (Jateng). Pada Februari 2011, Sarkem menyuguhkan lakon Rashomon Ryonosuke di Taman Budaya Surakarta, Jateng.

Di bidang musik puisi, pada akhir 2006 secara resmi menamai Assarkem untuk mengawali jobnya. Kata Fairus, penambahan kata As di awal dipilihnya setelah menggugurkan beberapa pilihan yang lain, yaitu sang, si, the, dan bung. Album perdana Assarkem berjudul Berbagi Selembar Puisi yang berisi 8 lagu dengan perpaduan puisi-puisi sastrawan terkenal.

Satu lagi untuk kegiatan Sarkem dalam bidang sastra, ungkap Fairus, sempat mengadakan workshop penulisan cerpen. Terkait penulisan, meliputi puisi, cerpen, esai, media, dan lain-lainnya. “Adanya sidang puisi yakni pembahasan sebuah karya puisi. Serta ada yang namanya sastra tempel semacam koran tempel atau buletin,” pungkasnya. (Nissa)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.