Jumat, 6 Desember 19

Saatnya Peternak Sapi Diberdayakan

Saatnya Peternak Sapi  Diberdayakan

Jakarta – Kebutuhan daging sapi terus meningkat, sedangkan pemenuhan dari peternak lokal tak mencukupi. Maka, ditempuh jalan pintas dengan impor, yang menurut Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) 250.000 ton atau 45% dari total kebutuhan daging dalam negeri pada 2014.

Dalam debat capres/cawapres, 5 Juli lalu yang digelar KPU, capres Prabowo Subianto, menjelaskan, Yang harus dilakukan untuk menekan harga sapi yaitu dengan meningkatkan kemampuan dan kapasitas petani untuk menambahkan jumlah ternak di Indonesia.

“Tambah jumlah pengusaha-pengusaha yang akan jalankan pabrik-pabrik pemotongan sapi memperlancar distribusi sapi dari sumber yang ada di Indonesia. Sebenarnya petani di Indonesia hasilkan cukup banyak sapi, tapi mendatangkan sapi dari Nusa Tenggara Timur lebih susah daripada dari Australia,” tuturnya.

Sedangkan Jokowi menambahkan untuk strategi pemenuhan pasokan daging secara jangka panjang dengan memberikan bakalan sapi ke desa-desa tapi terpusat di dalam satu kandang sehingga gampang mengontrol.

“Kita bisa dapatkan pupuk, bisa dapat energi dari kotoran sapi di kandang. Jangka panjang, kita punya stok sapi hidup yang kalau diperlukan untuk suplai daging sapi. Jangan sampai impor daging karena stok di dalam negeri tidak cukup,” tuturnya.

Jika ingin mengimpor sapi, Jokowi menyarankan jangan dalam bentuk hass tapi dalam bentuk karkas (sapi potong gelondongan tanpa kepala dan kaki).  “Kita bawa ke sini karkas dipotong di sini sehingga harganya macam-macam ada Rp 30 ribu, ada harga daging Rp 70 ribu. Dengan begitu, tukang bakso bisa hidup dari cara impor seperti ini,” tutur dia.

Prabowo sepakat dengan pernyataan Jokowi soal pengembangan peternakan sapi di desa-desa demi menciptakan ketahanan pangan. “Yang saya tegaskan, jangankan karkas, ternak itu lahirnya harus di indonesia. Kalau perlu karkas pun kita tidak impor, untuk itu kita harus melipat gandakan jumlah ternak kita.”

Jadi menjadi tanggungjawab bersama, antara para pihak, agar bisa meningkat jumlah sapi dan kerbau di Indonesia.

Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Teguh Boediyana mengatakan, konsumsi daging saat ini sebanyak 2,2 kg per kapita per tahun dari 250 juta penduduk Indonesia, sehingga total mencapai 550.000 ton.

“Angka perkiraan volume impor daging tersebut jauh lebih besar ketimbang yang ditetapkan dalam road map swasembada daging 2014 yang hanya 10%,” kata Teguh di Jakarta, baru-baru ini.

Data Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan mencatat, volume impor sapi bakalan dan siap potong selama Januari – 21 Juli 2014 mencapai 381.212 ekor atau setara 76.000 ton daging. Sedangkan impor daging sapi pada periode yang sama sebanyak 57.139 ton.

Dengan demikian, total daging impor yang sudah masuk Indonesia mencapai 133.139 ton atau 23,16% dari kebutuhan daging nasional 2014 sebesar 757.088 ton.

Impor daging sapi akan bertambah. Jika dibanding 2012, impor daging, sapi bakalan, dan sapi siap potong akan jauh lebih besar. Pada 2013 impor sapi bakalan tercatat 339.508 ekor, sapi siap potong 113.102 ekor, dan impor daging beku 55 ribu ton.

Hingga Juli 2014, impor daging beku mencapai 57.139 ton. Sehingga akhir tahun nanti, impor daging sapi akan terus bertambah.

Teguh menilai, pemerintah baru akan memiliki tugas berat dengan belajar dari kegagalan pemerintah saat ini. Angka sensus sapi nasional 2013 sebanyak 12.500 juta ekor harus menjadi modal dasar pemerintah baru untuk menyusun program-programnya.

Salah satu yang perlu mendapat prioritas pemerintah ke depan adalah memberikan insetif bagi peternakan rakyat. Langkah itu dinilai lebih realistis ketimbang rencana pemerintah saat ini mengimpor sapi betina indukan.

“Berapa sih (kemampuan) pemerintah megimpor indukan? Padahal setiap hari ribuan sapi betina produktif. Bunting dipotong,” papar Teguh.

Pemerintah pusat dan Kementerian Dalam Negeri,imbuh Teguh, perlu melakukan pencegahan pemotongan sapi betina produktif. Pasalnya, populasi sapi 12.500 juta ekor sesuai sensus 2013 itu adalah aset nasional.

Pemerintah diminta mengambil langkah yang tepat. Sebab, jika impor terlalu ditekan maka akan terjadi pengurasan populasi sapi dalam negeri, terutama sapi betina produktif, seperti yang terjadi selama beberapa tahun terakhir.

“Sedangkan jika pemerintah membuka keran impor terlalu besar, maka yang tertekan adalah peternak karena harga akan jatuh,” pungkasnya

Kini tinggal menunggu gebrakan pemerintahan baru, yang bakal dikukuhkan 20 Oktober mendatang. Sehingga, jalan pintas impor sapi hidup dari Australia dan Selandia Baru, bisa dihindari. Apalagi kita punya pengalaman buruk, berbau KKN dalam impor daging sapi, yang melibatkan sejumlah petinggi Partai Keadilan Sejahtera. Semoga saja.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.