Sabtu, 27 November 21

Sambut Ramadhan, Semarang Kembali Gelar Dugderan

Sambut Ramadhan, Semarang Kembali Gelar Dugderan

Semarang, Obsessionnews – Tradisi Dugderan, pertanda masuknya bulan Ramadhan kembali digelar di Kota Semarang. Ribuan warga tumpah ruah memadati jalan-jalan protokol, mulai depan gedung Balaikota, sampai ke arah pasar Yaik, tempat puncak acara berlangsung.

Acara dibuka langsung oleh Walikota Semarang, Hendrar Prihadi dengan menabuh bedug raksasa di halaman komplek gedung Pemerintah Kota Semarang, Sabtu (4/6/2016). Tabuhan disambut… bedug lain yang menandakan dimulainya Dugderan.

Hendi, sapaan sang Walikota memakai jas warna merah, nampak gagah bersanding dengan istri diatas kereta kuda. Mereka diarak menuju Masjid Kauman bersama rombongan pejabat lain yang menggunakan dokar ukuran lebih kecil.

Warga pun turut memeriahkan. Beberapa rombongan tampil unik sehingga menyedot perhatian. Salah satunya para peserta yang menggunakan sepeda rota satu, nampak berlenggak lenggok menyusuri jalanan. Yang menarik, dalam Dugderan kali ini ada rombongan pawai dari sekolah Nasrani yang turut serta menyemarakkan.

dugderan 22

Ratusan Kembang Manggar tak ayal mewarnai sepanjang jalan. Pawai mobil hias berbagai bentuk membuat suasana makin ceria. Kebanyak, peserta membawa arak-arakan Warak Ngendhog, binatang mitos asal kota Semarang. Namun ada juga yang menyulap kendaraan bak sebuah kapal.

Kirab budaya Dugderan memang telah menjadi tradisi dan selalu digelar sejak jaman Bupati Aryo Purbaningrat pada tahun 1891. Dugderan sendiri berarti “bedug” dan “der” yang berasal dari suara meriam atau petasan.

Diceritakan, pada masa Aryo Purbaningrat, tabuhan bedug dan suara letusan meriam menjadi pertanda masuknya tanggal 1 Ramadhan. Sama dengan sekarang, bedanya kali ini warga menggunakan petasan raksasa dan ditembakkan dari atas Masjid Agung Kauman.

Saat ditemui awak media di Masjid Kauman, Hendi mengatakan jika Pemerintah Kota Semarang sudah berusaha semaksimal mungkin, agar tradisi Dugderan bisa digelar sepanjang tahun.

“Jadi tradisi ini sudah hampir tiap tahun dilakukan, kami sudah berkomitmen bahwa dugderan ini harus dijaga dengan baik,” kata dia.

dugderan 23

Menurut Hendi, Pemkot Semarang sudah mempersiapkan acara ini jauh-jauh hari sehingga bisa terlaksana sebagaimana mestinya. Ke depan, ia berharap Dugderan bisa terus berkembang lebih baik.

“Dari perencanaan posting anggarannya kemudian keterlibatan masyarakat juga terus kita kembangkan,” paparnya.

“Sore ini kita akan ke Masjid Agung Jawa Tengah untuk mewartakan hal ini kepada pak gubernur, agar pak Gubernur kemudian bisa menyiarkan lebih luas ke seantero Jawa Tengah,” sambung dia.

Hendi lantas melanjutkan perjalanan ke MAJT sebagai titik akhir berakhirnya Dugderan. Warga yang tidak sempat mengikuti prosesi puncak, ikut bersama rombongan untuk melihat berakhirnya festival.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.